Respon Terhadap Pemberitaan Aksi Mayday


Dari kanal instagram kolektifa

Mei 2018 sebuah hari di mana dunia sedang merayakan kebebasan beraspirasi bagi kelas pekerja. Setiap 1 Mei, di Indonesia (yang menjadi hari libur) hampir seluruh elemen pekerja seperti buruh dari berbagai profesi dan alat kerja mereka, pekerja lepas sampai institusi turun ke jalan untuk memberikan informasi dan menuntut agar elit pemerintahan dan perusahaan memenuhi aspirasi mereka. Kenaikan upah, berita tiap tahun mengabarkan hal tersebut, memang benar itu tuntutan mereka, tapi tidak hanya itu yang digaungkan sekian juta buruh yang turun ke jalan di daerahnya masing – masing.

Tuntutan Kaum Buruh

Kenaikan upah menjadi salah satu tuntutan wajib yang selalu ada di setiap demo mayday. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab harga kebutuhan pokok, bahan bakar, mahar pendidikan dan kebutuhan lain selalu naik setiap tahun. Lantas apakah salah satu tuntutan mereka berlebihan? Saya rasa tidak, mereka juga memiliki keluarga untuk dihidupi. Namun muncul persoalan tuntutan kenaikan upah yang terlampau tinggi dikhawatirkan akan menyebabkan perusahaan bangkrut. Teorinya sebagai berikut, jika upah terlalu tinggi maka pendapatan perusahaan akan menurun maka dikhawatirkan jika kondisi tersebut berlangsung menahun maka perusahaan akan gulung tikar. Namun sekali lagi jika jumlah upah tidak sesuai dengan harga yang harus dibayarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari maka konflik sosial di kasta bawah yang terjadi.

tidak sekedar itu, meski kami pekerja, kami memiliki beragam latar belakang dan keterampilan yang membuat kami berpandangan luas dan tidak hanya menuntut kenaikan upah

Kesejahteraan buruh tidak semata – mata menjadi tanggung jawab perusahaan, pemerintah dan bahkan buruh melalui serikat pekerja juga ikut andil. Posisi pemerintah dalam hal ini sebagai pemenuhan kesejahteraan di luar tanggung jawab perusahaan seperti mengatur harga bahan pokok, bahan bakar, dana pendidikan, tempat tinggal, jaminan kesehatan keluarga, akses transportasi, keamanan dan lain sebagainya. Lantas apakah itu sudah optimal? jika itu sudah terpenuhi tentu tuntutan kenaikan upah bisa direpresi dan tidak terjadi berlarut – larut. Kondisi yang tengah terjadi di negeri ini sangat tidak berpihak pada kelas bawah. Penggusuran yang terjadi di Yogyakarta, Bandung, Sumba lalu pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan lingkungan, jaminan kesehatan, dan subsidi yang tidak tepat sasaran membuat berbagai kalangan mempertanyakan di mana letak pemerintah dalam mensejahterakan warganya. Secara langsung itu pula yang dialami oleh para buruh. Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah warga Tamansari Bandung yang rumahnya digusur oleh aparat. Disaat mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan, mereka juga dihadapkan dengan alat berat yang mengancam tempat tinggalnya.

Dari sini dapat dilihat bahwa aksi massa untuk memperingati mayday tidak hanya soal kenaikan upah. Di Bandung, aksi berlangsung mengusung isu penggusuran dan itu pula yang terjadi di Yogyakarta. Di Jakarta sebagai ibukota sekaligus basis aksi paling besar juga mengusung isu – isu yang beragam dari dan oleh serikat pekerja dari berbagai latar belakang. Meliputi pemenuhan kesejahteraan karyawan saat bekerja, kekerasan seksual yang dialami pekerja wanita, akses transportasi yang membuat pekerja tidak memiliki waktu istirahat, beban kerja yang berlebihan, pekerja kontrak dan masih banyak lagi. Bahkan di Malang satpol PP dan Dishub juga ikut turun ke jalan untuk menuntut kelayakan kerja mereka. Sudahkah anda membaca satu demi satu apa yang mereka tulis di spanduk orasi mereka?

kami manusia bukan tenaga yang layak diperjualbelikan

Keberagaman tuntutan buruh tidak terlepas dari sejarah hadirnya peringatan buruh sedunia. Pada awal terjadinya demo yang dilakukan di Amerika Serikat sekitaran tahun 1886, para buruh mengusung isu pengurangan jam kerja yang diberlakukan kepada mereka. Jam kerja yang dikehendaki yakni 8 jam untuk kerja, 8 jam untuk istirahat serta 8 jam kerja untuk rekreasi. Faktanya tuntutan tersebut menjadi peraturan yang diberlakukan sampai sekarang di hampir seluruh perusahaan di dunia. Seiring berjalannya waktu keberagaman tuntutan pun berkembang sesuai dengan kondisi yang sedang berjalan di masing – masing daerah di belahan dunia.

Jika dulu hanya tuntutan kenaikan upah untuk para buruh yang upahnya tidak manusiawi, kini tuntutan tersebut berkembang. Lalu bagaimana dengan para buruh yang fasilitas dan upahnya memadai? Masih banyak dari mereka yang tetap turun ke jalan untuk turut menyuarakan suara rekan – rekannya. Orasi dan aksi yang dilakukan pun juga berkembang mengikuti tren yang ada. Para pekerja desain dan kreatif mendesain atribut aksi mereka dengan unik, para pekerja musik membawa satu set alat musiknya untuk memeriahkan mayday, lalu buruh yang lain melakukan aksi teatrikal dan masih banyak lagi.

Anarkisme dalam Mayday

Dalam aksi massa yang besar tentu sangat kecil sekali kemungkinan untuk mencegah tindakan anarki, apalagi dalam kondisi lawan massa pada saat itu tidak kooperatif atau pejabat yang berwenang sama sekali tidak menggubris apa yang diinginkan massa. Tentunya hal ini terjadi tidak dalam aksi mayday saja. Peringatan 1 Mei diikuti oleh puluhan serikat buruh dari berbagai latar belakang selain itu juga diikuti dan didukung oleh lembaga formal maupun non formal yang mendukung buruh itu sendiri seperti, Kontras, LBH, himpunan mahasiswa sampai partai politik sekalipun.

Berbagai latar belakang ini kemudian disusul dengan ideologi yang dianut oleh masing – masing kelompok. Tentunya semua bebas untuk menyampaikan aspirasinya dengan caranya masing – masing. Namun tidak sedikit pula serikat dan para kelompok underbow yang mendukung pergerakan buruh menyampaikannya dengan cara – cara yang radikal. Kenapa seperti itu? Kembali lagi ke ideologi. Bagi saya ideologi terumpamakan seperti sebuah agama, apa yang anda yakini maka itu yang anda percaya dan lakukan. Lalu apakah menyampaikan pendapat dengan cara tersebut diperbolehkan? Secara perundangan adalah ya, karena negara melindungi setiap warganya untuk menyampaikan pendapat.

Yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah pendapat atau lebih tepat disebut aspirasi tersebut telah menahun dan tidak digubris oleh yang berwenang. Kondisi tersebut menjadi pemicu terjadinya tindakan anarki. Mungkin yang bisa menjadi contoh adalah polemik pembangunan NYIA di Yogyakarta atau pemerintah yang tidak tanggap menyerap aspirasi pendemo. Menurut berita yang telah beredar terdapat pos polisi yang dirusak oleh massa yang telah panas. Hal ini buntut daripada polemik NYIA dan lain sebagainya yang sangat tidak berpihak kepada rakyat kelas bawah. Jika aparat kebakaran jenggot dan menulis di semua media bahwa tindakan pengrusakan pos polisi adalah amoral, maka bagaimana tindakan aparat dan korporat terhadap pengrusakan puluhan hektar lahan hijau produktif milik rakyat atas dasar pembangunan demi kesejahteraan namun cacat hukum?

Dilihat dari institusi, kami membenci acab sebagai sekelompok aparat yang melindungi pemilik modal dan menyakiti rakyat dengan senjata dan alat pukul yang dibeli dari uang rakyat. Namun dilihat dari individu, kami percaya bahwa di hati kecil mereka masih tersimpan jiwa jiwa kemanusiaan.

Iklan

Rakyat Berdaulat/Konglomerat Berdaulat


Di penghujung 2016 negeri ini diterpa banyak sekali cobaan. Persaingan pemilihan calon DKI 1 yang berujung tersulutnya isu SARA menjadi sebuah drama yang entah kapan selesainya. Mayoritas menendang minoritas, klasik sekali. Korbannya adalah masyarakat, bukan yang hanya di DKI saja tapi hampir dari seluruh penjuru negeri ini. Perlahan isu berhembus bergeser jadi saling mengharamkan. Haram ini haram itu, yang semula tujuannya jelas (jelas?) Kini semakin kemana-mana. Sasarannya tidak tanggung-tanggung masyarakat yang berbeda keyakinan. Meskipun sudah diingatkan, disindir secara halus dan “nylekit” seolah tak jadi soal. Bahkan yang seimanpun juga kena. Berbeda pandangan langsung ditatap sinis dan diteriaki bid’ah. Oh negeriku, bukankah semboyan kita masih Bhinneka Tunggal Ika?

Beberapa waktu lalu densus kembali melakukan aksinya. Penyergapan yang dilakukannya di Bekasi membuahkan hasil. Disitanya panci presto yang didalamnya terdapat bom dan sekarung paku dan gotri rencananya akan diledakkan di Istana adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Di negara lain aksi serupa bahkan telah merenggut banyak orang. Namun bagi sebagian masyarakat kita kejadian ini tidak begitu menarik. “Ini cuma pengalihan isu”, katanya. Pengalihan isu dari kasus SARA yang lagi santer. Masyarakat negeri ini selalu saja begitu.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga sedang terjadi kasus yang seru, tapi sepertinya layar kaca masih menganggap kasus DKI yang bisa menarik minat masyarakat. Sebutlah saja kasus semen di daerah kendeng. Semua petani disana menolak, mereka mau kerja apa jika daerah mereka dijadikan lahan mengeruk semen. Tapi sepertinya kepala daerah punya kepala batu. Tuntutan para pejuang pangan garis depan ini belum digubris walaupun pengadilan tertinggi (di negeri ini) telah mencabut. Ada pula di Yogyakarta daerah istimewa. Konon “Yugjo” dahulu merupakan kerajaan yang dipimpin oleh kesultanan. Sampai kinipun juga begitu, sampai-sampai undang-undangnya pun dicap “istimewa”. Namun cap tersebut menjadi prahara bagi masyarakat Kulonprogo dan Parangkusumo sebab tanahnya diusik mau dijadikan bandara dan wisata bagi para jajaran keraton. Sekali lagi apa bandara bisa mengenyangkan perut? 

Negeri ini menganut demokrasi dimana rakyat berperan dalam pelaksanaan pemerintahan dan politik melalui wakil rakyat. Berarti rakyat juga ikut memutuskan nasibnya, nasib daerahnya dan nasib pemimpinnya. Namun hal ini belum sepenuhnya terwujud. Para baron menggunakan kekuasaanya untuk dirinya dan keluarganya. Pada akhirnya sebagian rakyat marah dan mengangap demokrasi ini sudah busuk dan layak untuk diganti. Sebenarnya yang harus berdaulat rakyat atau konglomerat? 

Balada Jembatan Proklamator


Postingan saya tertanggal 28/2/2016

Jembatan Soekarno-Hatta Kota Malang

Jembatan Soekarno-Hatta Kota Malang

Jembatan Soekarno-Hatta atau yang biasa disebut soehat berada di Kota Malang, dilihat dari bentuknya yang tampak difoto tersebut terlihat semakin melengkung ke bawah. Isu yang santer beredar dari 4 tahun lalu mengatakan bahwa jembatan tsb tidak layak lagi untuk digunakan dan dianggap membahayakan bagi pengguna jalan. Saya teringat tanggapan paman saya 4 tahun lalu mengenai jembatan ini. Beliau mengatakan, sudah lama isu tersebut beredar. Dan sejauh ini, jembatan tersebut masih kokoh berdiri di tengah kota. Meskipun jembatan tersebut terlihat melengkung, belum ada berita resmi mengenai ketidaklayakan jembatan yang menjadi penghubung di pusat kota ini.

Foto tersebut belum lama bererdar di jejaring sosial dan menghebohkan warga kota terutama warga yang melewati jembatan tersebut setiap harinya. Namun hingga tulisan ini dibuat belum ada yang bertanggungjawab siapa yang mempublikasikan foto tersebut. Anemo warga pun kembali menyerebak, tuntutan kepada pemerintah kota pun semakin gencar melalui sosial media, dari yang awam masalah sampai yang benar – benar mengkritisi polemik ini,

Seperti halnya dengan menara saidah di Jakarta. Di isukan menara tersebut tidak memenuhi standar konstruksi yang tepat (bangunan tsb (dianggap) miring). Imbasnya, gedung tsb tidak digunakan dari awal gedung tsb berdiri. Hingga kini gedung tsb tidak roboh seperti yang sebelumnya diisukan miring. Sama dengan jembatan soehat, menara pun menjadi keresahan tersendiri bagi warga disekitarnya karena para warga pun khawatir juka sewaktu – waktu menara tersebut roboh.

Menindaklanjuti polemik tersebut, pemerintah kota kemudian melakukan klarifikasi terkait foto jembatan yang melengkung tersebut. Tim memfoto jembatan tersebut dengan sudut pandang yang kurang lebih sama dengan sudut pandang foto pertama diambil. Hasilnya, tim tidak menemukan hasil foto yang sama dengan foto pertama diambil atau bisa dikatakan foto tersebut adalah hoax. kesimpulan yang saya ambil dari polemik diatas adalah jangan terburu termakan isu publik selama para ahli belum meninjau dan mengeluarkan berita resmi dalam hal ini adalah kondisi jembnatan soehat.

Bisa jadi isu – isu tersebut memang diciptakan oknum untuk beberapa kepentingan. Selalu ada yang berteriak paling kencang ketika isu santer beredar, selalu ada provakator di belakangnya. Well ini pandangan subyektif saya selaku penulis. Bagaimana dengan anda ?