Bangunlah Kata – Kata



Dua hari lalu mungkin bisa disebut harinya Wiji Thukul. Dua hari saya menyaksikan dan mendengarkan orang – orang tentang kisah bagaimana seorang penyair melawan tirani yang pernah menguasai negeri ini. Tanggal dua tempo lalu pada akhirnya Istirahatlah Kata – Kata diputar di Malang. Dua jempol untuk kawan – kawan pegiat film dan lainnya yang berhasil membawa film ini melalui pengumpulan anemo kawan – kawan yang ingin sekali nonton film tersebut. sebenarnya film ini premiere pada tanggal 19 januari, lucunya Malang bukan dari salahsatu dari sekian kota yang menayangkannya. Terlihat aneh memang, padahal di Malang hegemoni aktivisme terbilang cukup tinggi, bukan hanya belakangan ini namun jauh sebelum itu.

Sedikit cerita, kemarin saya menonton film Istrihatlah Kata – kata di salah satu bioskop di Kota Malang. Seperti yang telah saya jelaskan diatas, maka anemo masyarakat yang datang sangat banyak. Saya bertemu dengan wajah – wajah yang tak lagi asing. Rekan – rekan aktivis mulai dari pegiat seni, film, sastra dan lain sebagainya. Mereka datang untuk melihat mengingat kembali dan meneladani sosok mas Widji Thukul. Karena bukan yang pertama kali diputar, sudah banyak spoiler di dunia maya bahkan kritikan. Ada yang bilang film ini terlalu monoton, film ini tidak mengangkat heroiknya tokoh utama, macam – macam.


Benar saja, setelah saya menonton saya mengiyakan komentar yang demikian. Jika anda pernah menonton film yang berjudul senyap, menurut saya film tersebut lebih monoton dari ini. Minimnya dialog, banyaknya monolog (adalah puisi Wiji Thukul yang dibacakan) dan video statis dapat dijumpai di film Istirahatlah kata – kata. Tak juga dapat dipungkiri, saya pun sesekali menguap ketika menontonnya. Namun andaikan seorang sutradara membuat film tentang Muhammad Ali apakah lantas dalam film tersebut mutlak harus ada adegan tinju meninju diatas ring? Menurut saya sang sutradara telah berhasil menceritakan sisi lain dari kehidupan mas Wiji Thukul yang dirasa sangat heroik sampai dirinya kemudian hilang tak tahu rimbanya.

Di film tersebut sama sekali tak ada adegan barisan pendemo berhadapan dengan satu kompi pasukan bersepatu laras di jalan atau aksi dorong mendorong pagar sampai aksi bakar ban di jalan. Film tersebut mengisahkan pelarian dari sosok penyair. Wiji Thukul lari ke Pontianak karena dianggap sebagai dalang dari aksi kudatuli dan pembentukan PRD. Meninggalkan anak dan istrinya Wiji Thukul dibantu oleh rekan – rekannya sampai dirinya memastikan bahwa dirinya aman di sana. Wiji Thukul menghabiskan waktunya dengan menulis dan bekerja sambilan di Pontianak. Selang beberapa waktu dirinya pulang ke Solo untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Mungkin hanya itu garis besar dari film tersebut. sangat sederhana namun mengisahkan sisi lain dari Wiji Thukul, dihiasi puisi – puisinya yang tanpa metafora dan sangat tajam bagi rezim orba.


Di hari berikutnya saya berkesempatan datang di Sarasehan Budaya Wiji Thukul. Mendatangkan mas Gunawan Maryanto (pemeran Wiji thukul), pak Utomo (ayah Bimo Petrus), mas Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) dan masih banyak. Saya pikir ini kesempatan untuk berdiskusi bagaimana sosok dijadikan tersebut hingga layak diingat sampai sekarang. Barangkali pula ini bisa menjadi gambaran bagaimana bobroknya rezim kala itu. Diskusi tersebut bertempat di warung kali metro yang mana merupakan markas dari Malang Corruption Watch. Saya sedikit kesusahan menemukannya, maklum belum pernah berkunjung kesana. Diskusi tersebut dimulai dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00. Sampai disana, acara sudah mulai dan banyak sekali yang sudah datang, diiringi hujan yang turun begitu deras.

Di panggung sudah Nampak moderator, mas Gunawan, mbak Puput dan mbak Melati, beliau – beliau sedang bertukar pendapat terkait dengan film Istirahatlah Kata – Kata. Menurut mereka, film ini merupakan pengingat bagi pemerintah bahwa kasus hilangnya 13 aktivis masih belum selesai sampai sekarang. Selain itu ini juga sebagai pemantik bahwa perjuangan belum usai, penindasan yang sesungguhnya pada dewasa ini ada di sekitar kita. Seperti sengketa tanah antara petani dan perusahaan, dan juga kasus – kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Jogja dan Papua. Sejauh ini, meskipun demokrasi telah berhasil mengantikan orba, namun masih banyak pencekelan, masih banyak pembredelan yang dilakukan oleh aparat walau tidak sesering pada saat orba.

Dalam sesi tanya jawab berbagai tanggapan dan pertanyaan banyak dilontarkan oleh para audience yang hadir. Mas Yani sebagai salah satu yang maju mengatakan, bahwa dengan adanya film ini teman – teman yang memperjuangkan HAM harus melanjutkan perjuangan karena film ini berhasil menarik massa yang begitu banyak dan mengenalkan sosok Wiji Thukul pada generasi sekarang. Yang menarik dari film Istirahatlah Kata – Kata adalah film ini berbeda dengan film yang sedang naik daun saat ini. Anggaplah film warkop yang sedang berada di bioskop sekarang, namun kenapa di film tersebut tidak ada intel sedangkan di film ini didatangi intel padahal keduanya sama – sama lulus sensor. Hal ini menandakan bahwa pemerintah masih takut, bisa juga dikatakan bahkan masih trauma pada aksi – aksi di era 98. Dengan adanya hal ini, menurut mas Yani hendaknya kita yang terpanggil dalam gerakan ini jangan merasa terawasi, karena dirinya merasakan hal tersebut. Pengalamannya dalam membuat dan mengadakan nobar pernah sampai dicari oleh intel karena dianggap berbahaya.

Berikutnya ada mas Leon, menurutnya kita patut berterimakasih pada rekan – rekan aktivis pejuang prodemokrasi di era 98 karena berkat jasanya kita bisa lebih leluasa untuk berpendapat dan berkumpul untuk berdiskusi. Lalu, apakah rezim sekarang sudah tidak lagi takut dengan kata – kata? Atau kata – kata mana yang boleh bersuara dan kata – kata yang mana yang dibungkam. Beruntungnya sekarang kata – kata sedikit lebih leluasa meskipun masih ada saja yang dibungkam walaupun tak sebanyak di zaman pak Harto berkuasa. Sebagai contoh beberapa waktu lalu rekan – rekan berdemo didepan istana menolak mengenai undang – undang pengupahan, namun rekan – rekan direpresi oleh aparat, beberapa ada yang ditangkap, mobil yang dipakaipun dipecah. Kejadian ini terpaksa terjadi dengan alasan bahwa demo tersebut melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Menurut mas Leon kita masih belum mencapai demokrasi sejati yang diimpikan oleh mas Wiji Thukul dan kawan – kawan di eranya. Jika diibaratkan, kita berada dalam penjara yang lebih besar dan dalam belenggu yang lebih panjang seolah – olah kita bebas namun suatu saat kita akan sadar bahwa kita terbatas.

Film Istirahatlah kata – kata masih belum cukup, kita perlu bergerak melawan penindasan yang ada di sekitar kita. Melalui kesempatan berbicaranya mas Leo mengajak rekan – rekan untuk mengajak bergabung dalam komite aksi kamisan yang berada di Malang untuk beriskusi dan saling sharing mengenai persoalan yan ada disekitar dan saling bersolidaritas untuk sesama.

Hal menarik disampaikan oleh mbak Puput menanggapi tanggapan mas leon, menurutnya jika rezim ini masih takut kata – kata maka menurut mbak Puput justru rezim ini jua menjadi penyair dalam mengisi demokrasi. Kata – kata berupa pemberitaan digoreng sedemikan rupa lalu disajikan pada masyarakat. Manipulasi dan pemilihan kata oleh rezim ini menjadikan masyarakat yang tidak tahu menjadi semakin bingung siapa yang benar. Bahkan melalui sosial media pemilik rezim ini juga berperan besar menggaungkan nadanya untuk mengisi lagu yang sedang berjalan. Yang terbaru adalah pemerintah berencana menggunakan barcode untuk memverivikasi tautan yang kredibel atau tidak. Hal ini sangatlah subjektif untuk menentukan tautan tersebut hoax atau tidak.

Dalam dua hari tersebut yang bisa saya simpulkan adalah film Istirahatlah Kata – Kata adalah usaha untuk mengenalkan sosok wiji Thukul kepada generasi sekarang sekaligus sebagai bentuk teguran kepada pemerintah bahwa kasusnya belum selesai. Lalu apa yang harus kita lakukan selepas kita telah menonton film tersebut? Adalah wajib bagi kalian dan saya untuk terus melawan penindasan yang ada disekitar kita. Jika dulu pemerintah takut terhadap kata – kata, maka sekarang kata – kata juga bisa dimainkan oleh pemerintah melalui dunia maya dan pertelevisian. Kita harus tetap melawan dengan cara masing – masing, meskipun dengan bersama akan lebih baik seperti yang telah diatawarkan oleh mas Leon bahwa terdapat komite aksi kamisan di Kota Malang dan juga forum diskusi tentang film dan buku yang harus diramaikan kembali selepas sarasehan ini. Meskipun membentuk seperti Wiji Thukul atau Munir itu sulit, namun bukan berarti kita mengurungkan niat untuk berusaha seperti mereka. Suatu saat nanti pasti mereka semakin berlipat ganda.

Advertisements

Balada Jembatan Proklamator


Postingan saya tertanggal 28/2/2016

Jembatan Soekarno-Hatta Kota Malang

Jembatan Soekarno-Hatta Kota Malang

Jembatan Soekarno-Hatta atau yang biasa disebut soehat berada di Kota Malang, dilihat dari bentuknya yang tampak difoto tersebut terlihat semakin melengkung ke bawah. Isu yang santer beredar dari 4 tahun lalu mengatakan bahwa jembatan tsb tidak layak lagi untuk digunakan dan dianggap membahayakan bagi pengguna jalan. Saya teringat tanggapan paman saya 4 tahun lalu mengenai jembatan ini. Beliau mengatakan, sudah lama isu tersebut beredar. Dan sejauh ini, jembatan tersebut masih kokoh berdiri di tengah kota. Meskipun jembatan tersebut terlihat melengkung, belum ada berita resmi mengenai ketidaklayakan jembatan yang menjadi penghubung di pusat kota ini.

Foto tersebut belum lama bererdar di jejaring sosial dan menghebohkan warga kota terutama warga yang melewati jembatan tersebut setiap harinya. Namun hingga tulisan ini dibuat belum ada yang bertanggungjawab siapa yang mempublikasikan foto tersebut. Anemo warga pun kembali menyerebak, tuntutan kepada pemerintah kota pun semakin gencar melalui sosial media, dari yang awam masalah sampai yang benar – benar mengkritisi polemik ini,

Seperti halnya dengan menara saidah di Jakarta. Di isukan menara tersebut tidak memenuhi standar konstruksi yang tepat (bangunan tsb (dianggap) miring). Imbasnya, gedung tsb tidak digunakan dari awal gedung tsb berdiri. Hingga kini gedung tsb tidak roboh seperti yang sebelumnya diisukan miring. Sama dengan jembatan soehat, menara pun menjadi keresahan tersendiri bagi warga disekitarnya karena para warga pun khawatir juka sewaktu – waktu menara tersebut roboh.

Menindaklanjuti polemik tersebut, pemerintah kota kemudian melakukan klarifikasi terkait foto jembatan yang melengkung tersebut. Tim memfoto jembatan tersebut dengan sudut pandang yang kurang lebih sama dengan sudut pandang foto pertama diambil. Hasilnya, tim tidak menemukan hasil foto yang sama dengan foto pertama diambil atau bisa dikatakan foto tersebut adalah hoax. kesimpulan yang saya ambil dari polemik diatas adalah jangan terburu termakan isu publik selama para ahli belum meninjau dan mengeluarkan berita resmi dalam hal ini adalah kondisi jembnatan soehat.

Bisa jadi isu – isu tersebut memang diciptakan oknum untuk beberapa kepentingan. Selalu ada yang berteriak paling kencang ketika isu santer beredar, selalu ada provakator di belakangnya. Well ini pandangan subyektif saya selaku penulis. Bagaimana dengan anda ?