Zaman Peralihan


Penulis : Soe Hok gie
Penerbit : mata bangsa

Soe hidup di zaman dimana negeri ini masih seumur jagung. Bung Karno dan kawan – kawannya sedang memperjuangkan kedaulatan Indonesia, namun Soe banyak melihat hal yang berbeda. Lahir dari seorang penulis, Soe kecil gemar sekali membaca buku. Kegandrungannya menikmati buku membuatnya menjadi seorang yang kritis, bahkan dirinya kritis di saat anak sebayanya masih bermain – main. Berlanjut menempuh pendidikan tinggi, Soe makin menunjukkan kekritisannya kepada pemerintah. Mulut dan penanya yang tajam membuat dirinya menjadi bahan omongan di sekitaran almamaternya. Pun juga tulisan – tulisan yang ditulis di media untuk pemerintah dan kampusnya menjadi buah omongan. Tak jarang Soe kerap mendapatkan ancaman karena tulisannya mengancam sebagian golongan, namun adapula yang mengajak Soe untuk bergabung dalam pergerakan – pergerakan untuk menghantam pemerintahan. Sejarah mencatat Soe tidak pernah secara resmi bergabung dalam pergerakan atau aktivisme di eranya, namun Soe dikenal dekat berbagai kalangan, gagasan dan inisiasinya dipakai oleh pergerakan mahasiswa yang sepemahaman dengan dirinya.

Zaman peralihan merupakan kumpulan tulisan yang dibuat Soe dan dicetak di berbagai media zaman itu. kumpulan tulisannya seputar buruknya idelaisme mahasiswa, bobroknya Universitas Indonesia, dan rezim baik orla maupun orba yang diisi oleh orang – orang tanpa integritas dimuat dan dibaca oleh semua orang dan menginspirasi bagi sebagian orang. Agaknya beberapa dari kumpulan tulisan dalam Zaman Peralihan ini masih relevan untuk mengkritik rezim dan kaum milenial saat ini. Saya sendiri merasa terpecut di beberapa bab dalam buku ini, tulisannya begitu tajam, seolah berusaha menyingkirkan kenistaan yang telah lama ada.

Buku ini terbagi menjadi 4 bagian besar yakni : masalah kebangsaan, masalah kemahasiswaan, masalah kemanusiaan, dan catatan turis terpelajar. Dengan membacanya, saya mencoba menebak apa yang ada di pikiran Soe selama dirinya hidup. Soe merupakan sosok yang keras terhadap rezim Soekarno di tahun 65 an. Saat itu banyak terjadi pergolakan disamping tragedi yang tentu kita kenal sampai sekarang, gestapu. Soe melihat banyak ketimpangan sosial yang terjadi antara golongan masyarakat dan para abdi negara. Dari kacamatanya, Soekarno merupakan sosok berjouis yang sibuk dengan kemewahan, pun pula diikuti oleh orang – orang dibawahnya. RI 1 tersebut sibuk membangun istana, beristri banyak dan para orang – orangnya sibuk memperkaya diri dan bepergian ke luar negeri. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat saat itu. Harga sembako dan bahan bakar yang terlampau tinggi, lebih – lebih pasca gestapu memicu terjadinya aksi massa. Demonstrasi besar – besaran bisa dikatakan dipicu oleh mahasiswa UI saat itu, dan Soe adalah salah satunya. Seputar demontrasi tersebut menuntut adanya penurunan sembako dan bahan bakar, perombakan besar – besaran kabinet dwikora dan bubarkan PKI. Memang pada saat itu massa rakyat sudah terlanjur marah dengan partai yang berkiblat pada Tiongkok. Demontrasi besar – besaran tersebut menjadi salah satu yang turut andil dalam pelengseran Soekarno yang dianggap tidak lagi memiliki kredibilitas dan pada akhirnya beliau pun lengser. Setelah orde baru berkuasa para alumni dari demontrasi besar – besaran rupa – rupanya mendapat jatah kursi di Senayan. Sebagian kawan Soe menyambut tawaran manis tersebut, dan hal tersebut memicu Soe untuk mengkritiknya.

Di dalam kampus sendiri Soe melihat banyak “kebopengan” yang terjadi dalam UI. seputar polemik mahasiswa yang tak lagi memiliki idealisme, dosen – dosen yang tak memiliki integritas sampai harapan palsu yang diberikan perguruan tinggi kepada remaja – remaja yang memiliki cita – cita tinggi. Tulisan – tulisan Soe seputar hal – hal tersebut menuai kecaman di tempat kerjanya, yakni fakultas sastra UI. Menurut Soe, banyak korupsi yang terjadi dalam kampus saat itu dan musahil untuk tidak tercium, mulai dari anggaran acara dan alat ospek sampai hal yang lain. Soe juga mengkritik bagaimana dewan mahasiswa saat itu yang diisi oleh ormas – ormas mahasiswa seperti PMKRI GMNI HMI dan lain sebagainya. Senat – senat yang menyatakan dirinya murni malah dianggap sebagai pengacau kampus. Tentunya hal ini tak menjadi soal saat dewan mahasiswa “sehat”, namun pada kenyataannya tidak. Banyak kontrak politik yang timpang menurutnya.

Huru hara pasca gestapu membuat rezim melakukan pembersihan besar – besaran atas siapapun yang terlibat dalam PKI. Salah satu operasi yang disoroti Soe pada saat itu adalah seputar pembantaian yang ada di Bali. Di dalam operasi tersebut Soe menulis bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak bermoral. Pembantaian merupakan kata – kata yang paling pantas disematkan dalam peristiwa tersebut. Mereka yang dicap PKI atau dipaksa mengakui kalau dirinya PKI dihabisi. Menurut Soe banyak diantara para tahanan politik yang meminta untuk dibunuh secepatnya karena mereka tahu bahwa akhir hidup mereka adalah kematian.

Sebulan setelah gestapu keadaan di Bali berubah. Berbeda di Jakarta yang mana kaum nasionalis dan komunis makin terdesak, di Bali para petinggi dari dua poros tersebut sibuk saling tunjuk menunjuk untuk dijadikan sasaran pembinasahan PKI. Dalam buku ini, Soe mengatakan tokoh PNI bernama Wedagama mrnghasut rakyat bahwa membunuh PKI adalah dubenarkan Tuhan dan tidak akan disalahkan oleh hukum.

Akhir kata, buku ini menarik untuk dibaca para mahasiswa yang menginginkan perubahan. Dalam buku ini terdapat banyak sekali sejarah dan gagasan yang masih relevan jika dikaitkan dengan keadaan saat ini.

Advertisements

Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan


koleksi instagram arbain rambey

(Tulisan opini ini bertujuan untuk mengagitasi mahasiswa bahwa sebenarnya ada kegelisahan dalam kehidupan kampus)

Sebelumnya saya mau mengucapakan selamat hari buruh internasional untuk para buruh, karyawan, pekerja, pekarya atau apapun sebutannya. Dan tak lupa selamat hari pendidikan nasional untuk masyarakat Indonesia, untuk tenaga pendidik baik di kota maupun di pelosok nusantara.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kampus terutama warga fakultas saya yang kondisinya kian ironi menurut pandangan pribadi. Jika menilik dari judul yang saya buat, saya bermaksud mengupas bagaimana mahasiswa yang seharusnya menjadi pelopor pemikiran kritis untuk masyarakat dan pemerintah justru menjadi buruh dalam kampus sendiri. Tanpa maksud merendahkan buruh, bagi saya buruh adalah kaum proletar yang menyumbang banyak aspek untuk negara. Namun, apakah mahasiswa telah tepat jika dirinya mem”buruh”kan diri kepada almamaternya?

Jika kita menyadari sejarah awal mula munculnya mahasiswa telah terjadi pada zaman kolonial. Kita harus berterima kasih kepada penjajah berkat politik balas budinya, sehingga masyarakat pribumi bisa menikmati salah satu “kemewahan” saat itu. Para kaum terpelajar itu kemudian menyadari mereka harus berbuat sesuatu itu negaranya yang pada akhirnya muncullah pergerakan – pergerakan yang dipelopori oleh Boedi Oetomo yang didirikan oleh dr. Soetomo. Pergerakan lainnya pun kemudian bermunculan, ideologi – ideologi dari luar negeri juga ikut mempengaruhi para pergerakan ini sampai pada akhirnya muncul tokoh – tokoh dari pemuda terpelajar yang bepikiran kritis dan berani untuk mempelopori rumusan cikal bakal berdirinya sebuah negara. Pasca kemerdekaan lagi – lagi mahasiswa menciptakan common enemynya yaitu pemerintah. Melalui TRITURA mahasiswa dari berbagai aliansi menuntut terciptanya keadilan bagi masyarakat dan pemerintahan yang sehat terbebas dari “memperkaya diri” dan PKI. Rekan – rekan yang membaca ini seyogianya membaca tulisan Soe Hok Gie yang terangkum dalam buku yang bertajuk Zaman Peralihan. Ketika orde baru berjalan, sebagian mahasiswa yang berjasa menggulingkan orde lama diberikan jatah kursi di legislatif oleh rezim. Polemikpun muncul (dan saya perlu menegaskan ini agar menjadi renungan untuk rekan – rekan sekalian) sebagian mahasiswa berpendapat untuk menciptakan pemerintahan yang sehat, adil dan mensejahterakan sudah tentu perlu turun langsung menjadi pemerintah itu sendiri, sebagian lain berpendapat tugas paling dasar sebagai mahasiswa adalah belajar dan menciptakan sebuah gagasan dan produk untuk negara namun tetap mempertahankan kekritisan sebagai stabilisator antara masyarakat dan pemerintah. Kelompok ini kemudian kembali ke kampusnya masing – masing untuk menempuh ilmu setelah orde lama berhasil ditumbangkan. Kalian lebih pilih mana seandainya kalian berada pada dua pilihan tersebut? Tahun 1998 mahasiswa kembali turun ke jalan untuk kembali menggulingkan rezim “jagal” yang berisi para pasukan doreng dan rekan – rekannya sendiri. Berbagai aliansi dari penjuru negeri berkumpul di Jakarta dan sejarah kembali tercipta, orde baru runtuh! reformasi tercipta meskipun banyak korban berjatuhan dari kalangan mahasiswa. Sudah menjadi kewajiban bagi kita bangsa mahasiswa untuk mengenang 13 kakak kita yang menjadi korban kedzaliman rezim “jagal” tersebut.

Lalu apa yang dirasakan mahasiswa kini. Para generasi milenial yang mengenakan jaket almamater apakah masih melanjutkan tradisi untuk ikut andil menciptakan stabilitas nasional? apakah karena kini sudah tidak ada lagi common enemy yang perlu dihantam? saya rasa tidak, jawaban ini melihat dari kondisi fakultas yang makin hari makin miris. Tentu tidak serta merta mereka bisa disalahkan seluruhnya, banyak faktor yang membuat rekan – rekan menjadi seperti itu. Sebelum saya meneruskan, tradisi yang saya maksud bukan hanya untuk turun ke jalan dan menghantam tirani, jauh lebih luas daripada itu tergantung konteks dan zamannya. Beberapa hal mengapa rekan – rekan menjadi seperti ini adalah banyak kebijakan pemerintah yang sebenarnya menjadi beban untuk masyarakat, seperti komersialisasi pendidikan. Undang – undang kita telah mengalami beberapa amandemen dan hasil gubahan tersebut sedikit banyak telah menyimpang dari UUD asli dan pancasila termasuk yang mengatur tenang pendidikan. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 berbunyi “cabang – cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak (termasuk pendidikan) dikuasai oleh negara” kemudian dilanjutkan “dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”. Pasal tersebut dengan jelas mengatakan sumber ekonomi Indonesia haruslah beradasarkan keadilan, terutama pendidikan. Namun amandemen tahun 2002 pasal 33 ayat 4 mengatakan sumber ekonomi penting tersebut dijalankan berdasarkan “efisiensi” berkeadilan. Kata “efisiensi” itulah yang membuat ketidak adilan muncul dalam pendidikan seolah segala sesuatu berdasarkan pada efisiensi. Alih – alih pasal tersebut digunakan sebagai pemerataan pendidikan di seluruh pelosok nusantra, justru malah membuat biaya pendidikan terlampau tinggi. Berapa biaya kuliah rekan – rekan selama 1 semester? beruntunglah bila kalian mendapatkan beasiswa, namun bagaimana yang tidak? Jika dikaitkan dengan pendapatan rata – rata masyarakat Indonesia, apakah masyarakat mampu untuk membayar biaya kuliah anaknya persemester yang menyentuh angka 7 juta rupiah persemester? (saya tidak berbicara tentang orang – orang yang mempunyai banyak uang)

Paradigma masyarakat dewasa ini masih menganggap taraf derajat keluarga bisa terangkat dari jenjang pendidikan. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi dengan harapan bisa menjadi orang sukses dan bekerja yang layak, namun apakah hal itu benar – benar terjadi? Saya sendiri menaruh banyak harapan ketika pertama kali merasakan atmosfer perkuliahan, namun apa yang terjadi selama 6 tahun kuliah ini? saya menyadari saya belum mendapatkan apa yang saya harapkan. Jika kita melihat fenomena peluang lowongan pekerjaan saat ini, berapa jumlah sarjana yang sedang menganggur? berapa jumlah sarjana yang bekerja namun tidak sesuai dengan fokus studinya? kemudian para sarjana mengatakan “daripada ndak dapat pekerjaan mas, rugi orang tua membayar kuliah kami”.  Para sarjana (yang untungnya) menjalani perkuliahan dengan kegiatan – kegiatan kritis dihadapkan pada dua pilihan, mempertahankan idealis atau berdamai dengan kenyataan.

Kembali pada mahasiswa, selain biaya perkuliahan yang tinggi sehingga rekan – rekan harus belajar dengan sungguh – sungguh untuk mengembalikan modal pendidikan kemudian selanjutnya bersaing pada lowongan pekerjaan sebenarnya ada masalah lain yaitu adalah kebijakan kampus. Sebagian kampus mengeluarkan kebijakan tentang batasan untuk menempuh kuliah, jika rekan – rekan menempuh kuliah melebihi batas waktu yang telah ditetukan oleh pihak kampus maka rekan – rekan harus angkat kaki dari kampus dan mencari kampus lain yang menerima. Kebjikakan ini sangatlah tidak berpihak pada mahasiswa. Selain harus membayar biaya pendidikan yang ekstrim, mahasiswa masih dibebani oleh tuntutan untuk menyelesaikan kontrak kuliahnya dengan waktu tertentu. apakah hal tersebut fair? tentu tidak bung.

Kampus juga memiliki aturan yang mengatur mahasiswa untuk berorganisasi seperti adanya BEM, dewan perwakilan mahasiswa, UKM dan himpunan – himpunan yang ada dalam jurusan. Organisasi yang saya sebutkan menjadi denyut nadi mahasiswa. Ormawa tersebut menjadi ujung tombak mahasiswa menyampaikan aspirasinya kepada pihak yang berwenang, bahkan sejarah mencatat ormawa juga menjadi alat untuk menghantam tirani pemerintahan. Alih – alih berfungsi seperti yang sebutkan, ormawa saat ini justru menjadi alat promosi kampus. BEM dan kroninya sibuk dengan acara hura – hura  yang menaikkan gengsi fakultasnya, sibuk dalam acara forum antar fakultas sejenis dan saling menunjukkan bahwa fakultasnyalah yang terbaik. Mahasiswa yang menjabat dalam ormawa dengan bangganya menganggungkan strata mereka, mereka yang lebih dekat dengan dekanat dan rektorat merasa lebih terhormat dari yang lain. Namun tidakkah rekan – rekan menyadari bahwa status anda membuat anda menjadi buruh dalam institusi pendidikan anda? Anda sibuk dengan hingar bingar untuk memajukan fakultas dengan mengorbankan waktu anda dan jerih payah anda dibayar dengan embel – embel “pernah menjabat sebagai…..” dalam portofolio anda. Rekan – rekan yang tergabung dalam ormawa saya ingat kembali, tugas anda adalah mengawal dan menyampaikan aspirasi rekan – rekan mahasiswa anda.  Yang menjadi korban adalah para mahasiswa yang tidak tergabung dalam ormawa, mereka tidak mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasinya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah korban tersebut menyadari bahwa mereka menjadi korban? jawabannya adalah tidak. “Boro – boro mas ngurusi ini itu, tugas kuliah kami sudah menguras pikiran” ucap adik tingkat saya.

Beberapa hal yang telah saya jelaskan inilah yang menjadi faktor terciptanya mahasiswa apatis di fakultas. Mahasiswa sibuk bersolek dan menunggangi kendaraan keluaran terbaru kemudian mencari pasangan, padahal sebagian dari mereka masih menggunakan uang keluarga. Mahasiswa sibuk dengan tugas kuliah berbatas waktu dan lupa akan label mereka menjadi seorang “mahasiswa”.Jika dibiarkan berlarut – larut tentu hal ini bisa mengancam stabilitas negara. Negara ini akan kehilangan para intelektual kritis dalam menanggapi berbagai polemik yang ada, dan rekan – rekan juga akan menghadapi masalah yang sama dengan kakak – kakak yang terlebih dahulu telah lulus yakni menganggur dan berdamai dengan kenyataan. Dalam tulisan ini saya tidak menyuruh rekan – rekan untuk turun ke jalan dan menggedor politik seperti mahasiswa di Sulawesi. Bukan pula menyuruh anda untuk berafilisasi dengan kepentingan politik seperti gabungan ormawa di Jakarta saat ini. Namun yang saya perlu tekankan, apakah rekan – rekan rela menjadi mesin uang untuk pendidikan tinggi? apakah rekan – rekan rela menjadi buruh dalam institusi pendidikan? atau rekan – rekan kemudian menyadari bahwa masih banyak kegelisahan yang sebenarnya kita rasakan dan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga. Jadilah mahasiswa yang progresif !

Jika tulisan ini bermanfaat menurut anda, sebarkan pada tiga rekan mahasiswa yang anda sayangi.

Hidup Mahasiswa !