Mahasiswa Dalam Pusaran Idealisme


2017 Indonesia dilanda badai integritas yang cukup dahsyat. Isu yang dilempar pada berbagai media membuat sebagian rakyat terpolarisasi pada dua kubu yang saling memusuhi. Hal ini merupakan sebuah ancaman yang mana lambat laun akan mengikis persatuan yang telah lama dibangun oleh pejuang – pejuang yang telah gugur. Selain itu banyak kebijakan dari pemerintah yang dinilai “pincang” dan memberatkan bagi rakyat, dalam bidang pendidikan salah satunya. Tulisan sebelumnya menyoroti bagaimana kebijakan pada pendidikan tinggi yang membuat mahasiswa tidak berkembang. Tentunya kebijakan tersebut sangat berdampak pada output mahasiswa yang notabene menjadi salah satu pelaku untuk mengkritik sistem dalam negara ini.

Sebagai seorang mahasiswa, peran dari anda sangat diperlukan untuk mengatasi polemik yang ada saat ini. Mahasiswa sebagai katalisator antara rakyat dan pemerintah harus mewujudkan kestabilan sosial dan pembentuk sudut pandang baru dalam kehidupan bermasyarakat untuk negara yang lebih baik. Namun muncul pertanyaan, apakah kehidupan dalam internal kemahasiswaan sudah sepenuhnya kondusif untuk menciptakan kehidupan bermsasyarakat yang diidamkan? Apakah hubungan mahasiswa dengan kampusnya sudah dalam keadaan “baik – baik saja” sehingga dapat membahas tentang politik Negara? Apakah mahasiswanya sendiri telah cukup mampu untuk memikirkan itu? Disini kita harus mengerti terlebih dahulu bagaimana kondisi mahasiswa sekarang, paling tidak mahasiswa dalam fakultas anda sendiri.

Sebenarnya tulisan ini untuk menjawab kritikan dari tulisan sebelumnya dengan tajuk “Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan”. Seperti yang telah diutarakan pada tulisan sebelumnya, mahasiswa kini (kebetulan dalam fakultas saya) telah terjebak dalam rutinitas yang diciptakan oleh para birokrat kampus. Mereka sibuk dengan tugas yang tiada henti, sibuk dengan segala presentasi tanpa (sebagian) kehadiran dosen dan di sisi lain mereka dibebankan pada biaya perkuliahan yang terlampau tinggi sekaligus batasan waktu untuk kuliah sehingga mereka tidak sempat untuk “menikmati kehidupan mahasiswa sebenarnya”. Selain itu ormawa yang ada di tubuh mahasiswa telah mengalami “pergeseran” fungsi dari yang seharusnya menjadi ujung tombak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi pada birokrat kampus menjadi alat promosi fakultas masing – masing. Bukan maksud untuk menyalahkan salah satu pihak, akan tetapi tolong sadarlah untuk mengevaluasi diri masing – masing. Jangan sampai kita terjebak dalam konflik horisontal.

Adalah salah besar ketika anda menganggap tulisan sebelumnya sebagai bentuk untuk sekedar mengkritik tanpa turun langsung. Justru dalam tulisanlah bentuk manifestasi dalam “turun langsung” versi saya. Dengan tulisan, anda dan kawan – kawan yang lain akan membaca kegelisahan yang sedang terjadi. Dengan tulisan, agitasi yang diciptakan untuk menyuarakan kegelisahan akan tersebar luas. Pun juga pada akhirnya memicu munculnya pertanyaan – pertanyaan dan kritikan sebagai justifikasi atau bahkan pembelaan dari mereka yang tidak setuju pada tulisan sebelumnya. Kurangnya wadah yang diciptakan oleh organisasi yang bertanggungjawab untuk hal ini bisa jadi faktor yang memicu mengapa tulisan ini dan sebelumnya terbit dalam blog. Selain itu, apakah komunikasi sehari – hari terkait dengan masalah keseharian mahasiswa apakah dijalankan?

Disini peran ormawa seperti BEM maupun senat mahasiswa sangat perlu ditingkatkan.  Kajian strategis yang ditawarkan pada salah satu penanggap tulisan sebelumnya dirasa sangat masuk akal untuk diaplikasikan. Nantinya kajian itu berguna untuk menyerap apa saja yang menjadi kegelisahan yang selama ini dirasakan dalam mahasiswa itu sendiri. Tentunya sebelum itu perlu adanya penyadaran bahwa sebenarnya mahasiswa sekalian tidak dalam keadaaan baik – baik saja.

Dalam momentum mahasiswa baru yang akan hadir dalam waktu dekat seyogianya menjadi patokan agar warga yang baru yang akan hadir menjadi mahasiswa yang kritis dan peka pada keresahan yang terjadi pada fakultasnya (kemudian disusul kepekaan pada polemik yang terjadi pada negara ini). Sebuah harapan sederhana untuk kehidupan mahasiswa yang lebih baik.

Advertisements

Kami Juga Mau Jadi Reforman


Udud dulu sam, selo (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Barangkali itu cuplikan mars mahasiswa yang masih saya ingat di kepala. Enam tahun lalu kala masih bergelar maba kakak-kakak senior dengan semangatnya mengenalkan mars ini kepada kami. Mars tersebut lebih terkesan doktrinasi, saya pun dengan bangganya sering nyanyi mars itu setiap mandi kala itu. Itu enam tahun lalu ya, saat ospek masih agak otoriter di kampus kami, kalau sekarang saya ragu sama angkatan 2013 ke atas, tahu atau tidak sama mars tersebut. Konon katanya mars tersebut lahir bersama aksi massa tahun 98 yang menuntut lengsernya Smilling General yang berkuasa selama 30 tahun lebih. Aksi tersebut tidak berlangsung sekejap, sekejap aksi sekejap dituruti. Aksi tersebut berlangsung lebih dari setahun dengan mengorbankan dari berbagai aspek. Kakak-kakak kami rela mengorbankan segalanya untuk menjalankan aksi tersebut, mereka rela bertaruh nyawa demi aksi tersebut.  Tiga belas dari mereka hilang sampai sekarang, entah mereka tiada atau mereka diculik belum ada yang tahu. Wallahualam.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini perlu saya ingatkan bahwa ini tulisan opini bebas dan cenderung berkelakar. Mengingat sekarang lagi usum tuntut-menuntut, lagi usum mengkafirken. Sumpah demi Tuhan, saya ini ndak kafir meskipun sembahyang masih bolong-bolong. Jadi jangan diambil hati kalau ndak setuju, cukup tulis komen mesra saja dibawah.

Seminggu lalu ada gelaran aksi kembali oleh massa yang mengatasnamakan  BEM seluruh Indonesia. Adik-adik eksekutif (barangkali sudah cukuplah saya 6tahun di kampus untuk memanggil mereka adik)  turun kejalan untuk menuntut pemerintah atas naiknya kebutuhan pokok masyarakat (STNK masuk kebutuhan pokok?). Media menyebutkan bahwa aksi tersebut bakal seperti aksi menuntut reformasi di tahun 98 lalu. Lah? Lakok bisa gitu ya? Saya pikir aksi yang terdahulu memang sangat beralasan. Siapa yang ndak risih dengan rezim yang penuh dengan segala pembatasan, siapa pula yang tidak jengah dengan KKN yang seolah dilegalkan dikalangan istana. Namun sekarang apa yang dituntut sudah segawat itu tarafnya? Saya rasa tidak demikian adik-adik sekalian. Presiden kita sekarang sudah jauh berbeda dengan presiden di era tahun 90an. Berbeda pola pikirnya, berbeda kebijakannya, lebih-lebih berbeda pula latar belakang keluarganya.

“Jiancuk, arek-arek iki lapo to demo barang? Gawe jeneng sing podo pisan karo demo ne ormas unto kui. Anggetmu negoro ngurusi wong demo thok ngono? Bajiguk tenan”, ujar teman saya kapan hari di kedai kopi.

Oke, mari coba dibahasa secara elek-elekan. Demo tersebut terjadi sebagai imbas dari naiknya BBM, harga cabai, biaya STNK dan lain- lain. Tidak semua BBM yang naik, premium dan solar tidak naik, dan yang naikpun memang subsidinya sudah dicabut sebelumnya jadi harganya fluktuatif tergantung harga minyak dunia. Pertamax, pertalite dan saudara kandung lainnya memang disediakan untuk kaum-kaum yang mampu, bukan untuk masyarakat bawah. Lagipula jika keberatan silahkan saja beli premium, pemerintah lo selo.

Saya rasa di Indonesia ada 2 hal yang meskipun sudah tahu naik tapi masih saja dibeli, rokok dan Lombok! ahay! Sebagian besar masyarakat Indonesia akan merasa aneh jika makanannya tak mengandung yang pedas-pedas. Jadi wajar saja jika ibu-ibu yang pergi berbelanja ke pasar sedikit cemberut karena harga cabai naik. Tapi secemberutnya ibu-ibu kita mereka masih mengusahakan cabai hadir disetiap masakannya meskipun porsinya dikurangi. Sebagai contoh ibu saya tempo hari diminta bapak saya untuk membuat sambal pada menu makan siang. Tidak berapa lama ibu saya datang sembari membawa cobek berisi sambal tomat yang bau terasinya aduhai nian. Pas si bapak mengicip sambalnya beliau pun protes kenapa sambalnya tak pedas seperti biasaya. Ibu saya pun marah-marah, masih untung ada cabainya daripada tidak pedas sama sekali. Untungnya ibu saya tak menyuruh saya demo menuntut harga cabai turun. Nah, ibu-ibu pun sepertinya paham kenapa harga cabai naik, lagipula sebelumnya beliau-beliau sudah pernah mendapat cobaan serupa dan mereka tak gentar menghadapinya. Maka lucu lah kiranya jika adik-adik ini menuntut harga salahsatu bahan pokok ini naik, lebih-lebih belakangan Lanina juga masih asik bermain di negeri ini.

Di Negara berkembang kendaraan pribadi memang sedang lagi mewabah. Jika saya bilang Indonesia ini wes nemen macete (sudah kebangetan macetnya), di luar negeri sana ada yang lebih bisa marah-marah, marah-marahnya sambil naik kendaraannya di jalanan yang macet. Memang pertumbuhan transportasi di negara berkembang sulit diatur. Di Indonesia dalam satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibuk dan dua anak bisa mempunyai sedikitnya 3 sepeda motor. Coba diitung-itung sendiri, saya tidak pandai ngitung takutnya nanti fitnah, yang jelas hasilnya buanyak banget masyarakat yang punya kendaraan tersebut. Faktanya seperti itu, lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengendalikan laju kepemilikan transporasi pribadi ini. Kalau saya jadi pemerintah ya saya mahalkan harga produknya, naikkan biaya pajak pertahunnya agar masyarakat mikir dua kali sebelum membeli. Tapi sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut, mungkin saya keburu di “dor” sama separatis.

Maka sebenarnya beruntunglah kita jika yang naik  adalah biaya pembuatan STNK, toh selama lima tahun ini biaya pembuatan STNK juga belum naik (atau memang ndak bayar?). Ketimbang harga pajaknya dan produknya yang naik, terus anak cucu kita jadi tidak bisa menikmati kemacetan karena tidak sanggup beli kendaraan. Pilih mana? Om telolet om~

Bersedia, siaaap.. (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Teruntuk adik-adik sekalian yang baik budinya, sayapun memaklumi berprasangka baik itu susah sekali. Sesusah saya rela makan nasi dan sambal lalu meninggalkan kulit ayamnya untuk dimakan di akhir, kemudian sekedipan mata zap! Kulitnya hilang! Bahkan sahabat yang berada di dekatpun rela saya gampar atas perkara ini. Tapi sesusah apapun prasangka baik harus diperjuangkan di negeri yang menjunjung tinggi nilai kemajemukan ini.  Sebagai mahasiswa eksekutif saya percaya seratus persen anda sekalian ini paham dengan struktur, strategi dan etika politik baik di kampus maupun di pemerintahan (atau salahsatunya), maka seyogyanya mbok ya dipikir dulu kalau mau aksi.

Jika adik-adik pikir aksi tersebut bakal seperti aksi kakak-kakak kita saat melengserkan orde baru, jawabannya adalah salah besar. Makin nyatalah yang ditakutkan atas perubahan ospek yang semakin tahun kehilangan militansinya, jadi berbuat aksi yang justru malah merendahkan kelasnya. Adik-adik sekalian, negeri ini sedang diuji kebhinekannya sekaligus di beberapa tempat juga sedang diuji rakyatnya, maka bijaklah dalam menentukan sikap. Jangan menghasut atau malah terhasut oleh baron berkepentingan, atau lebih baik urusi kampus sendiri lah dik, toh kampusmu juga sama bobroknya dengan negara ini kan, sepertinya kampusmu lebih membutuhkan kamu secepatnya.

Saya sendiri juga lagi pusing. Kuliah sudah hampir menuju titik akhir alhamdulilah diberi cobaan oleh Tuhan, pujasera kampus mau digusur. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Rektor sepertinya tidak berpihak pada mahasiswa luhur tingkat akhir yang hampir setiap sore menghabiskan waktunya untuk berdebat tentang jalan keluar supaya cepat lulus dari kampus. Hal-hal seperti ini yang seharusnya diperjuangkan bersama, karena tingkat urgensinya lebih tinggi. Ya benar, kalu bukan mahasiswa  kampus sendiri yang memperjuangkan mau siapa lagi. Ndak mungkin pula yang demo ormas sebelah kan? 🙂