Meningat Cak Munir, Merawat Ingatan


Postingan tertanggal 11/9/2016

Munir Said Thalib

Munir Said Thalib

7 September 2016 bukan tanggal istimewa, tapi 12 tahun lalu ada sebuah kasus yang ndak kalah serunya sama misteri kopi sianida kekinian. Bedanya, 12 tahun lalu kasus ini bikin “sebagian” Jenderal kebakaran jenggot, lantaran wong cilik pada angkat suara atas kematiannya. Kasusnya pun tidak dikawal secara penuh oleh hakim.

skripsi

skripsi

Cak Munir namanya, Munir Said thalib yang lahir pada 8 Desember 1965 di Batu sebuah dataran tinggi di Malang raya ini berdarah indo arab. Seorang Muslim kentel yang sehari – hari membantu nasib hak – hak orang yang dilanggar. Dari kampus Brawijaya Munir muda mengangkat perlindungan hukum buruh dalam tugas akhir strata satunya. Setelah lulus cak Munir bergabung dalam LBH Surabaya, kasus yang terkenal kala itu adalah Marsinah. Seorang buruh wanita yang mati – matian menuntut hak para buruh dan berujung pada nyawanya yang hilang di kaki aparat.

Saat meledaknya peristiwa 98, cak Munir menjadi koordinator badan pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras). Kemelut politik yang berakhir pada lengsernya smilling general diwarnai dengan banyaknya aksi pelanggaran HAM berat. Penculikan 13 orang aktivis benar – benar menjadi sorotan. Yang awalnya pemerintah (atau lebih tepatnya aparat) bersikap defensif, kemudian mulai menanggapi kasus tersebut akibat banyak sorotan publik baik dalam maupun luar negeri terkait hal itu. Usaha kontras (tentunya tidak sendiri) membuahkan hasil, pembuktian bahwa adanya “tim mawar” di tubuh angkatan darat yang bertugas menculik para aktivis karena dianggap berbahaya menyeret 7 oknum anggota kopassus, 2 perwira tinggi dan 1 perwira menengah ke ranah hukum. Dua perwira tinggi tersebut jabatannya ndak main – main, satu perwira menjabat sebagai deputi BIN sedangkan yang satunya menjabat sebagai Danjen Kopassus.

Nama cak Munir mulai dikenal banyak orang bahkan sampai luar negeri. Berbagai penghargaan menjadi ganjaran atas dedikasinya, salahsatunya yang saya takjub adalah beliau mendapatkan The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan kontrol sipil atas militer di Stockholm pada tahun 2000. Sepak terjangnya, sempat membuat sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala
“cak, sameyan iki anti militer yo? Opo jangan – jangan sameyan titisan PKI?”
Cak Munir sama sekali tidak anti tentara. Salah satu contohnya adalah cak Munir justru berperan aktif dalam perumusan RUU TNI dalam periode 2000an yang mana pada saat itu ada pasal “sakti” dimana apabila dalam keadaan terdesak Panglima TNI dapat mengambil kekuasaan penuh terhadap perpolitikan negara. Jelas pasal tersebut ditentang cak Munir dan aktivis pro demokrasi lainnya. “Pasal keblinger itu!”, tutur saya dalam hati. Jika dikembalikan pada tugas pokok TNI seharusnya aparat menjadi alat pertahanan, bukan pada ranah perpolitikan.
“Ada ketegangan antara TNI sebagai satuan otonom politik berhadapan dengan otoritas sipil. Sayangnya, ketegangan ini tidak diselesaikan melalui RUU TNI, tetapi justru diperpanjang“, ujar cak Munir dalam wawancara media pada awal Agustus 2004.

Hal lainnya adalah cak Munir ikut terlibat dalam tim perumus RUU Pertahanan. Beliau gencar memperjuangkan kesejahteraan prajurit yang kemudian termaktub dan dikenal dengan “Pasal Munir”. Cak Munir melihat pada kala itu gaji tamtama dan bintara adalah jauh dari kata “sejahtera”, hingga akhirnya mereka melakukan pekerjaan sampingan dan menggunakan status keanggotaanya sebagai aparat. Dirangkum dari omahmunir.com cak Munir juga pernah membela istri dari para anggota “tim mawar” (yang sudah saya jelaskan di atas) karena mengalami tekanan hidup dari beberapa pihak. Kemudian pada bagian lain, cak Munir sering diundang dalam Sesko TNI dan PTIK Polri sebagai pemateri dalam beberapa kuliahnya (tentunya terkait dengan hal – hal kemanusiaan).

September 2004 cak Munir mendapatkan beasiswa pasca sarjana mengenai hukum humaniter di Amsterdam, Belanda. Beberapa hari sebelum 7 September cak Munir pamitan kepada rekan – rekannya, beliau bersilaturahmi dari tempat ke tempat hingga pada akhirnya tanggal yang dijadwalkanpun tiba. Tak disangka – sangka, pamitan itu pun menjadi salam perpisahan untuk selamanya. Munir Said Thalib dibunuh di udara, diracun hingga ajal mengganjarnya. Sontak banyak pihak menuntut pengusutan atas kematian cak Munir yang tak wajar tersebut.

Besar dugaan ada campur tangan BIN atas kematian cak Munir. Gelar perkarapun dimulai, sosok cak Munir dengan kevokalannya memang menjadi sebuah ancaman bagi para sebagian “penguasa”. Kasus – kasus yang dikawalnya kerap menjadi ancaman atas eksistensi kekuasaan. Beberapa nama disinyalir terlibat atas kasusnya, nama – nama tersebut bukanlah nama baru melainkan nama – nama yang dianggap bersalah pada kasus yang pernah dikawal cak Munir, termasuk mantan deputi BIN pada tahun 1998 (Jenderal (Purn) Muchdi Pr).

Hasil dari gelar perkara menyimpulkan bahwa cak Munir dibunuh dengan cara diracun pada saat pesawat (Garuda Indonesia Airlines) transit di bandara Singapura. Racun tersebut dibubuhkan di dalam minumannya. Dan yang menjadi pelaku pembunuhan adalah Pollycarpus, seorang pilot yang sedang cuti dan menjadi corporate security pada penerbangan tersebut.
“Wait? Siapa dia? Apakah dia rekan dari cak Munir? Ada dendam apa sampai cak Munir dibunuh?”
Publik pun termasuk saya mulai bertanya – tanya, siapa Pollycarpus tersebut. Namanya hampir nihil ketika saya mencari – cari dalam artikel yang membahas kasus mengenai kekerasan dan pelanggaran hak asasi di tahun – tahun sebelumnya. Jelas publik tidak puas dengan hasil tersebut. Bagaimana mungkin orang membunuh tanpa sebelumnya kenal atau tidak punya dendam sedikitpun terhadap orang yang dibunuh. Jelas dibalik semua itu terdapat motif dan siasat yang direncanakan oleh orang yang lainnya. Selang beberapa waktu sang jenderal tersebut terseret dalam pengusutan kasus cak Munir, namun pada akhirnya beliau bebas dari segala tuduhan sedangkan Pollycarpus dihukum seberat 14 tahun penjara.

Terlepas dari kasus cak Munir yang merupakan salahsatu kasus pelanggaran HAM terberat, publik memberikan apresiasi yang luar biasa kepada cak Munir. Dari dalam maupun luar negeri banyak yang memuji beliau, nama beliau pun menjadi salah satu nama jalan di belanda selain itu juga dijadikan nama di salahsatu ruang di kantor Amnesty Internasional belanda. Nama cak Munir memang layak untuk didedikasikan sebagai semangat perjuangan menuntut kemerdakaan yang sesungguhnya tanpa menindas ataupun ditindas.

Sosok cak Munir bagi saya adalah sosok yang jarang dijumpai. Kalau boleh saya meminjam salahsatu judul film dokumenter mengenai beliau, “kiri hijau kanan merah” memang pas bagi cak Munir. Beliau dalam keseharian di masa mudanya adalah aktivis dari HMI Malang dan sebagai sekretaris pondok Al – Irsyad Batu namun arah tujuan cak Munir menjunjung tinggi hak – hak kaum “bawah”. Dua hal tersebut dalam pandangan kini (setelah tahun 1965) memang dipandang kontras. Bagaimana tidak, gerakan relijius memang sebagian besar meng”haram”kan bibit “kiri” tumbuh dalam diri masyarakat. Sedangkan yang diklaim sebagai apa itu gerakan “kiri” (tentunya setelah tahun 1965 pula) membela nasib “wong cilik” yang mana hal tersebut menurut fahamnya adalah dasar dari negara tersebut.

Sejauh tulisan ini saya buat, saya hanya beropini dari hasil membaca berbagai source yang ada di dunia maya dan kunjungan pertama saya di museum omah munir. Teruntuk mas dan mbak yang membuat tulisan – tulisan mengenai cak Munir saya ucapkan terimakasih banyak, tulisan anda sebagai pembuktian bahwa cak Munir dibunuh karena benar dan semoga Tuhan menghancurkan yang bathil. Sekian.

Sumber :

Omahmunir.com

id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib

nusantaranews.wordpress.com/2009/01/01/biografi-munir-seorang-pahlawan-ham-indonesia/

dan masih banyak lagi yang belum bisa saya sebutkan.

Advertisements