Student Hidjo 


Hidjo si pintar dari kaum priyayi

Penulis : Mas Marco Kartodikromo

Alkisah ada sebuah buku nyempil di ruang tamu rumah saya. Saya yang lagi gandrung baca buku pun tertarik untuk mengambilnya. Oh, ternyata sebuah novel dengan tampilan muka gambar seorang anak muda dan sebuah dokar yang membawa penumpang beserta kusirnya. Terlihat dari sampulnya menggambarkan buku ini berkisah di zaman kolonial, anak muda tersebut terkesan dari keluarga priyayi. Saya pun mulai membaca novel tersebut. 

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari keluarga saudagar bernama Hidjo. Hidjo anak yang pintar lulus dari sekolah setingkat SMA bikinan Belanda di Solo. Hidjo gemar membaca, buku menjadi teman akrabnya sehari-hari. Selain kehidupannya dengan buku, Hidjo memiliki partner asmara alias tunangan yakni Raden Adjeng Biroe. Perangainya yang cantik membuat masyarakat pribumi dan kompeni juga tertarik padanya. Baik Hidjo dan Biroe mereka saling mencinta. 

Setelah lulus SMA, bapak dari Hidjo berniat mengirimkan anaknya ke Belanda. Si bapak ingin Hidjo menjadi insinyur dan menguliahkannya di delfh, Belanda. Hidjo mau-mau saja di kirim kesana, namun lain halnya dengan ibu dan Biroe. Mereka berat hati melepas Hidjo, karena dirinya anak semata wayang, lagipula di Belanda kehidupannya sangat berbeda dengan di Jawa. Ibunya takut Hidjo kelak menjadi anak yang meninggalkan adat dan budaya Jawanya. Setelah Hidjo pergi ke Belanda, lika liku cinta Hidjo dan Biroe pun terjadi. 

Novel ini mengisahkan kehidupan Jawa dan Belanda yang sangat berbeda. Kehidupan Jawa yang diwakili oleh golongan priayi penuh dengan unggah ungguh dan kehidupan Belanda yang swrba modern, penuh dengan hiburan, dan kehidupan bebas. Kisah cinta yang tidak menye menye dan adab yang baik dikisahkan di Jawa. Perjodohan keluarga tanpa harus memaksakan kehendak sesama.

Novel ini ditulis orang yang sama dengan yang menulis Babat Tanah Djawi. Sebelumnya saya ndak tahu siapa Mas Marco ini, ternyata beliau orang besar. Pernah berkecimpung di perpolitikan era pergerakan, meskipun pada akhirnya mati sebelum Indonesia merdeka karena malaria. Novel ini menggunakan bahasa Indonesia khas jaman dulu yang bercampur dengan Belanda. 

Dalam novel ini juga sedikit diceritakan bagaimana gegap gempita pergerakan pada saat itu. Sarekat Islam sedang mengadakan kongres besar di Solo. Semua kadernya dari penjurj Jawa berkumpul di sana dan mendengarkan sambutan dari para orang pentingnya. Selain itu hiburan khas rakyat juga telah disiapkan. Semua bergembira bersama, baik para anggota sampai rakyat Solo sendiri. 

Jika dibandingkan dengan era sekarang, kisah cinta kini lebih berliku. Saya sepertinya jadi korbannya, menjomblo sampai sekarang. Ah, jaman dulu sepertinya lebih indah meskipun tidak ada teknologi seperti blog ini. 

Advertisements

Bangunlah Kata – Kata



Dua hari lalu mungkin bisa disebut harinya Wiji Thukul. Dua hari saya menyaksikan dan mendengarkan orang – orang tentang kisah bagaimana seorang penyair melawan tirani yang pernah menguasai negeri ini. Tanggal dua tempo lalu pada akhirnya Istirahatlah Kata – Kata diputar di Malang. Dua jempol untuk kawan – kawan pegiat film dan lainnya yang berhasil membawa film ini melalui pengumpulan anemo kawan – kawan yang ingin sekali nonton film tersebut. sebenarnya film ini premiere pada tanggal 19 januari, lucunya Malang bukan dari salahsatu dari sekian kota yang menayangkannya. Terlihat aneh memang, padahal di Malang hegemoni aktivisme terbilang cukup tinggi, bukan hanya belakangan ini namun jauh sebelum itu.

Sedikit cerita, kemarin saya menonton film Istrihatlah Kata – kata di salah satu bioskop di Kota Malang. Seperti yang telah saya jelaskan diatas, maka anemo masyarakat yang datang sangat banyak. Saya bertemu dengan wajah – wajah yang tak lagi asing. Rekan – rekan aktivis mulai dari pegiat seni, film, sastra dan lain sebagainya. Mereka datang untuk melihat mengingat kembali dan meneladani sosok mas Widji Thukul. Karena bukan yang pertama kali diputar, sudah banyak spoiler di dunia maya bahkan kritikan. Ada yang bilang film ini terlalu monoton, film ini tidak mengangkat heroiknya tokoh utama, macam – macam.


Benar saja, setelah saya menonton saya mengiyakan komentar yang demikian. Jika anda pernah menonton film yang berjudul senyap, menurut saya film tersebut lebih monoton dari ini. Minimnya dialog, banyaknya monolog (adalah puisi Wiji Thukul yang dibacakan) dan video statis dapat dijumpai di film Istirahatlah kata – kata. Tak juga dapat dipungkiri, saya pun sesekali menguap ketika menontonnya. Namun andaikan seorang sutradara membuat film tentang Muhammad Ali apakah lantas dalam film tersebut mutlak harus ada adegan tinju meninju diatas ring? Menurut saya sang sutradara telah berhasil menceritakan sisi lain dari kehidupan mas Wiji Thukul yang dirasa sangat heroik sampai dirinya kemudian hilang tak tahu rimbanya.

Di film tersebut sama sekali tak ada adegan barisan pendemo berhadapan dengan satu kompi pasukan bersepatu laras di jalan atau aksi dorong mendorong pagar sampai aksi bakar ban di jalan. Film tersebut mengisahkan pelarian dari sosok penyair. Wiji Thukul lari ke Pontianak karena dianggap sebagai dalang dari aksi kudatuli dan pembentukan PRD. Meninggalkan anak dan istrinya Wiji Thukul dibantu oleh rekan – rekannya sampai dirinya memastikan bahwa dirinya aman di sana. Wiji Thukul menghabiskan waktunya dengan menulis dan bekerja sambilan di Pontianak. Selang beberapa waktu dirinya pulang ke Solo untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Mungkin hanya itu garis besar dari film tersebut. sangat sederhana namun mengisahkan sisi lain dari Wiji Thukul, dihiasi puisi – puisinya yang tanpa metafora dan sangat tajam bagi rezim orba.


Di hari berikutnya saya berkesempatan datang di Sarasehan Budaya Wiji Thukul. Mendatangkan mas Gunawan Maryanto (pemeran Wiji thukul), pak Utomo (ayah Bimo Petrus), mas Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) dan masih banyak. Saya pikir ini kesempatan untuk berdiskusi bagaimana sosok dijadikan tersebut hingga layak diingat sampai sekarang. Barangkali pula ini bisa menjadi gambaran bagaimana bobroknya rezim kala itu. Diskusi tersebut bertempat di warung kali metro yang mana merupakan markas dari Malang Corruption Watch. Saya sedikit kesusahan menemukannya, maklum belum pernah berkunjung kesana. Diskusi tersebut dimulai dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00. Sampai disana, acara sudah mulai dan banyak sekali yang sudah datang, diiringi hujan yang turun begitu deras.

Di panggung sudah Nampak moderator, mas Gunawan, mbak Puput dan mbak Melati, beliau – beliau sedang bertukar pendapat terkait dengan film Istirahatlah Kata – Kata. Menurut mereka, film ini merupakan pengingat bagi pemerintah bahwa kasus hilangnya 13 aktivis masih belum selesai sampai sekarang. Selain itu ini juga sebagai pemantik bahwa perjuangan belum usai, penindasan yang sesungguhnya pada dewasa ini ada di sekitar kita. Seperti sengketa tanah antara petani dan perusahaan, dan juga kasus – kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Jogja dan Papua. Sejauh ini, meskipun demokrasi telah berhasil mengantikan orba, namun masih banyak pencekelan, masih banyak pembredelan yang dilakukan oleh aparat walau tidak sesering pada saat orba.

Dalam sesi tanya jawab berbagai tanggapan dan pertanyaan banyak dilontarkan oleh para audience yang hadir. Mas Yani sebagai salah satu yang maju mengatakan, bahwa dengan adanya film ini teman – teman yang memperjuangkan HAM harus melanjutkan perjuangan karena film ini berhasil menarik massa yang begitu banyak dan mengenalkan sosok Wiji Thukul pada generasi sekarang. Yang menarik dari film Istirahatlah Kata – Kata adalah film ini berbeda dengan film yang sedang naik daun saat ini. Anggaplah film warkop yang sedang berada di bioskop sekarang, namun kenapa di film tersebut tidak ada intel sedangkan di film ini didatangi intel padahal keduanya sama – sama lulus sensor. Hal ini menandakan bahwa pemerintah masih takut, bisa juga dikatakan bahkan masih trauma pada aksi – aksi di era 98. Dengan adanya hal ini, menurut mas Yani hendaknya kita yang terpanggil dalam gerakan ini jangan merasa terawasi, karena dirinya merasakan hal tersebut. Pengalamannya dalam membuat dan mengadakan nobar pernah sampai dicari oleh intel karena dianggap berbahaya.

Berikutnya ada mas Leon, menurutnya kita patut berterimakasih pada rekan – rekan aktivis pejuang prodemokrasi di era 98 karena berkat jasanya kita bisa lebih leluasa untuk berpendapat dan berkumpul untuk berdiskusi. Lalu, apakah rezim sekarang sudah tidak lagi takut dengan kata – kata? Atau kata – kata mana yang boleh bersuara dan kata – kata yang mana yang dibungkam. Beruntungnya sekarang kata – kata sedikit lebih leluasa meskipun masih ada saja yang dibungkam walaupun tak sebanyak di zaman pak Harto berkuasa. Sebagai contoh beberapa waktu lalu rekan – rekan berdemo didepan istana menolak mengenai undang – undang pengupahan, namun rekan – rekan direpresi oleh aparat, beberapa ada yang ditangkap, mobil yang dipakaipun dipecah. Kejadian ini terpaksa terjadi dengan alasan bahwa demo tersebut melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Menurut mas Leon kita masih belum mencapai demokrasi sejati yang diimpikan oleh mas Wiji Thukul dan kawan – kawan di eranya. Jika diibaratkan, kita berada dalam penjara yang lebih besar dan dalam belenggu yang lebih panjang seolah – olah kita bebas namun suatu saat kita akan sadar bahwa kita terbatas.

Film Istirahatlah kata – kata masih belum cukup, kita perlu bergerak melawan penindasan yang ada di sekitar kita. Melalui kesempatan berbicaranya mas Leo mengajak rekan – rekan untuk mengajak bergabung dalam komite aksi kamisan yang berada di Malang untuk beriskusi dan saling sharing mengenai persoalan yan ada disekitar dan saling bersolidaritas untuk sesama.

Hal menarik disampaikan oleh mbak Puput menanggapi tanggapan mas leon, menurutnya jika rezim ini masih takut kata – kata maka menurut mbak Puput justru rezim ini jua menjadi penyair dalam mengisi demokrasi. Kata – kata berupa pemberitaan digoreng sedemikan rupa lalu disajikan pada masyarakat. Manipulasi dan pemilihan kata oleh rezim ini menjadikan masyarakat yang tidak tahu menjadi semakin bingung siapa yang benar. Bahkan melalui sosial media pemilik rezim ini juga berperan besar menggaungkan nadanya untuk mengisi lagu yang sedang berjalan. Yang terbaru adalah pemerintah berencana menggunakan barcode untuk memverivikasi tautan yang kredibel atau tidak. Hal ini sangatlah subjektif untuk menentukan tautan tersebut hoax atau tidak.

Dalam dua hari tersebut yang bisa saya simpulkan adalah film Istirahatlah Kata – Kata adalah usaha untuk mengenalkan sosok wiji Thukul kepada generasi sekarang sekaligus sebagai bentuk teguran kepada pemerintah bahwa kasusnya belum selesai. Lalu apa yang harus kita lakukan selepas kita telah menonton film tersebut? Adalah wajib bagi kalian dan saya untuk terus melawan penindasan yang ada disekitar kita. Jika dulu pemerintah takut terhadap kata – kata, maka sekarang kata – kata juga bisa dimainkan oleh pemerintah melalui dunia maya dan pertelevisian. Kita harus tetap melawan dengan cara masing – masing, meskipun dengan bersama akan lebih baik seperti yang telah diatawarkan oleh mas Leon bahwa terdapat komite aksi kamisan di Kota Malang dan juga forum diskusi tentang film dan buku yang harus diramaikan kembali selepas sarasehan ini. Meskipun membentuk seperti Wiji Thukul atau Munir itu sulit, namun bukan berarti kita mengurungkan niat untuk berusaha seperti mereka. Suatu saat nanti pasti mereka semakin berlipat ganda.

Kami Juga Mau Jadi Reforman


Udud dulu sam, selo (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Barangkali itu cuplikan mars mahasiswa yang masih saya ingat di kepala. Enam tahun lalu kala masih bergelar maba kakak-kakak senior dengan semangatnya mengenalkan mars ini kepada kami. Mars tersebut lebih terkesan doktrinasi, saya pun dengan bangganya sering nyanyi mars itu setiap mandi kala itu. Itu enam tahun lalu ya, saat ospek masih agak otoriter di kampus kami, kalau sekarang saya ragu sama angkatan 2013 ke atas, tahu atau tidak sama mars tersebut. Konon katanya mars tersebut lahir bersama aksi massa tahun 98 yang menuntut lengsernya Smilling General yang berkuasa selama 30 tahun lebih. Aksi tersebut tidak berlangsung sekejap, sekejap aksi sekejap dituruti. Aksi tersebut berlangsung lebih dari setahun dengan mengorbankan dari berbagai aspek. Kakak-kakak kami rela mengorbankan segalanya untuk menjalankan aksi tersebut, mereka rela bertaruh nyawa demi aksi tersebut.  Tiga belas dari mereka hilang sampai sekarang, entah mereka tiada atau mereka diculik belum ada yang tahu. Wallahualam.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini perlu saya ingatkan bahwa ini tulisan opini bebas dan cenderung berkelakar. Mengingat sekarang lagi usum tuntut-menuntut, lagi usum mengkafirken. Sumpah demi Tuhan, saya ini ndak kafir meskipun sembahyang masih bolong-bolong. Jadi jangan diambil hati kalau ndak setuju, cukup tulis komen mesra saja dibawah.

Seminggu lalu ada gelaran aksi kembali oleh massa yang mengatasnamakan  BEM seluruh Indonesia. Adik-adik eksekutif (barangkali sudah cukuplah saya 6tahun di kampus untuk memanggil mereka adik)  turun kejalan untuk menuntut pemerintah atas naiknya kebutuhan pokok masyarakat (STNK masuk kebutuhan pokok?). Media menyebutkan bahwa aksi tersebut bakal seperti aksi menuntut reformasi di tahun 98 lalu. Lah? Lakok bisa gitu ya? Saya pikir aksi yang terdahulu memang sangat beralasan. Siapa yang ndak risih dengan rezim yang penuh dengan segala pembatasan, siapa pula yang tidak jengah dengan KKN yang seolah dilegalkan dikalangan istana. Namun sekarang apa yang dituntut sudah segawat itu tarafnya? Saya rasa tidak demikian adik-adik sekalian. Presiden kita sekarang sudah jauh berbeda dengan presiden di era tahun 90an. Berbeda pola pikirnya, berbeda kebijakannya, lebih-lebih berbeda pula latar belakang keluarganya.

“Jiancuk, arek-arek iki lapo to demo barang? Gawe jeneng sing podo pisan karo demo ne ormas unto kui. Anggetmu negoro ngurusi wong demo thok ngono? Bajiguk tenan”, ujar teman saya kapan hari di kedai kopi.

Oke, mari coba dibahasa secara elek-elekan. Demo tersebut terjadi sebagai imbas dari naiknya BBM, harga cabai, biaya STNK dan lain- lain. Tidak semua BBM yang naik, premium dan solar tidak naik, dan yang naikpun memang subsidinya sudah dicabut sebelumnya jadi harganya fluktuatif tergantung harga minyak dunia. Pertamax, pertalite dan saudara kandung lainnya memang disediakan untuk kaum-kaum yang mampu, bukan untuk masyarakat bawah. Lagipula jika keberatan silahkan saja beli premium, pemerintah lo selo.

Saya rasa di Indonesia ada 2 hal yang meskipun sudah tahu naik tapi masih saja dibeli, rokok dan Lombok! ahay! Sebagian besar masyarakat Indonesia akan merasa aneh jika makanannya tak mengandung yang pedas-pedas. Jadi wajar saja jika ibu-ibu yang pergi berbelanja ke pasar sedikit cemberut karena harga cabai naik. Tapi secemberutnya ibu-ibu kita mereka masih mengusahakan cabai hadir disetiap masakannya meskipun porsinya dikurangi. Sebagai contoh ibu saya tempo hari diminta bapak saya untuk membuat sambal pada menu makan siang. Tidak berapa lama ibu saya datang sembari membawa cobek berisi sambal tomat yang bau terasinya aduhai nian. Pas si bapak mengicip sambalnya beliau pun protes kenapa sambalnya tak pedas seperti biasaya. Ibu saya pun marah-marah, masih untung ada cabainya daripada tidak pedas sama sekali. Untungnya ibu saya tak menyuruh saya demo menuntut harga cabai turun. Nah, ibu-ibu pun sepertinya paham kenapa harga cabai naik, lagipula sebelumnya beliau-beliau sudah pernah mendapat cobaan serupa dan mereka tak gentar menghadapinya. Maka lucu lah kiranya jika adik-adik ini menuntut harga salahsatu bahan pokok ini naik, lebih-lebih belakangan Lanina juga masih asik bermain di negeri ini.

Di Negara berkembang kendaraan pribadi memang sedang lagi mewabah. Jika saya bilang Indonesia ini wes nemen macete (sudah kebangetan macetnya), di luar negeri sana ada yang lebih bisa marah-marah, marah-marahnya sambil naik kendaraannya di jalanan yang macet. Memang pertumbuhan transportasi di negara berkembang sulit diatur. Di Indonesia dalam satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibuk dan dua anak bisa mempunyai sedikitnya 3 sepeda motor. Coba diitung-itung sendiri, saya tidak pandai ngitung takutnya nanti fitnah, yang jelas hasilnya buanyak banget masyarakat yang punya kendaraan tersebut. Faktanya seperti itu, lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengendalikan laju kepemilikan transporasi pribadi ini. Kalau saya jadi pemerintah ya saya mahalkan harga produknya, naikkan biaya pajak pertahunnya agar masyarakat mikir dua kali sebelum membeli. Tapi sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut, mungkin saya keburu di “dor” sama separatis.

Maka sebenarnya beruntunglah kita jika yang naik  adalah biaya pembuatan STNK, toh selama lima tahun ini biaya pembuatan STNK juga belum naik (atau memang ndak bayar?). Ketimbang harga pajaknya dan produknya yang naik, terus anak cucu kita jadi tidak bisa menikmati kemacetan karena tidak sanggup beli kendaraan. Pilih mana? Om telolet om~

Bersedia, siaaap.. (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Teruntuk adik-adik sekalian yang baik budinya, sayapun memaklumi berprasangka baik itu susah sekali. Sesusah saya rela makan nasi dan sambal lalu meninggalkan kulit ayamnya untuk dimakan di akhir, kemudian sekedipan mata zap! Kulitnya hilang! Bahkan sahabat yang berada di dekatpun rela saya gampar atas perkara ini. Tapi sesusah apapun prasangka baik harus diperjuangkan di negeri yang menjunjung tinggi nilai kemajemukan ini.  Sebagai mahasiswa eksekutif saya percaya seratus persen anda sekalian ini paham dengan struktur, strategi dan etika politik baik di kampus maupun di pemerintahan (atau salahsatunya), maka seyogyanya mbok ya dipikir dulu kalau mau aksi.

Jika adik-adik pikir aksi tersebut bakal seperti aksi kakak-kakak kita saat melengserkan orde baru, jawabannya adalah salah besar. Makin nyatalah yang ditakutkan atas perubahan ospek yang semakin tahun kehilangan militansinya, jadi berbuat aksi yang justru malah merendahkan kelasnya. Adik-adik sekalian, negeri ini sedang diuji kebhinekannya sekaligus di beberapa tempat juga sedang diuji rakyatnya, maka bijaklah dalam menentukan sikap. Jangan menghasut atau malah terhasut oleh baron berkepentingan, atau lebih baik urusi kampus sendiri lah dik, toh kampusmu juga sama bobroknya dengan negara ini kan, sepertinya kampusmu lebih membutuhkan kamu secepatnya.

Saya sendiri juga lagi pusing. Kuliah sudah hampir menuju titik akhir alhamdulilah diberi cobaan oleh Tuhan, pujasera kampus mau digusur. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Rektor sepertinya tidak berpihak pada mahasiswa luhur tingkat akhir yang hampir setiap sore menghabiskan waktunya untuk berdebat tentang jalan keluar supaya cepat lulus dari kampus. Hal-hal seperti ini yang seharusnya diperjuangkan bersama, karena tingkat urgensinya lebih tinggi. Ya benar, kalu bukan mahasiswa  kampus sendiri yang memperjuangkan mau siapa lagi. Ndak mungkin pula yang demo ormas sebelah kan? 🙂

 

Nasionalisme Islamisme dan Marxisme


Penulis : Ir. sukarno

Penerbit : Kreasi Wacana

Pak Sukarno adalah salahsatu dari sang Dwitunggal yang memproklamirkan negara bumi pertiwi, salahsatu dari sekian banyak para cendikiawan kala itu yang tujuannya adalah usaha memerdekakan rakyat dari segala penindasan kolonial. Banyak gagasan dari beliau yang membuat saya kagum, salahsatunya adalah yang tertulis di judul review ini yang kemudian menurut saya menjadi cikalbakal ide nasakom. 

Saya merasa beruntung mendapatkan buku ini mengingat buku macam ini ndak ada di toko buku besar di tiap kota. Menurut Dr. H. Moechlis Noer Rochman tulisan pak Sukarno ini pernah diterbitkan oleh pimpinan Pandu Nasionalis Indonesia pada tahun 1956, namun seiring berjalannya waktu terbitan tersebut hanya beredar dalam bentuk fotokopi. Yang menarik di buku ini adalah tulisan pak Karno benar-benar ditulis seperti adaya, hanya penulisan ejaan orde lama  (seperti “oe” “dj”) disunting ke EYD yang baku. Mungkin agar supaya para pembaca faham betul dengannya. 

Buku ini membahas apa itu Nasionalisme, apa itu Islamisme dan apa itu Marxisme. Bagi beliau, 3 azas tersebut adalah layak sebagai panutan Indonesia. Ketiga azas tersebut memang terlihat saling berkontradiksi satu sama lain, namun pak Karno secara gamblang dapat menjelaskan betapa selarasnya ketiga azas tersebut untuk Indonesia. Wawasan beliau pada pergerakan luarnegeri tertuang pula dalam tulisannya dan ditulis sedemikian rupa agar pembaca mampu memahami arah usaha menuju kemerdekaan yang kuranglebih sama dengan yang lain. 

Matur Nuwun 2016


30 Desember 2016, ndak terasa tahun genep tinggal sehari lagi (re : tinggal tanggal 31). Wah wah, kalau mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi jadi senyum-senyum sendiri. Dimulai dari awal tahun kondisi saya kurang lebih sama kayak penghujung tahun ini alias perlu istirahat total karena sakit kambuh. Tahun 2016 kambuhnya di awal sama di akhir. Sungguh disayangkan.

Diawali dengan cuti di separuh tahun pertama, kemudian saya mengambil kuliah kembali di separuh tahun kedua. Ndak banyak, hanya 6 sks 2 diantaranya adalah seminar proposal skripsi salahsatu yang butuh treatment khusus. Alhamdulilah 6 sks bisa saya selesaikan walaupun di menit-menit akhir sudah hampir ambruk. Tahun ini kenalan-kenalan saya dari angkatan bawah juga mulai banyak. Hmm.

Juni 2016 kopintar dipugar diganti dengan yang baru, namanyapun kemudian digubah menjadi psycoffee. Tetap menjadi kedai kopi yang bisa dinikmati dari semua kalangan. Disini adalah tempat baru saya untuk belajar bagaimana cara membangun dan mengatur tempat usaha. Disini pula lidah ini mulai dikenalkan dengan kopi, sebuah minuman pekat yang ternyata memiliki khas dari berbagai daerah. Kopi kui duwe cerito lan howone dewe dewe begitu kata teman saya yang memang sudah cinta mati dengan kopi. Mulai di titik ini saya belajar etika menyeduh kopi dengan benar. 

Menghabiskan waktu di kedai kopi membuat saya berkenalan dengan orang-orang baru. Mereka mempunyai cerita masing-masing dan sangat menginspirasi saya tak terkecuali carut marut perpolitikan di negeri ini. Entah kenapa belakangan tahun ini saya tertarik untuk nyinyir tentang hal tersebut bersama mereka. Beberapa juga saya tulis di blog ini. Oh hampir lupa, tahun ini saya juga punya rumah baru untuk menulis. Di sini opsinya lebih menarik dan saya menjadi lebih menggebu dalam menulis.

Akhir kata, terimakasih 2016, terimakasih teman-teman yang membuat saya bersemangat di tahun tersebut. Selamat menyambut tahun baru 2017. 
Semangat ! 

*Tulisan ini dibuat tanggal 30 dan selesai tanggal 1, tahun berikutnya.*

Toleransi To 


Toleransi sebuah kata sakral yang memiliki fungsi menjaga kedamaian di dunia. Apapun bahasanya toleransi merujuk pada saling menghargai, saling mengalah pada yang lebih penting dan saling interospeksi diri dari segala khilaf yang dilakukan oleh antar golongan. 

Alih-alih menjadi kata pemersatu di negeri ini toleransi kini menjadi kata yang sensitif bagi sebagian telinga masyarakat. Golongan satu menyerang golongan lain dengan dalih tidak menunjukkan toleransi atas keyakinannya. Golongan satu melarang kaumnya untuk bertoleransi pada golongan lain dengan dalih bisa melemahkan golongannya. Omong kosong bung ! Negeri ini dibangun atas keberagaman ! Toleransi adalah bentuk pengejawantahan dari Bhinneka Tunggal Ika. 

Toleransi kini mengalami penyempitan makna. Jika dirimu menghargai diriku lebih dulu maka aku layak mentolerir dirimu. Jika tidak ya tidak. Sungguh ironi. Bagaimana jika semua orang berfikir seperti itu? Seolah bumi hanya milikmu saja. Tuhan menciptakan banyak keyakinan dan budaya untuk belajar tentang keberagaman. 

Semoga toleransi akan terus ada di negeri ini.  

Rakyat Berdaulat/Konglomerat Berdaulat


Di penghujung 2016 negeri ini diterpa banyak sekali cobaan. Persaingan pemilihan calon DKI 1 yang berujung tersulutnya isu SARA menjadi sebuah drama yang entah kapan selesainya. Mayoritas menendang minoritas, klasik sekali. Korbannya adalah masyarakat, bukan yang hanya di DKI saja tapi hampir dari seluruh penjuru negeri ini. Perlahan isu berhembus bergeser jadi saling mengharamkan. Haram ini haram itu, yang semula tujuannya jelas (jelas?) Kini semakin kemana-mana. Sasarannya tidak tanggung-tanggung masyarakat yang berbeda keyakinan. Meskipun sudah diingatkan, disindir secara halus dan “nylekit” seolah tak jadi soal. Bahkan yang seimanpun juga kena. Berbeda pandangan langsung ditatap sinis dan diteriaki bid’ah. Oh negeriku, bukankah semboyan kita masih Bhinneka Tunggal Ika?

Beberapa waktu lalu densus kembali melakukan aksinya. Penyergapan yang dilakukannya di Bekasi membuahkan hasil. Disitanya panci presto yang didalamnya terdapat bom dan sekarung paku dan gotri rencananya akan diledakkan di Istana adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Di negara lain aksi serupa bahkan telah merenggut banyak orang. Namun bagi sebagian masyarakat kita kejadian ini tidak begitu menarik. “Ini cuma pengalihan isu”, katanya. Pengalihan isu dari kasus SARA yang lagi santer. Masyarakat negeri ini selalu saja begitu.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga sedang terjadi kasus yang seru, tapi sepertinya layar kaca masih menganggap kasus DKI yang bisa menarik minat masyarakat. Sebutlah saja kasus semen di daerah kendeng. Semua petani disana menolak, mereka mau kerja apa jika daerah mereka dijadikan lahan mengeruk semen. Tapi sepertinya kepala daerah punya kepala batu. Tuntutan para pejuang pangan garis depan ini belum digubris walaupun pengadilan tertinggi (di negeri ini) telah mencabut. Ada pula di Yogyakarta daerah istimewa. Konon “Yugjo” dahulu merupakan kerajaan yang dipimpin oleh kesultanan. Sampai kinipun juga begitu, sampai-sampai undang-undangnya pun dicap “istimewa”. Namun cap tersebut menjadi prahara bagi masyarakat Kulonprogo dan Parangkusumo sebab tanahnya diusik mau dijadikan bandara dan wisata bagi para jajaran keraton. Sekali lagi apa bandara bisa mengenyangkan perut? 

Negeri ini menganut demokrasi dimana rakyat berperan dalam pelaksanaan pemerintahan dan politik melalui wakil rakyat. Berarti rakyat juga ikut memutuskan nasibnya, nasib daerahnya dan nasib pemimpinnya. Namun hal ini belum sepenuhnya terwujud. Para baron menggunakan kekuasaanya untuk dirinya dan keluarganya. Pada akhirnya sebagian rakyat marah dan mengangap demokrasi ini sudah busuk dan layak untuk diganti. Sebenarnya yang harus berdaulat rakyat atau konglomerat?