Kami Juga Mau Jadi Reforman


Udud dulu sam, selo (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Barangkali itu cuplikan mars mahasiswa yang masih saya ingat di kepala. Enam tahun lalu kala masih bergelar maba kakak-kakak senior dengan semangatnya mengenalkan mars ini kepada kami. Mars tersebut lebih terkesan doktrinasi, saya pun dengan bangganya sering nyanyi mars itu setiap mandi kala itu. Itu enam tahun lalu ya, saat ospek masih agak otoriter di kampus kami, kalau sekarang saya ragu sama angkatan 2013 ke atas, tahu atau tidak sama mars tersebut. Konon katanya mars tersebut lahir bersama aksi massa tahun 98 yang menuntut lengsernya Smilling General yang berkuasa selama 30 tahun lebih. Aksi tersebut tidak berlangsung sekejap, sekejap aksi sekejap dituruti. Aksi tersebut berlangsung lebih dari setahun dengan mengorbankan dari berbagai aspek. Kakak-kakak kami rela mengorbankan segalanya untuk menjalankan aksi tersebut, mereka rela bertaruh nyawa demi aksi tersebut.  Tiga belas dari mereka hilang sampai sekarang, entah mereka tiada atau mereka diculik belum ada yang tahu. Wallahualam.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini perlu saya ingatkan bahwa ini tulisan opini bebas dan cenderung berkelakar. Mengingat sekarang lagi usum tuntut-menuntut, lagi usum mengkafirken. Sumpah demi Tuhan, saya ini ndak kafir meskipun sembahyang masih bolong-bolong. Jadi jangan diambil hati kalau ndak setuju, cukup tulis komen mesra saja dibawah.

Seminggu lalu ada gelaran aksi kembali oleh massa yang mengatasnamakan  BEM seluruh Indonesia. Adik-adik eksekutif (barangkali sudah cukuplah saya 6tahun di kampus untuk memanggil mereka adik)  turun kejalan untuk menuntut pemerintah atas naiknya kebutuhan pokok masyarakat (STNK masuk kebutuhan pokok?). Media menyebutkan bahwa aksi tersebut bakal seperti aksi menuntut reformasi di tahun 98 lalu. Lah? Lakok bisa gitu ya? Saya pikir aksi yang terdahulu memang sangat beralasan. Siapa yang ndak risih dengan rezim yang penuh dengan segala pembatasan, siapa pula yang tidak jengah dengan KKN yang seolah dilegalkan dikalangan istana. Namun sekarang apa yang dituntut sudah segawat itu tarafnya? Saya rasa tidak demikian adik-adik sekalian. Presiden kita sekarang sudah jauh berbeda dengan presiden di era tahun 90an. Berbeda pola pikirnya, berbeda kebijakannya, lebih-lebih berbeda pula latar belakang keluarganya.

“Jiancuk, arek-arek iki lapo to demo barang? Gawe jeneng sing podo pisan karo demo ne ormas unto kui. Anggetmu negoro ngurusi wong demo thok ngono? Bajiguk tenan”, ujar teman saya kapan hari di kedai kopi.

Oke, mari coba dibahasa secara elek-elekan. Demo tersebut terjadi sebagai imbas dari naiknya BBM, harga cabai, biaya STNK dan lain- lain. Tidak semua BBM yang naik, premium dan solar tidak naik, dan yang naikpun memang subsidinya sudah dicabut sebelumnya jadi harganya fluktuatif tergantung harga minyak dunia. Pertamax, pertalite dan saudara kandung lainnya memang disediakan untuk kaum-kaum yang mampu, bukan untuk masyarakat bawah. Lagipula jika keberatan silahkan saja beli premium, pemerintah lo selo.

Saya rasa di Indonesia ada 2 hal yang meskipun sudah tahu naik tapi masih saja dibeli, rokok dan Lombok! ahay! Sebagian besar masyarakat Indonesia akan merasa aneh jika makanannya tak mengandung yang pedas-pedas. Jadi wajar saja jika ibu-ibu yang pergi berbelanja ke pasar sedikit cemberut karena harga cabai naik. Tapi secemberutnya ibu-ibu kita mereka masih mengusahakan cabai hadir disetiap masakannya meskipun porsinya dikurangi. Sebagai contoh ibu saya tempo hari diminta bapak saya untuk membuat sambal pada menu makan siang. Tidak berapa lama ibu saya datang sembari membawa cobek berisi sambal tomat yang bau terasinya aduhai nian. Pas si bapak mengicip sambalnya beliau pun protes kenapa sambalnya tak pedas seperti biasaya. Ibu saya pun marah-marah, masih untung ada cabainya daripada tidak pedas sama sekali. Untungnya ibu saya tak menyuruh saya demo menuntut harga cabai turun. Nah, ibu-ibu pun sepertinya paham kenapa harga cabai naik, lagipula sebelumnya beliau-beliau sudah pernah mendapat cobaan serupa dan mereka tak gentar menghadapinya. Maka lucu lah kiranya jika adik-adik ini menuntut harga salahsatu bahan pokok ini naik, lebih-lebih belakangan Lanina juga masih asik bermain di negeri ini.

Di Negara berkembang kendaraan pribadi memang sedang lagi mewabah. Jika saya bilang Indonesia ini wes nemen macete (sudah kebangetan macetnya), di luar negeri sana ada yang lebih bisa marah-marah, marah-marahnya sambil naik kendaraannya di jalanan yang macet. Memang pertumbuhan transportasi di negara berkembang sulit diatur. Di Indonesia dalam satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibuk dan dua anak bisa mempunyai sedikitnya 3 sepeda motor. Coba diitung-itung sendiri, saya tidak pandai ngitung takutnya nanti fitnah, yang jelas hasilnya buanyak banget masyarakat yang punya kendaraan tersebut. Faktanya seperti itu, lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengendalikan laju kepemilikan transporasi pribadi ini. Kalau saya jadi pemerintah ya saya mahalkan harga produknya, naikkan biaya pajak pertahunnya agar masyarakat mikir dua kali sebelum membeli. Tapi sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut, mungkin saya keburu di “dor” sama separatis.

Maka sebenarnya beruntunglah kita jika yang naik  adalah biaya pembuatan STNK, toh selama lima tahun ini biaya pembuatan STNK juga belum naik (atau memang ndak bayar?). Ketimbang harga pajaknya dan produknya yang naik, terus anak cucu kita jadi tidak bisa menikmati kemacetan karena tidak sanggup beli kendaraan. Pilih mana? Om telolet om~

Bersedia, siaaap.. (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Teruntuk adik-adik sekalian yang baik budinya, sayapun memaklumi berprasangka baik itu susah sekali. Sesusah saya rela makan nasi dan sambal lalu meninggalkan kulit ayamnya untuk dimakan di akhir, kemudian sekedipan mata zap! Kulitnya hilang! Bahkan sahabat yang berada di dekatpun rela saya gampar atas perkara ini. Tapi sesusah apapun prasangka baik harus diperjuangkan di negeri yang menjunjung tinggi nilai kemajemukan ini.  Sebagai mahasiswa eksekutif saya percaya seratus persen anda sekalian ini paham dengan struktur, strategi dan etika politik baik di kampus maupun di pemerintahan (atau salahsatunya), maka seyogyanya mbok ya dipikir dulu kalau mau aksi.

Jika adik-adik pikir aksi tersebut bakal seperti aksi kakak-kakak kita saat melengserkan orde baru, jawabannya adalah salah besar. Makin nyatalah yang ditakutkan atas perubahan ospek yang semakin tahun kehilangan militansinya, jadi berbuat aksi yang justru malah merendahkan kelasnya. Adik-adik sekalian, negeri ini sedang diuji kebhinekannya sekaligus di beberapa tempat juga sedang diuji rakyatnya, maka bijaklah dalam menentukan sikap. Jangan menghasut atau malah terhasut oleh baron berkepentingan, atau lebih baik urusi kampus sendiri lah dik, toh kampusmu juga sama bobroknya dengan negara ini kan, sepertinya kampusmu lebih membutuhkan kamu secepatnya.

Saya sendiri juga lagi pusing. Kuliah sudah hampir menuju titik akhir alhamdulilah diberi cobaan oleh Tuhan, pujasera kampus mau digusur. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Rektor sepertinya tidak berpihak pada mahasiswa luhur tingkat akhir yang hampir setiap sore menghabiskan waktunya untuk berdebat tentang jalan keluar supaya cepat lulus dari kampus. Hal-hal seperti ini yang seharusnya diperjuangkan bersama, karena tingkat urgensinya lebih tinggi. Ya benar, kalu bukan mahasiswa  kampus sendiri yang memperjuangkan mau siapa lagi. Ndak mungkin pula yang demo ormas sebelah kan? 🙂

 

Nasionalisme Islamisme dan Marxisme


Penulis : Ir. sukarno

Penerbit : Kreasi Wacana

Pak Sukarno adalah salahsatu dari sang Dwitunggal yang memproklamirkan negara bumi pertiwi, salahsatu dari sekian banyak para cendikiawan kala itu yang tujuannya adalah usaha memerdekakan rakyat dari segala penindasan kolonial. Banyak gagasan dari beliau yang membuat saya kagum, salahsatunya adalah yang tertulis di judul review ini yang kemudian menurut saya menjadi cikalbakal ide nasakom. 

Saya merasa beruntung mendapatkan buku ini mengingat buku macam ini ndak ada di toko buku besar di tiap kota. Menurut Dr. H. Moechlis Noer Rochman tulisan pak Sukarno ini pernah diterbitkan oleh pimpinan Pandu Nasionalis Indonesia pada tahun 1956, namun seiring berjalannya waktu terbitan tersebut hanya beredar dalam bentuk fotokopi. Yang menarik di buku ini adalah tulisan pak Karno benar-benar ditulis seperti adaya, hanya penulisan ejaan orde lama  (seperti “oe” “dj”) disunting ke EYD yang baku. Mungkin agar supaya para pembaca faham betul dengannya. 

Buku ini membahas apa itu Nasionalisme, apa itu Islamisme dan apa itu Marxisme. Bagi beliau, 3 azas tersebut adalah layak sebagai panutan Indonesia. Ketiga azas tersebut memang terlihat saling berkontradiksi satu sama lain, namun pak Karno secara gamblang dapat menjelaskan betapa selarasnya ketiga azas tersebut untuk Indonesia. Wawasan beliau pada pergerakan luarnegeri tertuang pula dalam tulisannya dan ditulis sedemikian rupa agar pembaca mampu memahami arah usaha menuju kemerdekaan yang kuranglebih sama dengan yang lain. 

Matur Nuwun 2016


30 Desember 2016, ndak terasa tahun genep tinggal sehari lagi (re : tinggal tanggal 31). Wah wah, kalau mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi jadi senyum-senyum sendiri. Dimulai dari awal tahun kondisi saya kurang lebih sama kayak penghujung tahun ini alias perlu istirahat total karena sakit kambuh. Tahun 2016 kambuhnya di awal sama di akhir. Sungguh disayangkan.

Diawali dengan cuti di separuh tahun pertama, kemudian saya mengambil kuliah kembali di separuh tahun kedua. Ndak banyak, hanya 6 sks 2 diantaranya adalah seminar proposal skripsi salahsatu yang butuh treatment khusus. Alhamdulilah 6 sks bisa saya selesaikan walaupun di menit-menit akhir sudah hampir ambruk. Tahun ini kenalan-kenalan saya dari angkatan bawah juga mulai banyak. Hmm.

Juni 2016 kopintar dipugar diganti dengan yang baru, namanyapun kemudian digubah menjadi psycoffee. Tetap menjadi kedai kopi yang bisa dinikmati dari semua kalangan. Disini adalah tempat baru saya untuk belajar bagaimana cara membangun dan mengatur tempat usaha. Disini pula lidah ini mulai dikenalkan dengan kopi, sebuah minuman pekat yang ternyata memiliki khas dari berbagai daerah. Kopi kui duwe cerito lan howone dewe dewe begitu kata teman saya yang memang sudah cinta mati dengan kopi. Mulai di titik ini saya belajar etika menyeduh kopi dengan benar. 

Menghabiskan waktu di kedai kopi membuat saya berkenalan dengan orang-orang baru. Mereka mempunyai cerita masing-masing dan sangat menginspirasi saya tak terkecuali carut marut perpolitikan di negeri ini. Entah kenapa belakangan tahun ini saya tertarik untuk nyinyir tentang hal tersebut bersama mereka. Beberapa juga saya tulis di blog ini. Oh hampir lupa, tahun ini saya juga punya rumah baru untuk menulis. Di sini opsinya lebih menarik dan saya menjadi lebih menggebu dalam menulis.

Akhir kata, terimakasih 2016, terimakasih teman-teman yang membuat saya bersemangat di tahun tersebut. Selamat menyambut tahun baru 2017. 
Semangat ! 

*Tulisan ini dibuat tanggal 30 dan selesai tanggal 1, tahun berikutnya.*

Toleransi To 


Toleransi sebuah kata sakral yang memiliki fungsi menjaga kedamaian di dunia. Apapun bahasanya toleransi merujuk pada saling menghargai, saling mengalah pada yang lebih penting dan saling interospeksi diri dari segala khilaf yang dilakukan oleh antar golongan. 

Alih-alih menjadi kata pemersatu di negeri ini toleransi kini menjadi kata yang sensitif bagi sebagian telinga masyarakat. Golongan satu menyerang golongan lain dengan dalih tidak menunjukkan toleransi atas keyakinannya. Golongan satu melarang kaumnya untuk bertoleransi pada golongan lain dengan dalih bisa melemahkan golongannya. Omong kosong bung ! Negeri ini dibangun atas keberagaman ! Toleransi adalah bentuk pengejawantahan dari Bhinneka Tunggal Ika. 

Toleransi kini mengalami penyempitan makna. Jika dirimu menghargai diriku lebih dulu maka aku layak mentolerir dirimu. Jika tidak ya tidak. Sungguh ironi. Bagaimana jika semua orang berfikir seperti itu? Seolah bumi hanya milikmu saja. Tuhan menciptakan banyak keyakinan dan budaya untuk belajar tentang keberagaman. 

Semoga toleransi akan terus ada di negeri ini.  

Rakyat Berdaulat/Konglomerat Berdaulat


Di penghujung 2016 negeri ini diterpa banyak sekali cobaan. Persaingan pemilihan calon DKI 1 yang berujung tersulutnya isu SARA menjadi sebuah drama yang entah kapan selesainya. Mayoritas menendang minoritas, klasik sekali. Korbannya adalah masyarakat, bukan yang hanya di DKI saja tapi hampir dari seluruh penjuru negeri ini. Perlahan isu berhembus bergeser jadi saling mengharamkan. Haram ini haram itu, yang semula tujuannya jelas (jelas?) Kini semakin kemana-mana. Sasarannya tidak tanggung-tanggung masyarakat yang berbeda keyakinan. Meskipun sudah diingatkan, disindir secara halus dan “nylekit” seolah tak jadi soal. Bahkan yang seimanpun juga kena. Berbeda pandangan langsung ditatap sinis dan diteriaki bid’ah. Oh negeriku, bukankah semboyan kita masih Bhinneka Tunggal Ika?

Beberapa waktu lalu densus kembali melakukan aksinya. Penyergapan yang dilakukannya di Bekasi membuahkan hasil. Disitanya panci presto yang didalamnya terdapat bom dan sekarung paku dan gotri rencananya akan diledakkan di Istana adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Di negara lain aksi serupa bahkan telah merenggut banyak orang. Namun bagi sebagian masyarakat kita kejadian ini tidak begitu menarik. “Ini cuma pengalihan isu”, katanya. Pengalihan isu dari kasus SARA yang lagi santer. Masyarakat negeri ini selalu saja begitu.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga sedang terjadi kasus yang seru, tapi sepertinya layar kaca masih menganggap kasus DKI yang bisa menarik minat masyarakat. Sebutlah saja kasus semen di daerah kendeng. Semua petani disana menolak, mereka mau kerja apa jika daerah mereka dijadikan lahan mengeruk semen. Tapi sepertinya kepala daerah punya kepala batu. Tuntutan para pejuang pangan garis depan ini belum digubris walaupun pengadilan tertinggi (di negeri ini) telah mencabut. Ada pula di Yogyakarta daerah istimewa. Konon “Yugjo” dahulu merupakan kerajaan yang dipimpin oleh kesultanan. Sampai kinipun juga begitu, sampai-sampai undang-undangnya pun dicap “istimewa”. Namun cap tersebut menjadi prahara bagi masyarakat Kulonprogo dan Parangkusumo sebab tanahnya diusik mau dijadikan bandara dan wisata bagi para jajaran keraton. Sekali lagi apa bandara bisa mengenyangkan perut? 

Negeri ini menganut demokrasi dimana rakyat berperan dalam pelaksanaan pemerintahan dan politik melalui wakil rakyat. Berarti rakyat juga ikut memutuskan nasibnya, nasib daerahnya dan nasib pemimpinnya. Namun hal ini belum sepenuhnya terwujud. Para baron menggunakan kekuasaanya untuk dirinya dan keluarganya. Pada akhirnya sebagian rakyat marah dan mengangap demokrasi ini sudah busuk dan layak untuk diganti. Sebenarnya yang harus berdaulat rakyat atau konglomerat? 

Randomisasi Dini Hari


Sebuah kamar paling depan, dengan dua jendela yang menghadap ke jalan, di dekatnya terdapat meja kemudian laptop diatasnya. Adapun kursi menyertai kehadiran meja dikamar tersebut, disitulah saya sekarang, lebih tepatnya sedang menulis ini. Belakangan fisik ini kurang bersahabat, heran saya, padahal hari – hari berlangsung secara konstan (sudah terotomatisasi) dan tidak ada hal berat apapun, mungkin karena cuacanya.

Cuaca belakangan ini membuat jenuh. Gimana ndak jenuh, jam 12 siang awan kelam berkumpul diatas rumah, selang beberapa waktu berikutnya petir menyalak lalu byur!! hujan mengguyur. Ndak sehari dua hari, tapi sudah beberapa minggu ini seperti itu. Saya yang notabene kuliah di siang hari jadi mager dibawah selimut walhasil jadi titip absen sama kawan kelas.

Jam setengah empat dini hari ini saya berencana melanjutkan tulisan saya untuk menanggapi aksi heroik tempo lalu di Jakarta, tapi entah kenapa malah tertarik ngisi rubrik random ini mungkin karena yang dibahas kelewatan banyak. Belakangan ini kondisi dunia maya di genggaman saya lagi panas – panasnya. Mulai dari Ahok yang jadi tersangka tapi malah seneng, Buni Yani jadi tersangka minta dukungan, SBY ngarep diundang pakpres dan masih banyak lagi itu semua jadi penuh di long therm memory saya manggil – manggil buat dibikin tulisan sampai bingung harus dimulai darimana.

Berbicara soal tulisan, tadi sore saya bertemu sama lik Billy. Saya mengobrol mengenai banyak hal hingga pada akhirnya ada gagasan menarik yang tercipta. Saya diijinken menyetak leaflet yang saya bikin sendiri berisi opini saya selama periode tertentu. Girang bukan main ya to, ini kesempatan untuk menularkan gagasan dan keresahan praktis yang ada kepada semua orang he he he.

Berhubung sudah adzan shubuh saya sudahi dulu kerandoman ini, tak lupa saya ingatken bagi yang beragama untuk berdoa untuk negeri, ben ndak kuwalat lek jare wong sepuh.

Soempah Pemoeda Beginilah Adanja


Postingan tertanggal 23/10/2016

Soempah Pemoeda

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

27 dan 28 oktober 88 tahun yang lalu terjadilah sebuah rapat akbar atau yang disebut dengan Kongres Pemuda II oleh generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Mereka berbondong – bondong menuju jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat untuk turut serta dalam kongres tersebut. Tercatat pemuda Betawi, Sumatera, Sulawesi, Jawa, Ambon sampai dari yang berada dari luar negeri pun disempatkan untuk hadir dalam kongres. Beberapa dari yang datang berasal dari organisasi kedaerahaan di daerahnya. Sebutlah saja Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes, Jong Bataks dan Jong Sumateranen. Ada pula dari organisasi yang berbasis di Jakarta. Organisasi – organinsasi yang turut dalam kongres tersebut merupakan representasi dari semangat kebangkitan nasional yang dicetuskan oleh dr. Sutomo pada tahun 1908.

Perbedaan latar belakang bukan jadi soal. Karena para pemuda merumuskan apa saja yang harus dilakukan pemuda Indonesia dalam memperjuangkan segala sesuatunya. Sumpah pemuda sebagai perwujudan “Satu Indonesia” sebagai salahsatu hasil dalam kongres besar tersebut. Adalah Muhammad Yamin yang menuliskan sumpah tersebut dalam secarik kertas, kemudian ditunjukkan kepada Soegondo lalu bung tersebut membubuhkan parafnya dalam kertas pertanda setuju diikuti dengan yang lain.

28 Oktober 1928 pula lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan dimuka umum. Konon katanya, yang datang pada saat itu hanya menyanyikan nadanya tanpa menyanyikan liriknya karena takut ditangkap oleh pemerintah belanda. W. R. Soepratman sebagai salah satu pemuda yang hadir dalam kongres sekaligus menggubah lagu Indonesia Raya. Karya yang fantastis, usut punya usut Indonesia Raya punya magis tersendiri seperti God Save the Queen nya Inggris Raya.

“Nasipkoe soedah begini. Inilah yang disoekai oleh pemerintah Belanda. Biar saja meninggal, Indonesia pasti merdeka”. (kutipan surat terakhir sebelum beliau meninggal)

Sumpah pemuda menjadi legendaris tatkala Muhammad Yamin dengan briliannya menggubah 3 kalimat sakral tersebut menjadi hasil dari kongres meskipun menurut Erond Damanik Peniliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu – Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan kata sumpah pemuda baru disahkan pada 28 Oktober 1954 pada saat Kongres Bahasa Indonesia kedua.

Setidaknya sumpah pemuda menjadi kebanggan generasi muda saat pra kemerdakaan sampai orde baru lengser. Sampai orde baru? Tunggu, bukankah generasi muda masih terus akan bermunculan? Jika boleh berandai, saya begitu merindukan semangat generasi muda saat itu. Bukan berlebihan saya berkata hal tersebut, Indonesia merdeka siapa lagi jika bukan generasi muda yang memegang peranan penting dalam merebutnya.

Sebutlah saja Sukarni, lelaki yang berasal dari Blitar dengan beraninya meyakinkan dwitunggal untuk meninggalkan ibukota dengan alasan akan terjadi pergolakan politik (padahal hal itu sama sekali irasional). Lalu ada Johannes leimena, pemuda ambon yang juga berperan dalam 28 Oktober 1928 begitu cemerlang, pemuda yang dikatakan paling jujur oleh Soekarno ini sampai diganjar menjadi menteri kesehatan di era kabinet Sjahrir. Karya nyatanya adalah puskemas yang ada hingga sekarang. Mari kita bertolak jauh sebelum kemerdakaan tercapai, saat Ahmad yani, Nasution dkk masih berlatih dibawah komando PETA atau bahkan KNIL. Orang – orang seperti Sjahrir dan Mister Amir sudah melakukan pergerakan underground untuk mengumpulkan massa untuk bergerak secara diplomatis sebelum pada akhirnya ditangkap.

Yang lebih takjub generasi PKI pasca Musso, sebutlah Aidit, Nyoto, Lukman dan Sudisman mereka berhasil membawa partai yang dicap terlarang tersebut mencapai era gemilang. Saya cuman bisa geleng – geleng kepala dikala membaca artikel singkat di instagram yang menunjukkan 4 orang muda tersebut tidak satupun yang berumur lebih dari 30 tahun. Betapa hebatnya, saya yang sekarang menginjak umur ke 23 masih ruwet dengan skripsi. Tapi sudahlah mereka juga dianggap setan pengganggu sejarah.

Beralih ke era sekarang, mari kita bercermin diri, sudahkah kita mengobarkan semangat sumpah pemuda pada diri masing – masing? Di tengah hegemoni kealayan yang kian menjamur. Teknologi yang diharapkan membantu memudahkan dalam berinteraksi justru malah menjadi majikan yang memperbudak kita. Jika kita membaca sejarah kejayaan generasi muda sudah selayaknya kita malu atas apa yang sudah kita perbuat. Semua orang jelas tidak pernah bisa lari dari kontroversi, selalu saja ada sisi gelap yang mengikuti mereka, namun lain halnya dengan yang terdahulu kontroversi mereka sungguh layak untuk diingat dan diingat.

Bermodalkan sosial media hits kita bisa terkenal dalam hitungan jam saja, tinggal foto dengan smartphone, filter sana – sini, lalu upload beres urusan. Pengakuan dan apresiasi secara nyata tidak lebih besar dari pengharapan like dan share (saya pun juga begitu tidak bisa dipungkiri). Youtube, web terdepan saat ini yang digadang – gadang bisa menandingi kekuatan magis dari televisi memiliki segudang konten positif dari para pencipta konten yang tak terbendung idenya, namun sayangnya di negeri tercinta ini generasi muda malah lebih tertarik pada konten sepele yang judulnya menggelegar isinya kosong atau artis kemaren sore yang penuh dengan kontroversi jahanam. Sebutlah saja Yanglek dan Auasin dengan kata – kata magisnya berbunyi

“Kalian semua suci, aku penuh dosa”

Sejujurnya, bagi saya yang pantas mengatakan hal itu adalah saudara Aidit teman – teman sekalian.

Wahai generasi pemuda Indonesia, negara kita sedang dalam krisis identitas. Ideologi yang kian terkikis oleh masyarakatnya sendiri yang gampang dihasut oleh orang – orang liar dibalik kedok agama/keyakinan yang bagi mereka tidak sesuai. Pembredelan diskusi sana – sini yang dianggap aparat mengancam ideologi padahal hanya tanya jawab tentang sejarah yang sengaja dibolak – balik agar terkesan karismatik dan penuh perjuangan. Belum lagi masalah perut para tikus berdasi yang tak kunjung kenyang makan uang dari rakyat.

Sekali lagi saya tegasken, Indonesia butuh anda ! para pemuda !