Animal Farm


penulis : George Orwell

penerjemah : Prof. Bakdi Soemanto

Penerbit : Bentang

Belakangan saya baru saja membaca sebuah novel ringan karangan George Orwell. Akibat dari lelah membaca buku “serius” yang cukup menjemukan. Lelah bukan berarti bosan atau apapun, melainkan kondisi dan tuntutan yang lain membuat pikiran menjadi terkuras habis.

Animal farm atau peternakan binatang adalah judulnya. Saya pikir, novel ini bisa saja juga disebut fabel. Buku ini menceritakan kehidupan binatang di sebuah peternakan di negara Inggris, dimana semua binatang telah jenuh terhadap kehidupannya dan mengidamkan kehidupan yang bebas dan merdeka. Mimpi mereka pun benar – benar terjadi ketika sekelompok babi yang juga bagian dari hewan – hewan yang ada di peternakan tersebut berhasil menghimpun kekuatan dan menjalankan taktik yang begitu cerdas hingga akhirnya pemilik peternakan berhasil diusir dari tempatnya. kemudian mereka mulai menyusun kehidupan yang layak bagi sesama mereka dan menjalankan peternakan untuk kesejahteraan mereka.

Dari semua binatang tak semuanya mereka pintar. Hampir dari seluruh binatang memiliki intelejensi rendah. Para babi menjadi yang paling pintar diantara mereka, sehingga mereka memimpin peternakan tersebut, mereka -para babi- bertugas berfikir dan berfikir demi kesejahteraan peternakan binatang dan sisanya mengandalkan otot. Bulan demi bulan dilewati, pemberontakan yang mereka lakukan sudah lama berlalu dan sebagian menyadari bahwa kemerdekaan yang diidamkan hanyalah khayalan. Para babi menjadi pengganti manusia yang serakah.

Di bab bab awal saya merasa cerita ini mengisahkan perjuangan dari sekelompok kaum untuk merdeka dan diakhiri dengan kehidupan yang sejahtera. Tapi nyatanya tidak, saya tersenyum miris ketika mengakhiri cerita ini. Saya menjadi teringat banyak peristiwa di dunia tentang pemberontakan demi kehidupan yang lebih baik tapi justru berganti pada penindasan yang lain. Jika dilihat kembali pada novel tersebut kebodohan adalah menjadi biang dari datangnya penindasan yang lain. Pendidikan yang tidak merata membuat masyarakat mudah disetir oleh pemimpin yang menawarkan kehidupan yang tenang.

Animal farm merupakan novel alegori yang ditulis saat perang dunia kedua. Sesaat di zamannya novel ini dianggap angin lalu, namun akhirnya banyak yang menyadari bahwa novel ini begitu satir terhadap kondisi politik pada saat itu. Novel ini boleh jadi sarana pada generasi milenial untuk mengetahui politik yang tengah dirasakan.

Advertisements

Zaman Peralihan


Penulis : Soe Hok gie
Penerbit : mata bangsa

Soe hidup di zaman dimana negeri ini masih seumur jagung. Bung Karno dan kawan – kawannya sedang memperjuangkan kedaulatan Indonesia, namun Soe banyak melihat hal yang berbeda. Lahir dari seorang penulis, Soe kecil gemar sekali membaca buku. Kegandrungannya menikmati buku membuatnya menjadi seorang yang kritis, bahkan dirinya kritis di saat anak sebayanya masih bermain – main. Berlanjut menempuh pendidikan tinggi, Soe makin menunjukkan kekritisannya kepada pemerintah. Mulut dan penanya yang tajam membuat dirinya menjadi bahan omongan di sekitaran almamaternya. Pun juga tulisan – tulisan yang ditulis di media untuk pemerintah dan kampusnya menjadi buah omongan. Tak jarang Soe kerap mendapatkan ancaman karena tulisannya mengancam sebagian golongan, namun adapula yang mengajak Soe untuk bergabung dalam pergerakan – pergerakan untuk menghantam pemerintahan. Sejarah mencatat Soe tidak pernah secara resmi bergabung dalam pergerakan atau aktivisme di eranya, namun Soe dikenal dekat berbagai kalangan, gagasan dan inisiasinya dipakai oleh pergerakan mahasiswa yang sepemahaman dengan dirinya.

Zaman peralihan merupakan kumpulan tulisan yang dibuat Soe dan dicetak di berbagai media zaman itu. kumpulan tulisannya seputar buruknya idelaisme mahasiswa, bobroknya Universitas Indonesia, dan rezim baik orla maupun orba yang diisi oleh orang – orang tanpa integritas dimuat dan dibaca oleh semua orang dan menginspirasi bagi sebagian orang. Agaknya beberapa dari kumpulan tulisan dalam Zaman Peralihan ini masih relevan untuk mengkritik rezim dan kaum milenial saat ini. Saya sendiri merasa terpecut di beberapa bab dalam buku ini, tulisannya begitu tajam, seolah berusaha menyingkirkan kenistaan yang telah lama ada.

Buku ini terbagi menjadi 4 bagian besar yakni : masalah kebangsaan, masalah kemahasiswaan, masalah kemanusiaan, dan catatan turis terpelajar. Dengan membacanya, saya mencoba menebak apa yang ada di pikiran Soe selama dirinya hidup. Soe merupakan sosok yang keras terhadap rezim Soekarno di tahun 65 an. Saat itu banyak terjadi pergolakan disamping tragedi yang tentu kita kenal sampai sekarang, gestapu. Soe melihat banyak ketimpangan sosial yang terjadi antara golongan masyarakat dan para abdi negara. Dari kacamatanya, Soekarno merupakan sosok berjouis yang sibuk dengan kemewahan, pun pula diikuti oleh orang – orang dibawahnya. RI 1 tersebut sibuk membangun istana, beristri banyak dan para orang – orangnya sibuk memperkaya diri dan bepergian ke luar negeri. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat saat itu. Harga sembako dan bahan bakar yang terlampau tinggi, lebih – lebih pasca gestapu memicu terjadinya aksi massa. Demonstrasi besar – besaran bisa dikatakan dipicu oleh mahasiswa UI saat itu, dan Soe adalah salah satunya. Seputar demontrasi tersebut menuntut adanya penurunan sembako dan bahan bakar, perombakan besar – besaran kabinet dwikora dan bubarkan PKI. Memang pada saat itu massa rakyat sudah terlanjur marah dengan partai yang berkiblat pada Tiongkok. Demontrasi besar – besaran tersebut menjadi salah satu yang turut andil dalam pelengseran Soekarno yang dianggap tidak lagi memiliki kredibilitas dan pada akhirnya beliau pun lengser. Setelah orde baru berkuasa para alumni dari demontrasi besar – besaran rupa – rupanya mendapat jatah kursi di Senayan. Sebagian kawan Soe menyambut tawaran manis tersebut, dan hal tersebut memicu Soe untuk mengkritiknya.

Di dalam kampus sendiri Soe melihat banyak “kebopengan” yang terjadi dalam UI. seputar polemik mahasiswa yang tak lagi memiliki idealisme, dosen – dosen yang tak memiliki integritas sampai harapan palsu yang diberikan perguruan tinggi kepada remaja – remaja yang memiliki cita – cita tinggi. Tulisan – tulisan Soe seputar hal – hal tersebut menuai kecaman di tempat kerjanya, yakni fakultas sastra UI. Menurut Soe, banyak korupsi yang terjadi dalam kampus saat itu dan musahil untuk tidak tercium, mulai dari anggaran acara dan alat ospek sampai hal yang lain. Soe juga mengkritik bagaimana dewan mahasiswa saat itu yang diisi oleh ormas – ormas mahasiswa seperti PMKRI GMNI HMI dan lain sebagainya. Senat – senat yang menyatakan dirinya murni malah dianggap sebagai pengacau kampus. Tentunya hal ini tak menjadi soal saat dewan mahasiswa “sehat”, namun pada kenyataannya tidak. Banyak kontrak politik yang timpang menurutnya.

Huru hara pasca gestapu membuat rezim melakukan pembersihan besar – besaran atas siapapun yang terlibat dalam PKI. Salah satu operasi yang disoroti Soe pada saat itu adalah seputar pembantaian yang ada di Bali. Di dalam operasi tersebut Soe menulis bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak bermoral. Pembantaian merupakan kata – kata yang paling pantas disematkan dalam peristiwa tersebut. Mereka yang dicap PKI atau dipaksa mengakui kalau dirinya PKI dihabisi. Menurut Soe banyak diantara para tahanan politik yang meminta untuk dibunuh secepatnya karena mereka tahu bahwa akhir hidup mereka adalah kematian.

Sebulan setelah gestapu keadaan di Bali berubah. Berbeda di Jakarta yang mana kaum nasionalis dan komunis makin terdesak, di Bali para petinggi dari dua poros tersebut sibuk saling tunjuk menunjuk untuk dijadikan sasaran pembinasahan PKI. Dalam buku ini, Soe mengatakan tokoh PNI bernama Wedagama mrnghasut rakyat bahwa membunuh PKI adalah dubenarkan Tuhan dan tidak akan disalahkan oleh hukum.

Akhir kata, buku ini menarik untuk dibaca para mahasiswa yang menginginkan perubahan. Dalam buku ini terdapat banyak sekali sejarah dan gagasan yang masih relevan jika dikaitkan dengan keadaan saat ini.

The Missing link G30S


Sjam Kamaruzzaman bekerja untuk siapa?

Penulis : Agung Dwi Hartanto

Penerbit : Narasi

Barangkali anda sudah mengetahui peristiwa G30S atau yang biasa disebut dengan gestapu. Peristiwa penculikan tujuh jenderal oleh mereka yang mengklaim dirinya akan menyelamatkan negara dari coup dewan jenderal. Dalam pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, diceritakan gerakan tersebut dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia namun apakah benar seperti itu? Mengingat masih banyak yang abu – abu dari peristiwa tersebut, lebih – lebih si pembuat peristiwa tersebut dari rezim orba.

Buku ini mencoba mengulik salah satu tokoh penting dari PKI, Sjam Kamaruzzaman. Sjam adalah orang di departemen organisasi PKI yang kemudian di era Aidit diganti nama menjadi Biro Chusus (BC). Biro Chusus adalah kelompok khusus yang wewenangnya ada di bawah Aidit langsung dan sifatnya rahasia. BC diciptakan untuk menciptakan kader dan memata – matai lawan politik. Di era orde lama intel memang bukan hal yang asing dalam organisasi. Kelak BC ini pulalah yang mensetting peristiwa G30S. Perlu diketahui Aidit merupakan ketua Central Comite (CC) PKI, bersama Lukman, Sudisman dan Njoto di jajaranya. Bersama BC, Sjam menghimpun kekuatan termasuk merekrut petinggi – petinggi TNI AD dan sebagian AU yang progresif revolusioner.

Sjam dilahirkan di Tuban tahun 1924 dan berdarah arab. Sepak terjang Sjam dimulai saat dia berpindah kota menuju Yogyakarta, disana berlatih militer dan kelak bertemu dengan Soeharto atas prestasinya melawan Jepang disana. Selain Soeharto, Sjam juga kenal dengan Wikana dan Sjahrir di Yogyakarta dan mendatangi Pesindo serta PAI. Kelebihan Sjam adalah dirinya bisa diterima di berbagai organisasi dan perkumpulan politik karena Sjam tahu apa saja. Awal bertemu Aidit ketika Sjam menjadi informan Moedigdio, beliau merupakan mertua Aidit dan masih setrah dengan R.A. Kartini. Setelah peristiwa Madiun 48 PKI dan kelompok kiri lainnya kocar – kacir. Moedigdio ditangkap dan dihukum mati. Sjam membantu pelarian Aidit, konon kisah Aidit berada di Vietnam ketika peristiwa Madiun 48 adalah skenario Sjam.

Atas jasanya menyelamatkan Aidit dan keluarganya, Aidit mengajak Sjam untuk bergabung dalam PKI. Tahun 1951 terjadi revitalisasi besar – besaran, Aidit berhasil mengonsolidasi generasi muda PKI dan merebut partai dari kalangan tua, ini merupakan PKI era baru. Di tangan Aidit, PKI berhasil menjelma menjadi partai elit. Kader – kader partai berhasil menduduki jabatan strategis di pemerintahan, PKI menjadi partai yang diperhitungkan. Sampai pada akhirnya isu dewan jenderal merebak, PKI menjadi salah satu khawatir. Kesehatan Soekarno yang kala itu sedang menurun, ditambah Jenderal Yani yang semakin dekat dengan Amerika semakin menguatkan bakal terjadi coup oleh dewan jenderal. Otak cemerlang Sjam dan segala informasinya membuat G30S pun terjadi. Aidit yang kala itu menjabat sebagai ketua CC PKI pun menyerahkan segala sesuatunya kepada Sjam. Sjam pun menjadi otak gerakan 30 september dibantu perwira – perwira progresif yang tidak pro dengan Jenderal Yani.

Dalam buku ini Sjam dianggap sebagai saksi kunci peristiwa berdarah tersebut. keterangan Sjam seharusnya bisa menyambungkan mata rantai yang terputus sampai sekarang. jalan cerita dalam buku ini begitu menarik dan memaparkan fakta yang ada dari berbagai sumber. Sjam dikenal dekat oleh Soeharto, Sjam kenal dengan Sjahrir, Sjam pernah bekerja dengan orang Amerika, bahkan Sjam pernah berada pada satu tempat dengan Soekarno. Siapa sebenarnya Sjam? sampai informasinya di sidang mahkamah militer luar biasa bisa menyeret siapapun untuk dihukum mati. Sejauh apa keterlibatan Sjam pada G30S? sampai kematiannya harus ditunda sampai sekian puluh tahun. bahkan Kolonel Abdul Latief, salah satu hasil kaderisasi BC yang terlibat dalam G30S melihat Sjam masih hidup di tahun 1990. Ada pula yang bilang bahwa Sjam kebal peluru sehingga diistimewakan saat dalam tahanan.

Dan yang paling penting, Sjam bekerja untuk siapa?

 Danur


By true story

Sudah lama saya tak menonton film bergenre horor di bioskop, sampai pada akhirnya tertarik dengan film horor Indonesia yang berjudul Danur. Tepat tanggal 30 Maret film tersebut tayang perdana di bioskop dan berangkatlah saya untuk menontonnya. Wait? Selamat hari film Indonesia, saya bersyukur merayakannya dengan menonton karya lokal yang cukup bagus (ini penilaian amatir). 

Danur yang artinya bau mayat disadur dari novel karangan Risa Saraswati, sebuah novel berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang dialaminya. Jadi ceritanya Risa bisa melihat hantu sedari kecil, kemudian pengalamannya dikisahkan dalam novelnya. 

Risa kecil hidup sendiri di rumahnya. Tak sendiri juga sebenarnya, ia tinggal bersama ibunya dan pembantunya, ayahnya berada di luar negeri yang hanya beberapa kali pulang. Ibunya bekerja dan hampir setiap hari pulang larut malam sehingga Risa kecil hidup sendiri setiap hari. Sampai pada suatu hari ketika Risa kecil berulang tahun ke 8, Risa kecil merayakannya sendiri dan berdoa agar ia punya teman di umur barunya. 

Sepertinya doanya terdengar, beberapa saat kemudian terdengar sosok lebih dari satu berlari di lantai atas. Merekalah yang bernama Jansen, Peter dan Wiliam. Hantu yang bisa dilihat Risa dan menjadi sahabatnya sampai besar. Namun perjalanannya tidak seindah yang dikira, Risa sempat shock begitu tahu mereka ternyata hantu dan dibukakan matanya  dan melihat wujud mereka yang sebenarnya oleh paranormal yang diajak ibunya untuk mengobati Risa. Hingga akhirnya mereka tidak menghuni rumah itu lagi. 

Ketika Risa beranjak remaja, ia kembali datang ke rumah itu bersama Riri adiknya. Ia akan merawat neneknya yang sedang sakit untuk sementara waktu karena suster yang baru belum didapat. Tinggallah Risa bersama adik dan neneknya di rumah lamanya. Risa yang tidak terbiasa bermain adiknya, suatu ketika membiarkan adiknya pergi bermain keluar rumah. Riri bermain di sebuah pohon tua dan menemukan sebuah sisir disana. Dan siapa sangka sisir tersebut membawa hantu jahat ke dalam rumahnya yang tak disadari oleh Riri dan Risa, mereka menyangka hantu tersebut adalah suster baru yang dikirim oleh ibunya. 

Film ini begitu menarik karena berdasar kisah nyata. Selain mbak Prilly yang memerankan Risa saat remaja yang cantik, horor yang begitu kental dan fokus cerita yang jelas tanpa embel embel porno menjadi kelebihan film ini. Tidak hanya mbak Prilly saja, yang memerankan Jansen, Peter dan William juga sangat mengagumkan. 

Saya pikir tidak ada salahnya anda menonton film ini. Ini film bagus, dan mungkin saja bagi anda yang menganggap film Indonesia tidak lebib baik daripada film luar negeri pun berubah. 🙂

Salam, 

Student Hidjo 


Hidjo si pintar dari kaum priyayi

Penulis : Mas Marco Kartodikromo

Alkisah ada sebuah buku nyempil di ruang tamu rumah saya. Saya yang lagi gandrung baca buku pun tertarik untuk mengambilnya. Oh, ternyata sebuah novel dengan tampilan muka gambar seorang anak muda dan sebuah dokar yang membawa penumpang beserta kusirnya. Terlihat dari sampulnya menggambarkan buku ini berkisah di zaman kolonial, anak muda tersebut terkesan dari keluarga priyayi. Saya pun mulai membaca novel tersebut. 

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari keluarga saudagar bernama Hidjo. Hidjo anak yang pintar lulus dari sekolah setingkat SMA bikinan Belanda di Solo. Hidjo gemar membaca, buku menjadi teman akrabnya sehari-hari. Selain kehidupannya dengan buku, Hidjo memiliki partner asmara alias tunangan yakni Raden Adjeng Biroe. Perangainya yang cantik membuat masyarakat pribumi dan kompeni juga tertarik padanya. Baik Hidjo dan Biroe mereka saling mencinta. 

Setelah lulus SMA, bapak dari Hidjo berniat mengirimkan anaknya ke Belanda. Si bapak ingin Hidjo menjadi insinyur dan menguliahkannya di delfh, Belanda. Hidjo mau-mau saja di kirim kesana, namun lain halnya dengan ibu dan Biroe. Mereka berat hati melepas Hidjo, karena dirinya anak semata wayang, lagipula di Belanda kehidupannya sangat berbeda dengan di Jawa. Ibunya takut Hidjo kelak menjadi anak yang meninggalkan adat dan budaya Jawanya. Setelah Hidjo pergi ke Belanda, lika liku cinta Hidjo dan Biroe pun terjadi. 

Novel ini mengisahkan kehidupan Jawa dan Belanda yang sangat berbeda. Kehidupan Jawa yang diwakili oleh golongan priayi penuh dengan unggah ungguh dan kehidupan Belanda yang swrba modern, penuh dengan hiburan, dan kehidupan bebas. Kisah cinta yang tidak menye menye dan adab yang baik dikisahkan di Jawa. Perjodohan keluarga tanpa harus memaksakan kehendak sesama.

Novel ini ditulis orang yang sama dengan yang menulis Babat Tanah Djawi. Sebelumnya saya ndak tahu siapa Mas Marco ini, ternyata beliau orang besar. Pernah berkecimpung di perpolitikan era pergerakan, meskipun pada akhirnya mati sebelum Indonesia merdeka karena malaria. Novel ini menggunakan bahasa Indonesia khas jaman dulu yang bercampur dengan Belanda. 

Dalam novel ini juga sedikit diceritakan bagaimana gegap gempita pergerakan pada saat itu. Sarekat Islam sedang mengadakan kongres besar di Solo. Semua kadernya dari penjurj Jawa berkumpul di sana dan mendengarkan sambutan dari para orang pentingnya. Selain itu hiburan khas rakyat juga telah disiapkan. Semua bergembira bersama, baik para anggota sampai rakyat Solo sendiri. 

Jika dibandingkan dengan era sekarang, kisah cinta kini lebih berliku. Saya sepertinya jadi korbannya, menjomblo sampai sekarang. Ah, jaman dulu sepertinya lebih indah meskipun tidak ada teknologi seperti blog ini. 

Nasionalisme Islamisme dan Marxisme


Penulis : Ir. sukarno

Penerbit : Kreasi Wacana

Pak Sukarno adalah salahsatu dari sang Dwitunggal yang memproklamirkan negara bumi pertiwi, salahsatu dari sekian banyak para cendikiawan kala itu yang tujuannya adalah usaha memerdekakan rakyat dari segala penindasan kolonial. Banyak gagasan dari beliau yang membuat saya kagum, salahsatunya adalah yang tertulis di judul review ini yang kemudian menurut saya menjadi cikalbakal ide nasakom. 

Saya merasa beruntung mendapatkan buku ini mengingat buku macam ini ndak ada di toko buku besar di tiap kota. Menurut Dr. H. Moechlis Noer Rochman tulisan pak Sukarno ini pernah diterbitkan oleh pimpinan Pandu Nasionalis Indonesia pada tahun 1956, namun seiring berjalannya waktu terbitan tersebut hanya beredar dalam bentuk fotokopi. Yang menarik di buku ini adalah tulisan pak Karno benar-benar ditulis seperti adaya, hanya penulisan ejaan orde lama  (seperti “oe” “dj”) disunting ke EYD yang baku. Mungkin agar supaya para pembaca faham betul dengannya. 

Buku ini membahas apa itu Nasionalisme, apa itu Islamisme dan apa itu Marxisme. Bagi beliau, 3 azas tersebut adalah layak sebagai panutan Indonesia. Ketiga azas tersebut memang terlihat saling berkontradiksi satu sama lain, namun pak Karno secara gamblang dapat menjelaskan betapa selarasnya ketiga azas tersebut untuk Indonesia. Wawasan beliau pada pergerakan luarnegeri tertuang pula dalam tulisannya dan ditulis sedemikian rupa agar pembaca mampu memahami arah usaha menuju kemerdekaan yang kuranglebih sama dengan yang lain.