Bangunlah Kata – Kata



Dua hari lalu mungkin bisa disebut harinya Wiji Thukul. Dua hari saya menyaksikan dan mendengarkan orang – orang tentang kisah bagaimana seorang penyair melawan tirani yang pernah menguasai negeri ini. Tanggal dua tempo lalu pada akhirnya Istirahatlah Kata – Kata diputar di Malang. Dua jempol untuk kawan – kawan pegiat film dan lainnya yang berhasil membawa film ini melalui pengumpulan anemo kawan – kawan yang ingin sekali nonton film tersebut. sebenarnya film ini premiere pada tanggal 19 januari, lucunya Malang bukan dari salahsatu dari sekian kota yang menayangkannya. Terlihat aneh memang, padahal di Malang hegemoni aktivisme terbilang cukup tinggi, bukan hanya belakangan ini namun jauh sebelum itu.

Sedikit cerita, kemarin saya menonton film Istrihatlah Kata – kata di salah satu bioskop di Kota Malang. Seperti yang telah saya jelaskan diatas, maka anemo masyarakat yang datang sangat banyak. Saya bertemu dengan wajah – wajah yang tak lagi asing. Rekan – rekan aktivis mulai dari pegiat seni, film, sastra dan lain sebagainya. Mereka datang untuk melihat mengingat kembali dan meneladani sosok mas Widji Thukul. Karena bukan yang pertama kali diputar, sudah banyak spoiler di dunia maya bahkan kritikan. Ada yang bilang film ini terlalu monoton, film ini tidak mengangkat heroiknya tokoh utama, macam – macam.


Benar saja, setelah saya menonton saya mengiyakan komentar yang demikian. Jika anda pernah menonton film yang berjudul senyap, menurut saya film tersebut lebih monoton dari ini. Minimnya dialog, banyaknya monolog (adalah puisi Wiji Thukul yang dibacakan) dan video statis dapat dijumpai di film Istirahatlah kata – kata. Tak juga dapat dipungkiri, saya pun sesekali menguap ketika menontonnya. Namun andaikan seorang sutradara membuat film tentang Muhammad Ali apakah lantas dalam film tersebut mutlak harus ada adegan tinju meninju diatas ring? Menurut saya sang sutradara telah berhasil menceritakan sisi lain dari kehidupan mas Wiji Thukul yang dirasa sangat heroik sampai dirinya kemudian hilang tak tahu rimbanya.

Di film tersebut sama sekali tak ada adegan barisan pendemo berhadapan dengan satu kompi pasukan bersepatu laras di jalan atau aksi dorong mendorong pagar sampai aksi bakar ban di jalan. Film tersebut mengisahkan pelarian dari sosok penyair. Wiji Thukul lari ke Pontianak karena dianggap sebagai dalang dari aksi kudatuli dan pembentukan PRD. Meninggalkan anak dan istrinya Wiji Thukul dibantu oleh rekan – rekannya sampai dirinya memastikan bahwa dirinya aman di sana. Wiji Thukul menghabiskan waktunya dengan menulis dan bekerja sambilan di Pontianak. Selang beberapa waktu dirinya pulang ke Solo untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Mungkin hanya itu garis besar dari film tersebut. sangat sederhana namun mengisahkan sisi lain dari Wiji Thukul, dihiasi puisi – puisinya yang tanpa metafora dan sangat tajam bagi rezim orba.


Di hari berikutnya saya berkesempatan datang di Sarasehan Budaya Wiji Thukul. Mendatangkan mas Gunawan Maryanto (pemeran Wiji thukul), pak Utomo (ayah Bimo Petrus), mas Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) dan masih banyak. Saya pikir ini kesempatan untuk berdiskusi bagaimana sosok dijadikan tersebut hingga layak diingat sampai sekarang. Barangkali pula ini bisa menjadi gambaran bagaimana bobroknya rezim kala itu. Diskusi tersebut bertempat di warung kali metro yang mana merupakan markas dari Malang Corruption Watch. Saya sedikit kesusahan menemukannya, maklum belum pernah berkunjung kesana. Diskusi tersebut dimulai dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00. Sampai disana, acara sudah mulai dan banyak sekali yang sudah datang, diiringi hujan yang turun begitu deras.

Di panggung sudah Nampak moderator, mas Gunawan, mbak Puput dan mbak Melati, beliau – beliau sedang bertukar pendapat terkait dengan film Istirahatlah Kata – Kata. Menurut mereka, film ini merupakan pengingat bagi pemerintah bahwa kasus hilangnya 13 aktivis masih belum selesai sampai sekarang. Selain itu ini juga sebagai pemantik bahwa perjuangan belum usai, penindasan yang sesungguhnya pada dewasa ini ada di sekitar kita. Seperti sengketa tanah antara petani dan perusahaan, dan juga kasus – kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Jogja dan Papua. Sejauh ini, meskipun demokrasi telah berhasil mengantikan orba, namun masih banyak pencekelan, masih banyak pembredelan yang dilakukan oleh aparat walau tidak sesering pada saat orba.

Dalam sesi tanya jawab berbagai tanggapan dan pertanyaan banyak dilontarkan oleh para audience yang hadir. Mas Yani sebagai salah satu yang maju mengatakan, bahwa dengan adanya film ini teman – teman yang memperjuangkan HAM harus melanjutkan perjuangan karena film ini berhasil menarik massa yang begitu banyak dan mengenalkan sosok Wiji Thukul pada generasi sekarang. Yang menarik dari film Istirahatlah Kata – Kata adalah film ini berbeda dengan film yang sedang naik daun saat ini. Anggaplah film warkop yang sedang berada di bioskop sekarang, namun kenapa di film tersebut tidak ada intel sedangkan di film ini didatangi intel padahal keduanya sama – sama lulus sensor. Hal ini menandakan bahwa pemerintah masih takut, bisa juga dikatakan bahkan masih trauma pada aksi – aksi di era 98. Dengan adanya hal ini, menurut mas Yani hendaknya kita yang terpanggil dalam gerakan ini jangan merasa terawasi, karena dirinya merasakan hal tersebut. Pengalamannya dalam membuat dan mengadakan nobar pernah sampai dicari oleh intel karena dianggap berbahaya.

Berikutnya ada mas Leon, menurutnya kita patut berterimakasih pada rekan – rekan aktivis pejuang prodemokrasi di era 98 karena berkat jasanya kita bisa lebih leluasa untuk berpendapat dan berkumpul untuk berdiskusi. Lalu, apakah rezim sekarang sudah tidak lagi takut dengan kata – kata? Atau kata – kata mana yang boleh bersuara dan kata – kata yang mana yang dibungkam. Beruntungnya sekarang kata – kata sedikit lebih leluasa meskipun masih ada saja yang dibungkam walaupun tak sebanyak di zaman pak Harto berkuasa. Sebagai contoh beberapa waktu lalu rekan – rekan berdemo didepan istana menolak mengenai undang – undang pengupahan, namun rekan – rekan direpresi oleh aparat, beberapa ada yang ditangkap, mobil yang dipakaipun dipecah. Kejadian ini terpaksa terjadi dengan alasan bahwa demo tersebut melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Menurut mas Leon kita masih belum mencapai demokrasi sejati yang diimpikan oleh mas Wiji Thukul dan kawan – kawan di eranya. Jika diibaratkan, kita berada dalam penjara yang lebih besar dan dalam belenggu yang lebih panjang seolah – olah kita bebas namun suatu saat kita akan sadar bahwa kita terbatas.

Film Istirahatlah kata – kata masih belum cukup, kita perlu bergerak melawan penindasan yang ada di sekitar kita. Melalui kesempatan berbicaranya mas Leo mengajak rekan – rekan untuk mengajak bergabung dalam komite aksi kamisan yang berada di Malang untuk beriskusi dan saling sharing mengenai persoalan yan ada disekitar dan saling bersolidaritas untuk sesama.

Hal menarik disampaikan oleh mbak Puput menanggapi tanggapan mas leon, menurutnya jika rezim ini masih takut kata – kata maka menurut mbak Puput justru rezim ini jua menjadi penyair dalam mengisi demokrasi. Kata – kata berupa pemberitaan digoreng sedemikan rupa lalu disajikan pada masyarakat. Manipulasi dan pemilihan kata oleh rezim ini menjadikan masyarakat yang tidak tahu menjadi semakin bingung siapa yang benar. Bahkan melalui sosial media pemilik rezim ini juga berperan besar menggaungkan nadanya untuk mengisi lagu yang sedang berjalan. Yang terbaru adalah pemerintah berencana menggunakan barcode untuk memverivikasi tautan yang kredibel atau tidak. Hal ini sangatlah subjektif untuk menentukan tautan tersebut hoax atau tidak.

Dalam dua hari tersebut yang bisa saya simpulkan adalah film Istirahatlah Kata – Kata adalah usaha untuk mengenalkan sosok wiji Thukul kepada generasi sekarang sekaligus sebagai bentuk teguran kepada pemerintah bahwa kasusnya belum selesai. Lalu apa yang harus kita lakukan selepas kita telah menonton film tersebut? Adalah wajib bagi kalian dan saya untuk terus melawan penindasan yang ada disekitar kita. Jika dulu pemerintah takut terhadap kata – kata, maka sekarang kata – kata juga bisa dimainkan oleh pemerintah melalui dunia maya dan pertelevisian. Kita harus tetap melawan dengan cara masing – masing, meskipun dengan bersama akan lebih baik seperti yang telah diatawarkan oleh mas Leon bahwa terdapat komite aksi kamisan di Kota Malang dan juga forum diskusi tentang film dan buku yang harus diramaikan kembali selepas sarasehan ini. Meskipun membentuk seperti Wiji Thukul atau Munir itu sulit, namun bukan berarti kita mengurungkan niat untuk berusaha seperti mereka. Suatu saat nanti pasti mereka semakin berlipat ganda.

Advertisements

Soempah Pemoeda Beginilah Adanja


Postingan tertanggal 23/10/2016

Soempah Pemoeda

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

27 dan 28 oktober 88 tahun yang lalu terjadilah sebuah rapat akbar atau yang disebut dengan Kongres Pemuda II oleh generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Mereka berbondong – bondong menuju jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat untuk turut serta dalam kongres tersebut. Tercatat pemuda Betawi, Sumatera, Sulawesi, Jawa, Ambon sampai dari yang berada dari luar negeri pun disempatkan untuk hadir dalam kongres. Beberapa dari yang datang berasal dari organisasi kedaerahaan di daerahnya. Sebutlah saja Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes, Jong Bataks dan Jong Sumateranen. Ada pula dari organisasi yang berbasis di Jakarta. Organisasi – organinsasi yang turut dalam kongres tersebut merupakan representasi dari semangat kebangkitan nasional yang dicetuskan oleh dr. Sutomo pada tahun 1908.

Perbedaan latar belakang bukan jadi soal. Karena para pemuda merumuskan apa saja yang harus dilakukan pemuda Indonesia dalam memperjuangkan segala sesuatunya. Sumpah pemuda sebagai perwujudan “Satu Indonesia” sebagai salahsatu hasil dalam kongres besar tersebut. Adalah Muhammad Yamin yang menuliskan sumpah tersebut dalam secarik kertas, kemudian ditunjukkan kepada Soegondo lalu bung tersebut membubuhkan parafnya dalam kertas pertanda setuju diikuti dengan yang lain.

28 Oktober 1928 pula lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan dimuka umum. Konon katanya, yang datang pada saat itu hanya menyanyikan nadanya tanpa menyanyikan liriknya karena takut ditangkap oleh pemerintah belanda. W. R. Soepratman sebagai salah satu pemuda yang hadir dalam kongres sekaligus menggubah lagu Indonesia Raya. Karya yang fantastis, usut punya usut Indonesia Raya punya magis tersendiri seperti God Save the Queen nya Inggris Raya.

“Nasipkoe soedah begini. Inilah yang disoekai oleh pemerintah Belanda. Biar saja meninggal, Indonesia pasti merdeka”. (kutipan surat terakhir sebelum beliau meninggal)

Sumpah pemuda menjadi legendaris tatkala Muhammad Yamin dengan briliannya menggubah 3 kalimat sakral tersebut menjadi hasil dari kongres meskipun menurut Erond Damanik Peniliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu – Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan kata sumpah pemuda baru disahkan pada 28 Oktober 1954 pada saat Kongres Bahasa Indonesia kedua.

Setidaknya sumpah pemuda menjadi kebanggan generasi muda saat pra kemerdakaan sampai orde baru lengser. Sampai orde baru? Tunggu, bukankah generasi muda masih terus akan bermunculan? Jika boleh berandai, saya begitu merindukan semangat generasi muda saat itu. Bukan berlebihan saya berkata hal tersebut, Indonesia merdeka siapa lagi jika bukan generasi muda yang memegang peranan penting dalam merebutnya.

Sebutlah saja Sukarni, lelaki yang berasal dari Blitar dengan beraninya meyakinkan dwitunggal untuk meninggalkan ibukota dengan alasan akan terjadi pergolakan politik (padahal hal itu sama sekali irasional). Lalu ada Johannes leimena, pemuda ambon yang juga berperan dalam 28 Oktober 1928 begitu cemerlang, pemuda yang dikatakan paling jujur oleh Soekarno ini sampai diganjar menjadi menteri kesehatan di era kabinet Sjahrir. Karya nyatanya adalah puskemas yang ada hingga sekarang. Mari kita bertolak jauh sebelum kemerdakaan tercapai, saat Ahmad yani, Nasution dkk masih berlatih dibawah komando PETA atau bahkan KNIL. Orang – orang seperti Sjahrir dan Mister Amir sudah melakukan pergerakan underground untuk mengumpulkan massa untuk bergerak secara diplomatis sebelum pada akhirnya ditangkap.

Yang lebih takjub generasi PKI pasca Musso, sebutlah Aidit, Nyoto, Lukman dan Sudisman mereka berhasil membawa partai yang dicap terlarang tersebut mencapai era gemilang. Saya cuman bisa geleng – geleng kepala dikala membaca artikel singkat di instagram yang menunjukkan 4 orang muda tersebut tidak satupun yang berumur lebih dari 30 tahun. Betapa hebatnya, saya yang sekarang menginjak umur ke 23 masih ruwet dengan skripsi. Tapi sudahlah mereka juga dianggap setan pengganggu sejarah.

Beralih ke era sekarang, mari kita bercermin diri, sudahkah kita mengobarkan semangat sumpah pemuda pada diri masing – masing? Di tengah hegemoni kealayan yang kian menjamur. Teknologi yang diharapkan membantu memudahkan dalam berinteraksi justru malah menjadi majikan yang memperbudak kita. Jika kita membaca sejarah kejayaan generasi muda sudah selayaknya kita malu atas apa yang sudah kita perbuat. Semua orang jelas tidak pernah bisa lari dari kontroversi, selalu saja ada sisi gelap yang mengikuti mereka, namun lain halnya dengan yang terdahulu kontroversi mereka sungguh layak untuk diingat dan diingat.

Bermodalkan sosial media hits kita bisa terkenal dalam hitungan jam saja, tinggal foto dengan smartphone, filter sana – sini, lalu upload beres urusan. Pengakuan dan apresiasi secara nyata tidak lebih besar dari pengharapan like dan share (saya pun juga begitu tidak bisa dipungkiri). Youtube, web terdepan saat ini yang digadang – gadang bisa menandingi kekuatan magis dari televisi memiliki segudang konten positif dari para pencipta konten yang tak terbendung idenya, namun sayangnya di negeri tercinta ini generasi muda malah lebih tertarik pada konten sepele yang judulnya menggelegar isinya kosong atau artis kemaren sore yang penuh dengan kontroversi jahanam. Sebutlah saja Yanglek dan Auasin dengan kata – kata magisnya berbunyi

“Kalian semua suci, aku penuh dosa”

Sejujurnya, bagi saya yang pantas mengatakan hal itu adalah saudara Aidit teman – teman sekalian.

Wahai generasi pemuda Indonesia, negara kita sedang dalam krisis identitas. Ideologi yang kian terkikis oleh masyarakatnya sendiri yang gampang dihasut oleh orang – orang liar dibalik kedok agama/keyakinan yang bagi mereka tidak sesuai. Pembredelan diskusi sana – sini yang dianggap aparat mengancam ideologi padahal hanya tanya jawab tentang sejarah yang sengaja dibolak – balik agar terkesan karismatik dan penuh perjuangan. Belum lagi masalah perut para tikus berdasi yang tak kunjung kenyang makan uang dari rakyat.

Sekali lagi saya tegasken, Indonesia butuh anda ! para pemuda !

Meningat Cak Munir, Merawat Ingatan


Postingan tertanggal 11/9/2016

Munir Said Thalib

Munir Said Thalib

7 September 2016 bukan tanggal istimewa, tapi 12 tahun lalu ada sebuah kasus yang ndak kalah serunya sama misteri kopi sianida kekinian. Bedanya, 12 tahun lalu kasus ini bikin “sebagian” Jenderal kebakaran jenggot, lantaran wong cilik pada angkat suara atas kematiannya. Kasusnya pun tidak dikawal secara penuh oleh hakim.

skripsi

skripsi

Cak Munir namanya, Munir Said thalib yang lahir pada 8 Desember 1965 di Batu sebuah dataran tinggi di Malang raya ini berdarah indo arab. Seorang Muslim kentel yang sehari – hari membantu nasib hak – hak orang yang dilanggar. Dari kampus Brawijaya Munir muda mengangkat perlindungan hukum buruh dalam tugas akhir strata satunya. Setelah lulus cak Munir bergabung dalam LBH Surabaya, kasus yang terkenal kala itu adalah Marsinah. Seorang buruh wanita yang mati – matian menuntut hak para buruh dan berujung pada nyawanya yang hilang di kaki aparat.

Saat meledaknya peristiwa 98, cak Munir menjadi koordinator badan pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras). Kemelut politik yang berakhir pada lengsernya smilling general diwarnai dengan banyaknya aksi pelanggaran HAM berat. Penculikan 13 orang aktivis benar – benar menjadi sorotan. Yang awalnya pemerintah (atau lebih tepatnya aparat) bersikap defensif, kemudian mulai menanggapi kasus tersebut akibat banyak sorotan publik baik dalam maupun luar negeri terkait hal itu. Usaha kontras (tentunya tidak sendiri) membuahkan hasil, pembuktian bahwa adanya “tim mawar” di tubuh angkatan darat yang bertugas menculik para aktivis karena dianggap berbahaya menyeret 7 oknum anggota kopassus, 2 perwira tinggi dan 1 perwira menengah ke ranah hukum. Dua perwira tinggi tersebut jabatannya ndak main – main, satu perwira menjabat sebagai deputi BIN sedangkan yang satunya menjabat sebagai Danjen Kopassus.

Nama cak Munir mulai dikenal banyak orang bahkan sampai luar negeri. Berbagai penghargaan menjadi ganjaran atas dedikasinya, salahsatunya yang saya takjub adalah beliau mendapatkan The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan kontrol sipil atas militer di Stockholm pada tahun 2000. Sepak terjangnya, sempat membuat sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala
“cak, sameyan iki anti militer yo? Opo jangan – jangan sameyan titisan PKI?”
Cak Munir sama sekali tidak anti tentara. Salah satu contohnya adalah cak Munir justru berperan aktif dalam perumusan RUU TNI dalam periode 2000an yang mana pada saat itu ada pasal “sakti” dimana apabila dalam keadaan terdesak Panglima TNI dapat mengambil kekuasaan penuh terhadap perpolitikan negara. Jelas pasal tersebut ditentang cak Munir dan aktivis pro demokrasi lainnya. “Pasal keblinger itu!”, tutur saya dalam hati. Jika dikembalikan pada tugas pokok TNI seharusnya aparat menjadi alat pertahanan, bukan pada ranah perpolitikan.
“Ada ketegangan antara TNI sebagai satuan otonom politik berhadapan dengan otoritas sipil. Sayangnya, ketegangan ini tidak diselesaikan melalui RUU TNI, tetapi justru diperpanjang“, ujar cak Munir dalam wawancara media pada awal Agustus 2004.

Hal lainnya adalah cak Munir ikut terlibat dalam tim perumus RUU Pertahanan. Beliau gencar memperjuangkan kesejahteraan prajurit yang kemudian termaktub dan dikenal dengan “Pasal Munir”. Cak Munir melihat pada kala itu gaji tamtama dan bintara adalah jauh dari kata “sejahtera”, hingga akhirnya mereka melakukan pekerjaan sampingan dan menggunakan status keanggotaanya sebagai aparat. Dirangkum dari omahmunir.com cak Munir juga pernah membela istri dari para anggota “tim mawar” (yang sudah saya jelaskan di atas) karena mengalami tekanan hidup dari beberapa pihak. Kemudian pada bagian lain, cak Munir sering diundang dalam Sesko TNI dan PTIK Polri sebagai pemateri dalam beberapa kuliahnya (tentunya terkait dengan hal – hal kemanusiaan).

September 2004 cak Munir mendapatkan beasiswa pasca sarjana mengenai hukum humaniter di Amsterdam, Belanda. Beberapa hari sebelum 7 September cak Munir pamitan kepada rekan – rekannya, beliau bersilaturahmi dari tempat ke tempat hingga pada akhirnya tanggal yang dijadwalkanpun tiba. Tak disangka – sangka, pamitan itu pun menjadi salam perpisahan untuk selamanya. Munir Said Thalib dibunuh di udara, diracun hingga ajal mengganjarnya. Sontak banyak pihak menuntut pengusutan atas kematian cak Munir yang tak wajar tersebut.

Besar dugaan ada campur tangan BIN atas kematian cak Munir. Gelar perkarapun dimulai, sosok cak Munir dengan kevokalannya memang menjadi sebuah ancaman bagi para sebagian “penguasa”. Kasus – kasus yang dikawalnya kerap menjadi ancaman atas eksistensi kekuasaan. Beberapa nama disinyalir terlibat atas kasusnya, nama – nama tersebut bukanlah nama baru melainkan nama – nama yang dianggap bersalah pada kasus yang pernah dikawal cak Munir, termasuk mantan deputi BIN pada tahun 1998 (Jenderal (Purn) Muchdi Pr).

Hasil dari gelar perkara menyimpulkan bahwa cak Munir dibunuh dengan cara diracun pada saat pesawat (Garuda Indonesia Airlines) transit di bandara Singapura. Racun tersebut dibubuhkan di dalam minumannya. Dan yang menjadi pelaku pembunuhan adalah Pollycarpus, seorang pilot yang sedang cuti dan menjadi corporate security pada penerbangan tersebut.
“Wait? Siapa dia? Apakah dia rekan dari cak Munir? Ada dendam apa sampai cak Munir dibunuh?”
Publik pun termasuk saya mulai bertanya – tanya, siapa Pollycarpus tersebut. Namanya hampir nihil ketika saya mencari – cari dalam artikel yang membahas kasus mengenai kekerasan dan pelanggaran hak asasi di tahun – tahun sebelumnya. Jelas publik tidak puas dengan hasil tersebut. Bagaimana mungkin orang membunuh tanpa sebelumnya kenal atau tidak punya dendam sedikitpun terhadap orang yang dibunuh. Jelas dibalik semua itu terdapat motif dan siasat yang direncanakan oleh orang yang lainnya. Selang beberapa waktu sang jenderal tersebut terseret dalam pengusutan kasus cak Munir, namun pada akhirnya beliau bebas dari segala tuduhan sedangkan Pollycarpus dihukum seberat 14 tahun penjara.

Terlepas dari kasus cak Munir yang merupakan salahsatu kasus pelanggaran HAM terberat, publik memberikan apresiasi yang luar biasa kepada cak Munir. Dari dalam maupun luar negeri banyak yang memuji beliau, nama beliau pun menjadi salah satu nama jalan di belanda selain itu juga dijadikan nama di salahsatu ruang di kantor Amnesty Internasional belanda. Nama cak Munir memang layak untuk didedikasikan sebagai semangat perjuangan menuntut kemerdakaan yang sesungguhnya tanpa menindas ataupun ditindas.

Sosok cak Munir bagi saya adalah sosok yang jarang dijumpai. Kalau boleh saya meminjam salahsatu judul film dokumenter mengenai beliau, “kiri hijau kanan merah” memang pas bagi cak Munir. Beliau dalam keseharian di masa mudanya adalah aktivis dari HMI Malang dan sebagai sekretaris pondok Al – Irsyad Batu namun arah tujuan cak Munir menjunjung tinggi hak – hak kaum “bawah”. Dua hal tersebut dalam pandangan kini (setelah tahun 1965) memang dipandang kontras. Bagaimana tidak, gerakan relijius memang sebagian besar meng”haram”kan bibit “kiri” tumbuh dalam diri masyarakat. Sedangkan yang diklaim sebagai apa itu gerakan “kiri” (tentunya setelah tahun 1965 pula) membela nasib “wong cilik” yang mana hal tersebut menurut fahamnya adalah dasar dari negara tersebut.

Sejauh tulisan ini saya buat, saya hanya beropini dari hasil membaca berbagai source yang ada di dunia maya dan kunjungan pertama saya di museum omah munir. Teruntuk mas dan mbak yang membuat tulisan – tulisan mengenai cak Munir saya ucapkan terimakasih banyak, tulisan anda sebagai pembuktian bahwa cak Munir dibunuh karena benar dan semoga Tuhan menghancurkan yang bathil. Sekian.

Sumber :

Omahmunir.com

id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib

nusantaranews.wordpress.com/2009/01/01/biografi-munir-seorang-pahlawan-ham-indonesia/

dan masih banyak lagi yang belum bisa saya sebutkan.

Kretek Yang Tersakiti


Postingan tertanggal 14/8/2016

apa bedanya kretek dan rokok?

apa bedanya kretek dan rokok?

Akhirnya tergelitik untuk menulis serba serbi tentang kretek di sini, akibat banyak aktivis berseliweran hihihihi. Ya, saya tidak menyalahkan dan berkeluh kesah disini, itu adalah hak Anda dan hak saya pula lah untuk tersenyum dan menulis ini.

Beberapa minggu ini terhembus isu bahwa harga kretek (rokok) akan naik secara signifikan. Media massa abal – abal di fesbuk banyak yang lewat di beranda saya. Karena penasaran saya membuka beberapa tautan tersebut. Judulnya saja cukup ngeri “Mulai bulan depan rokok naik!!” pakai tanda pentung dobel, yang secara tersirat menjadi propaganda secara tidak langsung. Dari beberapa tautan “wow” yang saya baca, belum ada pernyataan pemerintah yang menyatakan hal tersebut di dalam beritanya. Semacam tidak ada korelasi antara judul dan isi berita, hmmm jangan kaget kebanyakan berita maya di Indonesia kan memang begitu. Lucunya, berita – berita tersebut sebegitu gampangnya dibagikan oleh pengguna fesbuk tanpa di iqra’ terlebih dahulu. “Asal comot saja” yang penting judulnya wow di like banyak orang saking hebohnya. Lantas jika memang begitu, sudah pantaskah saya mengatakan jika aktivis anti kretek/tembakau/rokok ini disebut aktivis penyebar kebencian (hate speech)? 🙂

Indonesia merupakan salahsatu negara penghasil tembakau dengan kualitas terbaik. Di negara ini juga lah lahirnya kretek, campuran tembakau dan cengkeh khas Indonesia yang membuat kagum dunia luar atas tasty nya yang khas. Banyak lo artis luar negeri yang menghisap tembakau dari Indonesia, saya kira kalau anda tidak manja dan mau mencari di google anda akan menemukan artis papan atas yang sedang menghisap tembakau, inisiatif mencari sendiri dong, disini kan saya mau nulis, bukan mau pembelaan dengan memaparkan bukti. Namun tahukah anda jika harga tembakau lokal kian menurun dari tahun ke tahun dan terkesan dipermainkan harganya oleh para tengkulak? Tahukah anda jika dari tahun ke tahun impor tembakau kian meningkat? (Berikut saya rangkumkan data impor dari komunitaskretek.or.id)

Impor tembakau meningkat bisa dilihat sejak tahun 2003 sebesar 29.579 ton yang naik menjadi 35.171 ton di 2004. Hingga 2008 mencapai 77.302 ton. Impor cerutu juga naik. Rata-rata kenaikan 197,5 persen per tahun. Tahun 2004 impor cerutu masih US$ 0,09 juta, di tahun 2008 naik menjadi 0,979 juta.

Tembakau lokal menurun petani tembakau tertekan, impor tembakau makin tinggi, produk kretek dan rokok makin naik. ENG ING ENG ! Korelasi yang njomplang ! Jika anda cerdas dalam membaca kalimat sebelum ini seharusnya anda sudah merasa sakit hati dengan fenomena yang ada, sekalipun anda bukan perokok bukan malah tetap ngeyel kalau yang bakal dilakukan pemerintah itu sepenuhnya benar atau mencari – cari kesalahan yang lain. Adalah benar jika anda mengatakan asap rokok menyumbang polusi udara di bumi ini, namun apakah anda lupa setiap hari naik apa jika melakukan mobilisasi. Begitu juga ada berapa banyak pabrik – pabrik penyumbang asap polutan di bumi ini.

Sebagai seorang Warga Negara Indonesia tentu kaum perokok juga mempunyai hak – hak yang wajib dipenuhi oleh pemerintah dan dihormati oleh masyarakat. Salah satunya adalah tempat merokok yang telah diatur dalam undang – undang kesehatan pasal 115 ayat 1.

Kembali lagi ke masalah kretek/rokok yang diisukan akan naik secara signifikan (atau bahkan hari ini sudah mulai naik di minimarket dekat rumah). Apakah anda sekalian yakin jika perubahan harga tersebut akan berdampak pada kualitas kesehatan bangsa Indonesia? Oh tentu tidak, masih banyak faktor lain. Jika terdapat alasan menyelamatkan anak – anak dari tembakau maka sah – sah saja jikalau lain waktu ada muncul aktivis anti micin atau anti mi instan. Edan tenan~ Bukan maksud melemparkan kesalahan pada pihak lain, namun mengajak anda sekalian melihat bukan tembakau yang sebenarnya mengurangi kualitas kesehatan bangsa.

Dirangkum dalam salah satu tulisan komunitaskretek.or.id ada peneliti dari sebuah kampus negeri terbaik menyatakan para perokok akan puasa menghisap tembakau apabila pemerintah tegas menaikkan harga rokok. Pemertintah juga akan mendapat tambahan dana 70 Triliyun jika mau menaikkan harga rokok menjadi 50 ribu rupiah. Dari dua pernyataan tersebut sudah cukup “nyleneh”. Lawong pernyataan pertama dibilang para pengudud tembakau akan berhenti menghisap tembakau, lalu keuntungan dari pernyataan kedua didapat darimana dong pak peneliti? Jika dikaji ulang pun, sebenarnya kebijakan menaikkan harga rokok secara signifikan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup atau malah bertujuan meningkatkan pendapatan negara? 🙂

lek mikir ojo mung mikir awak e dewe to~

ojok mikir kaume dewe barang ~

Rokok naik, pemerintah puyeng, petani puyeng, investor merdeka ~

Udud sek to dab~