Animal Farm


penulis : George Orwell

penerjemah : Prof. Bakdi Soemanto

Penerbit : Bentang

Belakangan saya baru saja membaca sebuah novel ringan karangan George Orwell. Akibat dari lelah membaca buku “serius” yang cukup menjemukan. Lelah bukan berarti bosan atau apapun, melainkan kondisi dan tuntutan yang lain membuat pikiran menjadi terkuras habis.

Animal farm atau peternakan binatang adalah judulnya. Saya pikir, novel ini bisa saja juga disebut fabel. Buku ini menceritakan kehidupan binatang di sebuah peternakan di negara Inggris, dimana semua binatang telah jenuh terhadap kehidupannya dan mengidamkan kehidupan yang bebas dan merdeka. Mimpi mereka pun benar – benar terjadi ketika sekelompok babi yang juga bagian dari hewan – hewan yang ada di peternakan tersebut berhasil menghimpun kekuatan dan menjalankan taktik yang begitu cerdas hingga akhirnya pemilik peternakan berhasil diusir dari tempatnya. kemudian mereka mulai menyusun kehidupan yang layak bagi sesama mereka dan menjalankan peternakan untuk kesejahteraan mereka.

Dari semua binatang tak semuanya mereka pintar. Hampir dari seluruh binatang memiliki intelejensi rendah. Para babi menjadi yang paling pintar diantara mereka, sehingga mereka memimpin peternakan tersebut, mereka -para babi- bertugas berfikir dan berfikir demi kesejahteraan peternakan binatang dan sisanya mengandalkan otot. Bulan demi bulan dilewati, pemberontakan yang mereka lakukan sudah lama berlalu dan sebagian menyadari bahwa kemerdekaan yang diidamkan hanyalah khayalan. Para babi menjadi pengganti manusia yang serakah.

Di bab bab awal saya merasa cerita ini mengisahkan perjuangan dari sekelompok kaum untuk merdeka dan diakhiri dengan kehidupan yang sejahtera. Tapi nyatanya tidak, saya tersenyum miris ketika mengakhiri cerita ini. Saya menjadi teringat banyak peristiwa di dunia tentang pemberontakan demi kehidupan yang lebih baik tapi justru berganti pada penindasan yang lain. Jika dilihat kembali pada novel tersebut kebodohan adalah menjadi biang dari datangnya penindasan yang lain. Pendidikan yang tidak merata membuat masyarakat mudah disetir oleh pemimpin yang menawarkan kehidupan yang tenang.

Animal farm merupakan novel alegori yang ditulis saat perang dunia kedua. Sesaat di zamannya novel ini dianggap angin lalu, namun akhirnya banyak yang menyadari bahwa novel ini begitu satir terhadap kondisi politik pada saat itu. Novel ini boleh jadi sarana pada generasi milenial untuk mengetahui politik yang tengah dirasakan.

Advertisements

Zaman Peralihan


Penulis : Soe Hok gie
Penerbit : mata bangsa

Soe hidup di zaman dimana negeri ini masih seumur jagung. Bung Karno dan kawan – kawannya sedang memperjuangkan kedaulatan Indonesia, namun Soe banyak melihat hal yang berbeda. Lahir dari seorang penulis, Soe kecil gemar sekali membaca buku. Kegandrungannya menikmati buku membuatnya menjadi seorang yang kritis, bahkan dirinya kritis di saat anak sebayanya masih bermain – main. Berlanjut menempuh pendidikan tinggi, Soe makin menunjukkan kekritisannya kepada pemerintah. Mulut dan penanya yang tajam membuat dirinya menjadi bahan omongan di sekitaran almamaternya. Pun juga tulisan – tulisan yang ditulis di media untuk pemerintah dan kampusnya menjadi buah omongan. Tak jarang Soe kerap mendapatkan ancaman karena tulisannya mengancam sebagian golongan, namun adapula yang mengajak Soe untuk bergabung dalam pergerakan – pergerakan untuk menghantam pemerintahan. Sejarah mencatat Soe tidak pernah secara resmi bergabung dalam pergerakan atau aktivisme di eranya, namun Soe dikenal dekat berbagai kalangan, gagasan dan inisiasinya dipakai oleh pergerakan mahasiswa yang sepemahaman dengan dirinya.

Zaman peralihan merupakan kumpulan tulisan yang dibuat Soe dan dicetak di berbagai media zaman itu. kumpulan tulisannya seputar buruknya idelaisme mahasiswa, bobroknya Universitas Indonesia, dan rezim baik orla maupun orba yang diisi oleh orang – orang tanpa integritas dimuat dan dibaca oleh semua orang dan menginspirasi bagi sebagian orang. Agaknya beberapa dari kumpulan tulisan dalam Zaman Peralihan ini masih relevan untuk mengkritik rezim dan kaum milenial saat ini. Saya sendiri merasa terpecut di beberapa bab dalam buku ini, tulisannya begitu tajam, seolah berusaha menyingkirkan kenistaan yang telah lama ada.

Buku ini terbagi menjadi 4 bagian besar yakni : masalah kebangsaan, masalah kemahasiswaan, masalah kemanusiaan, dan catatan turis terpelajar. Dengan membacanya, saya mencoba menebak apa yang ada di pikiran Soe selama dirinya hidup. Soe merupakan sosok yang keras terhadap rezim Soekarno di tahun 65 an. Saat itu banyak terjadi pergolakan disamping tragedi yang tentu kita kenal sampai sekarang, gestapu. Soe melihat banyak ketimpangan sosial yang terjadi antara golongan masyarakat dan para abdi negara. Dari kacamatanya, Soekarno merupakan sosok berjouis yang sibuk dengan kemewahan, pun pula diikuti oleh orang – orang dibawahnya. RI 1 tersebut sibuk membangun istana, beristri banyak dan para orang – orangnya sibuk memperkaya diri dan bepergian ke luar negeri. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat saat itu. Harga sembako dan bahan bakar yang terlampau tinggi, lebih – lebih pasca gestapu memicu terjadinya aksi massa. Demonstrasi besar – besaran bisa dikatakan dipicu oleh mahasiswa UI saat itu, dan Soe adalah salah satunya. Seputar demontrasi tersebut menuntut adanya penurunan sembako dan bahan bakar, perombakan besar – besaran kabinet dwikora dan bubarkan PKI. Memang pada saat itu massa rakyat sudah terlanjur marah dengan partai yang berkiblat pada Tiongkok. Demontrasi besar – besaran tersebut menjadi salah satu yang turut andil dalam pelengseran Soekarno yang dianggap tidak lagi memiliki kredibilitas dan pada akhirnya beliau pun lengser. Setelah orde baru berkuasa para alumni dari demontrasi besar – besaran rupa – rupanya mendapat jatah kursi di Senayan. Sebagian kawan Soe menyambut tawaran manis tersebut, dan hal tersebut memicu Soe untuk mengkritiknya.

Di dalam kampus sendiri Soe melihat banyak “kebopengan” yang terjadi dalam UI. seputar polemik mahasiswa yang tak lagi memiliki idealisme, dosen – dosen yang tak memiliki integritas sampai harapan palsu yang diberikan perguruan tinggi kepada remaja – remaja yang memiliki cita – cita tinggi. Tulisan – tulisan Soe seputar hal – hal tersebut menuai kecaman di tempat kerjanya, yakni fakultas sastra UI. Menurut Soe, banyak korupsi yang terjadi dalam kampus saat itu dan musahil untuk tidak tercium, mulai dari anggaran acara dan alat ospek sampai hal yang lain. Soe juga mengkritik bagaimana dewan mahasiswa saat itu yang diisi oleh ormas – ormas mahasiswa seperti PMKRI GMNI HMI dan lain sebagainya. Senat – senat yang menyatakan dirinya murni malah dianggap sebagai pengacau kampus. Tentunya hal ini tak menjadi soal saat dewan mahasiswa “sehat”, namun pada kenyataannya tidak. Banyak kontrak politik yang timpang menurutnya.

Huru hara pasca gestapu membuat rezim melakukan pembersihan besar – besaran atas siapapun yang terlibat dalam PKI. Salah satu operasi yang disoroti Soe pada saat itu adalah seputar pembantaian yang ada di Bali. Di dalam operasi tersebut Soe menulis bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak bermoral. Pembantaian merupakan kata – kata yang paling pantas disematkan dalam peristiwa tersebut. Mereka yang dicap PKI atau dipaksa mengakui kalau dirinya PKI dihabisi. Menurut Soe banyak diantara para tahanan politik yang meminta untuk dibunuh secepatnya karena mereka tahu bahwa akhir hidup mereka adalah kematian.

Sebulan setelah gestapu keadaan di Bali berubah. Berbeda di Jakarta yang mana kaum nasionalis dan komunis makin terdesak, di Bali para petinggi dari dua poros tersebut sibuk saling tunjuk menunjuk untuk dijadikan sasaran pembinasahan PKI. Dalam buku ini, Soe mengatakan tokoh PNI bernama Wedagama mrnghasut rakyat bahwa membunuh PKI adalah dubenarkan Tuhan dan tidak akan disalahkan oleh hukum.

Akhir kata, buku ini menarik untuk dibaca para mahasiswa yang menginginkan perubahan. Dalam buku ini terdapat banyak sekali sejarah dan gagasan yang masih relevan jika dikaitkan dengan keadaan saat ini.

Mahasiswa Dalam Pusaran Idealisme


2017 Indonesia dilanda badai integritas yang cukup dahsyat. Isu yang dilempar pada berbagai media membuat sebagian rakyat terpolarisasi pada dua kubu yang saling memusuhi. Hal ini merupakan sebuah ancaman yang mana lambat laun akan mengikis persatuan yang telah lama dibangun oleh pejuang – pejuang yang telah gugur. Selain itu banyak kebijakan dari pemerintah yang dinilai “pincang” dan memberatkan bagi rakyat, dalam bidang pendidikan salah satunya. Tulisan sebelumnya menyoroti bagaimana kebijakan pada pendidikan tinggi yang membuat mahasiswa tidak berkembang. Tentunya kebijakan tersebut sangat berdampak pada output mahasiswa yang notabene menjadi salah satu pelaku untuk mengkritik sistem dalam negara ini.

Sebagai seorang mahasiswa, peran dari anda sangat diperlukan untuk mengatasi polemik yang ada saat ini. Mahasiswa sebagai katalisator antara rakyat dan pemerintah harus mewujudkan kestabilan sosial dan pembentuk sudut pandang baru dalam kehidupan bermasyarakat untuk negara yang lebih baik. Namun muncul pertanyaan, apakah kehidupan dalam internal kemahasiswaan sudah sepenuhnya kondusif untuk menciptakan kehidupan bermsasyarakat yang diidamkan? Apakah hubungan mahasiswa dengan kampusnya sudah dalam keadaan “baik – baik saja” sehingga dapat membahas tentang politik Negara? Apakah mahasiswanya sendiri telah cukup mampu untuk memikirkan itu? Disini kita harus mengerti terlebih dahulu bagaimana kondisi mahasiswa sekarang, paling tidak mahasiswa dalam fakultas anda sendiri.

Sebenarnya tulisan ini untuk menjawab kritikan dari tulisan sebelumnya dengan tajuk “Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan”. Seperti yang telah diutarakan pada tulisan sebelumnya, mahasiswa kini (kebetulan dalam fakultas saya) telah terjebak dalam rutinitas yang diciptakan oleh para birokrat kampus. Mereka sibuk dengan tugas yang tiada henti, sibuk dengan segala presentasi tanpa (sebagian) kehadiran dosen dan di sisi lain mereka dibebankan pada biaya perkuliahan yang terlampau tinggi sekaligus batasan waktu untuk kuliah sehingga mereka tidak sempat untuk “menikmati kehidupan mahasiswa sebenarnya”. Selain itu ormawa yang ada di tubuh mahasiswa telah mengalami “pergeseran” fungsi dari yang seharusnya menjadi ujung tombak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi pada birokrat kampus menjadi alat promosi fakultas masing – masing. Bukan maksud untuk menyalahkan salah satu pihak, akan tetapi tolong sadarlah untuk mengevaluasi diri masing – masing. Jangan sampai kita terjebak dalam konflik horisontal.

Adalah salah besar ketika anda menganggap tulisan sebelumnya sebagai bentuk untuk sekedar mengkritik tanpa turun langsung. Justru dalam tulisanlah bentuk manifestasi dalam “turun langsung” versi saya. Dengan tulisan, anda dan kawan – kawan yang lain akan membaca kegelisahan yang sedang terjadi. Dengan tulisan, agitasi yang diciptakan untuk menyuarakan kegelisahan akan tersebar luas. Pun juga pada akhirnya memicu munculnya pertanyaan – pertanyaan dan kritikan sebagai justifikasi atau bahkan pembelaan dari mereka yang tidak setuju pada tulisan sebelumnya. Kurangnya wadah yang diciptakan oleh organisasi yang bertanggungjawab untuk hal ini bisa jadi faktor yang memicu mengapa tulisan ini dan sebelumnya terbit dalam blog. Selain itu, apakah komunikasi sehari – hari terkait dengan masalah keseharian mahasiswa apakah dijalankan?

Disini peran ormawa seperti BEM maupun senat mahasiswa sangat perlu ditingkatkan.  Kajian strategis yang ditawarkan pada salah satu penanggap tulisan sebelumnya dirasa sangat masuk akal untuk diaplikasikan. Nantinya kajian itu berguna untuk menyerap apa saja yang menjadi kegelisahan yang selama ini dirasakan dalam mahasiswa itu sendiri. Tentunya sebelum itu perlu adanya penyadaran bahwa sebenarnya mahasiswa sekalian tidak dalam keadaaan baik – baik saja.

Dalam momentum mahasiswa baru yang akan hadir dalam waktu dekat seyogianya menjadi patokan agar warga yang baru yang akan hadir menjadi mahasiswa yang kritis dan peka pada keresahan yang terjadi pada fakultasnya (kemudian disusul kepekaan pada polemik yang terjadi pada negara ini). Sebuah harapan sederhana untuk kehidupan mahasiswa yang lebih baik.

Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan


koleksi instagram arbain rambey

(Tulisan opini ini bertujuan untuk mengagitasi mahasiswa bahwa sebenarnya ada kegelisahan dalam kehidupan kampus)

Sebelumnya saya mau mengucapakan selamat hari buruh internasional untuk para buruh, karyawan, pekerja, pekarya atau apapun sebutannya. Dan tak lupa selamat hari pendidikan nasional untuk masyarakat Indonesia, untuk tenaga pendidik baik di kota maupun di pelosok nusantara.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kampus terutama warga fakultas saya yang kondisinya kian ironi menurut pandangan pribadi. Jika menilik dari judul yang saya buat, saya bermaksud mengupas bagaimana mahasiswa yang seharusnya menjadi pelopor pemikiran kritis untuk masyarakat dan pemerintah justru menjadi buruh dalam kampus sendiri. Tanpa maksud merendahkan buruh, bagi saya buruh adalah kaum proletar yang menyumbang banyak aspek untuk negara. Namun, apakah mahasiswa telah tepat jika dirinya mem”buruh”kan diri kepada almamaternya?

Jika kita menyadari sejarah awal mula munculnya mahasiswa telah terjadi pada zaman kolonial. Kita harus berterima kasih kepada penjajah berkat politik balas budinya, sehingga masyarakat pribumi bisa menikmati salah satu “kemewahan” saat itu. Para kaum terpelajar itu kemudian menyadari mereka harus berbuat sesuatu itu negaranya yang pada akhirnya muncullah pergerakan – pergerakan yang dipelopori oleh Boedi Oetomo yang didirikan oleh dr. Soetomo. Pergerakan lainnya pun kemudian bermunculan, ideologi – ideologi dari luar negeri juga ikut mempengaruhi para pergerakan ini sampai pada akhirnya muncul tokoh – tokoh dari pemuda terpelajar yang bepikiran kritis dan berani untuk mempelopori rumusan cikal bakal berdirinya sebuah negara. Pasca kemerdekaan lagi – lagi mahasiswa menciptakan common enemynya yaitu pemerintah. Melalui TRITURA mahasiswa dari berbagai aliansi menuntut terciptanya keadilan bagi masyarakat dan pemerintahan yang sehat terbebas dari “memperkaya diri” dan PKI. Rekan – rekan yang membaca ini seyogianya membaca tulisan Soe Hok Gie yang terangkum dalam buku yang bertajuk Zaman Peralihan. Ketika orde baru berjalan, sebagian mahasiswa yang berjasa menggulingkan orde lama diberikan jatah kursi di legislatif oleh rezim. Polemikpun muncul (dan saya perlu menegaskan ini agar menjadi renungan untuk rekan – rekan sekalian) sebagian mahasiswa berpendapat untuk menciptakan pemerintahan yang sehat, adil dan mensejahterakan sudah tentu perlu turun langsung menjadi pemerintah itu sendiri, sebagian lain berpendapat tugas paling dasar sebagai mahasiswa adalah belajar dan menciptakan sebuah gagasan dan produk untuk negara namun tetap mempertahankan kekritisan sebagai stabilisator antara masyarakat dan pemerintah. Kelompok ini kemudian kembali ke kampusnya masing – masing untuk menempuh ilmu setelah orde lama berhasil ditumbangkan. Kalian lebih pilih mana seandainya kalian berada pada dua pilihan tersebut? Tahun 1998 mahasiswa kembali turun ke jalan untuk kembali menggulingkan rezim “jagal” yang berisi para pasukan doreng dan rekan – rekannya sendiri. Berbagai aliansi dari penjuru negeri berkumpul di Jakarta dan sejarah kembali tercipta, orde baru runtuh! reformasi tercipta meskipun banyak korban berjatuhan dari kalangan mahasiswa. Sudah menjadi kewajiban bagi kita bangsa mahasiswa untuk mengenang 13 kakak kita yang menjadi korban kedzaliman rezim “jagal” tersebut.

Lalu apa yang dirasakan mahasiswa kini. Para generasi milenial yang mengenakan jaket almamater apakah masih melanjutkan tradisi untuk ikut andil menciptakan stabilitas nasional? apakah karena kini sudah tidak ada lagi common enemy yang perlu dihantam? saya rasa tidak, jawaban ini melihat dari kondisi fakultas yang makin hari makin miris. Tentu tidak serta merta mereka bisa disalahkan seluruhnya, banyak faktor yang membuat rekan – rekan menjadi seperti itu. Sebelum saya meneruskan, tradisi yang saya maksud bukan hanya untuk turun ke jalan dan menghantam tirani, jauh lebih luas daripada itu tergantung konteks dan zamannya. Beberapa hal mengapa rekan – rekan menjadi seperti ini adalah banyak kebijakan pemerintah yang sebenarnya menjadi beban untuk masyarakat, seperti komersialisasi pendidikan. Undang – undang kita telah mengalami beberapa amandemen dan hasil gubahan tersebut sedikit banyak telah menyimpang dari UUD asli dan pancasila termasuk yang mengatur tenang pendidikan. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 berbunyi “cabang – cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak (termasuk pendidikan) dikuasai oleh negara” kemudian dilanjutkan “dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”. Pasal tersebut dengan jelas mengatakan sumber ekonomi Indonesia haruslah beradasarkan keadilan, terutama pendidikan. Namun amandemen tahun 2002 pasal 33 ayat 4 mengatakan sumber ekonomi penting tersebut dijalankan berdasarkan “efisiensi” berkeadilan. Kata “efisiensi” itulah yang membuat ketidak adilan muncul dalam pendidikan seolah segala sesuatu berdasarkan pada efisiensi. Alih – alih pasal tersebut digunakan sebagai pemerataan pendidikan di seluruh pelosok nusantra, justru malah membuat biaya pendidikan terlampau tinggi. Berapa biaya kuliah rekan – rekan selama 1 semester? beruntunglah bila kalian mendapatkan beasiswa, namun bagaimana yang tidak? Jika dikaitkan dengan pendapatan rata – rata masyarakat Indonesia, apakah masyarakat mampu untuk membayar biaya kuliah anaknya persemester yang menyentuh angka 7 juta rupiah persemester? (saya tidak berbicara tentang orang – orang yang mempunyai banyak uang)

Paradigma masyarakat dewasa ini masih menganggap taraf derajat keluarga bisa terangkat dari jenjang pendidikan. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi dengan harapan bisa menjadi orang sukses dan bekerja yang layak, namun apakah hal itu benar – benar terjadi? Saya sendiri menaruh banyak harapan ketika pertama kali merasakan atmosfer perkuliahan, namun apa yang terjadi selama 6 tahun kuliah ini? saya menyadari saya belum mendapatkan apa yang saya harapkan. Jika kita melihat fenomena peluang lowongan pekerjaan saat ini, berapa jumlah sarjana yang sedang menganggur? berapa jumlah sarjana yang bekerja namun tidak sesuai dengan fokus studinya? kemudian para sarjana mengatakan “daripada ndak dapat pekerjaan mas, rugi orang tua membayar kuliah kami”.  Para sarjana (yang untungnya) menjalani perkuliahan dengan kegiatan – kegiatan kritis dihadapkan pada dua pilihan, mempertahankan idealis atau berdamai dengan kenyataan.

Kembali pada mahasiswa, selain biaya perkuliahan yang tinggi sehingga rekan – rekan harus belajar dengan sungguh – sungguh untuk mengembalikan modal pendidikan kemudian selanjutnya bersaing pada lowongan pekerjaan sebenarnya ada masalah lain yaitu adalah kebijakan kampus. Sebagian kampus mengeluarkan kebijakan tentang batasan untuk menempuh kuliah, jika rekan – rekan menempuh kuliah melebihi batas waktu yang telah ditetukan oleh pihak kampus maka rekan – rekan harus angkat kaki dari kampus dan mencari kampus lain yang menerima. Kebjikakan ini sangatlah tidak berpihak pada mahasiswa. Selain harus membayar biaya pendidikan yang ekstrim, mahasiswa masih dibebani oleh tuntutan untuk menyelesaikan kontrak kuliahnya dengan waktu tertentu. apakah hal tersebut fair? tentu tidak bung.

Kampus juga memiliki aturan yang mengatur mahasiswa untuk berorganisasi seperti adanya BEM, dewan perwakilan mahasiswa, UKM dan himpunan – himpunan yang ada dalam jurusan. Organisasi yang saya sebutkan menjadi denyut nadi mahasiswa. Ormawa tersebut menjadi ujung tombak mahasiswa menyampaikan aspirasinya kepada pihak yang berwenang, bahkan sejarah mencatat ormawa juga menjadi alat untuk menghantam tirani pemerintahan. Alih – alih berfungsi seperti yang sebutkan, ormawa saat ini justru menjadi alat promosi kampus. BEM dan kroninya sibuk dengan acara hura – hura  yang menaikkan gengsi fakultasnya, sibuk dalam acara forum antar fakultas sejenis dan saling menunjukkan bahwa fakultasnyalah yang terbaik. Mahasiswa yang menjabat dalam ormawa dengan bangganya menganggungkan strata mereka, mereka yang lebih dekat dengan dekanat dan rektorat merasa lebih terhormat dari yang lain. Namun tidakkah rekan – rekan menyadari bahwa status anda membuat anda menjadi buruh dalam institusi pendidikan anda? Anda sibuk dengan hingar bingar untuk memajukan fakultas dengan mengorbankan waktu anda dan jerih payah anda dibayar dengan embel – embel “pernah menjabat sebagai…..” dalam portofolio anda. Rekan – rekan yang tergabung dalam ormawa saya ingat kembali, tugas anda adalah mengawal dan menyampaikan aspirasi rekan – rekan mahasiswa anda.  Yang menjadi korban adalah para mahasiswa yang tidak tergabung dalam ormawa, mereka tidak mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasinya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah korban tersebut menyadari bahwa mereka menjadi korban? jawabannya adalah tidak. “Boro – boro mas ngurusi ini itu, tugas kuliah kami sudah menguras pikiran” ucap adik tingkat saya.

Beberapa hal yang telah saya jelaskan inilah yang menjadi faktor terciptanya mahasiswa apatis di fakultas. Mahasiswa sibuk bersolek dan menunggangi kendaraan keluaran terbaru kemudian mencari pasangan, padahal sebagian dari mereka masih menggunakan uang keluarga. Mahasiswa sibuk dengan tugas kuliah berbatas waktu dan lupa akan label mereka menjadi seorang “mahasiswa”.Jika dibiarkan berlarut – larut tentu hal ini bisa mengancam stabilitas negara. Negara ini akan kehilangan para intelektual kritis dalam menanggapi berbagai polemik yang ada, dan rekan – rekan juga akan menghadapi masalah yang sama dengan kakak – kakak yang terlebih dahulu telah lulus yakni menganggur dan berdamai dengan kenyataan. Dalam tulisan ini saya tidak menyuruh rekan – rekan untuk turun ke jalan dan menggedor politik seperti mahasiswa di Sulawesi. Bukan pula menyuruh anda untuk berafilisasi dengan kepentingan politik seperti gabungan ormawa di Jakarta saat ini. Namun yang saya perlu tekankan, apakah rekan – rekan rela menjadi mesin uang untuk pendidikan tinggi? apakah rekan – rekan rela menjadi buruh dalam institusi pendidikan? atau rekan – rekan kemudian menyadari bahwa masih banyak kegelisahan yang sebenarnya kita rasakan dan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga. Jadilah mahasiswa yang progresif !

Jika tulisan ini bermanfaat menurut anda, sebarkan pada tiga rekan mahasiswa yang anda sayangi.

Hidup Mahasiswa !

The Missing link G30S


Sjam Kamaruzzaman bekerja untuk siapa?

Penulis : Agung Dwi Hartanto

Penerbit : Narasi

Barangkali anda sudah mengetahui peristiwa G30S atau yang biasa disebut dengan gestapu. Peristiwa penculikan tujuh jenderal oleh mereka yang mengklaim dirinya akan menyelamatkan negara dari coup dewan jenderal. Dalam pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, diceritakan gerakan tersebut dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia namun apakah benar seperti itu? Mengingat masih banyak yang abu – abu dari peristiwa tersebut, lebih – lebih si pembuat peristiwa tersebut dari rezim orba.

Buku ini mencoba mengulik salah satu tokoh penting dari PKI, Sjam Kamaruzzaman. Sjam adalah orang di departemen organisasi PKI yang kemudian di era Aidit diganti nama menjadi Biro Chusus (BC). Biro Chusus adalah kelompok khusus yang wewenangnya ada di bawah Aidit langsung dan sifatnya rahasia. BC diciptakan untuk menciptakan kader dan memata – matai lawan politik. Di era orde lama intel memang bukan hal yang asing dalam organisasi. Kelak BC ini pulalah yang mensetting peristiwa G30S. Perlu diketahui Aidit merupakan ketua Central Comite (CC) PKI, bersama Lukman, Sudisman dan Njoto di jajaranya. Bersama BC, Sjam menghimpun kekuatan termasuk merekrut petinggi – petinggi TNI AD dan sebagian AU yang progresif revolusioner.

Sjam dilahirkan di Tuban tahun 1924 dan berdarah arab. Sepak terjang Sjam dimulai saat dia berpindah kota menuju Yogyakarta, disana berlatih militer dan kelak bertemu dengan Soeharto atas prestasinya melawan Jepang disana. Selain Soeharto, Sjam juga kenal dengan Wikana dan Sjahrir di Yogyakarta dan mendatangi Pesindo serta PAI. Kelebihan Sjam adalah dirinya bisa diterima di berbagai organisasi dan perkumpulan politik karena Sjam tahu apa saja. Awal bertemu Aidit ketika Sjam menjadi informan Moedigdio, beliau merupakan mertua Aidit dan masih setrah dengan R.A. Kartini. Setelah peristiwa Madiun 48 PKI dan kelompok kiri lainnya kocar – kacir. Moedigdio ditangkap dan dihukum mati. Sjam membantu pelarian Aidit, konon kisah Aidit berada di Vietnam ketika peristiwa Madiun 48 adalah skenario Sjam.

Atas jasanya menyelamatkan Aidit dan keluarganya, Aidit mengajak Sjam untuk bergabung dalam PKI. Tahun 1951 terjadi revitalisasi besar – besaran, Aidit berhasil mengonsolidasi generasi muda PKI dan merebut partai dari kalangan tua, ini merupakan PKI era baru. Di tangan Aidit, PKI berhasil menjelma menjadi partai elit. Kader – kader partai berhasil menduduki jabatan strategis di pemerintahan, PKI menjadi partai yang diperhitungkan. Sampai pada akhirnya isu dewan jenderal merebak, PKI menjadi salah satu khawatir. Kesehatan Soekarno yang kala itu sedang menurun, ditambah Jenderal Yani yang semakin dekat dengan Amerika semakin menguatkan bakal terjadi coup oleh dewan jenderal. Otak cemerlang Sjam dan segala informasinya membuat G30S pun terjadi. Aidit yang kala itu menjabat sebagai ketua CC PKI pun menyerahkan segala sesuatunya kepada Sjam. Sjam pun menjadi otak gerakan 30 september dibantu perwira – perwira progresif yang tidak pro dengan Jenderal Yani.

Dalam buku ini Sjam dianggap sebagai saksi kunci peristiwa berdarah tersebut. keterangan Sjam seharusnya bisa menyambungkan mata rantai yang terputus sampai sekarang. jalan cerita dalam buku ini begitu menarik dan memaparkan fakta yang ada dari berbagai sumber. Sjam dikenal dekat oleh Soeharto, Sjam kenal dengan Sjahrir, Sjam pernah bekerja dengan orang Amerika, bahkan Sjam pernah berada pada satu tempat dengan Soekarno. Siapa sebenarnya Sjam? sampai informasinya di sidang mahkamah militer luar biasa bisa menyeret siapapun untuk dihukum mati. Sejauh apa keterlibatan Sjam pada G30S? sampai kematiannya harus ditunda sampai sekian puluh tahun. bahkan Kolonel Abdul Latief, salah satu hasil kaderisasi BC yang terlibat dalam G30S melihat Sjam masih hidup di tahun 1990. Ada pula yang bilang bahwa Sjam kebal peluru sehingga diistimewakan saat dalam tahanan.

Dan yang paling penting, Sjam bekerja untuk siapa?

 Danur


By true story

Sudah lama saya tak menonton film bergenre horor di bioskop, sampai pada akhirnya tertarik dengan film horor Indonesia yang berjudul Danur. Tepat tanggal 30 Maret film tersebut tayang perdana di bioskop dan berangkatlah saya untuk menontonnya. Wait? Selamat hari film Indonesia, saya bersyukur merayakannya dengan menonton karya lokal yang cukup bagus (ini penilaian amatir). 

Danur yang artinya bau mayat disadur dari novel karangan Risa Saraswati, sebuah novel berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang dialaminya. Jadi ceritanya Risa bisa melihat hantu sedari kecil, kemudian pengalamannya dikisahkan dalam novelnya. 

Risa kecil hidup sendiri di rumahnya. Tak sendiri juga sebenarnya, ia tinggal bersama ibunya dan pembantunya, ayahnya berada di luar negeri yang hanya beberapa kali pulang. Ibunya bekerja dan hampir setiap hari pulang larut malam sehingga Risa kecil hidup sendiri setiap hari. Sampai pada suatu hari ketika Risa kecil berulang tahun ke 8, Risa kecil merayakannya sendiri dan berdoa agar ia punya teman di umur barunya. 

Sepertinya doanya terdengar, beberapa saat kemudian terdengar sosok lebih dari satu berlari di lantai atas. Merekalah yang bernama Jansen, Peter dan Wiliam. Hantu yang bisa dilihat Risa dan menjadi sahabatnya sampai besar. Namun perjalanannya tidak seindah yang dikira, Risa sempat shock begitu tahu mereka ternyata hantu dan dibukakan matanya  dan melihat wujud mereka yang sebenarnya oleh paranormal yang diajak ibunya untuk mengobati Risa. Hingga akhirnya mereka tidak menghuni rumah itu lagi. 

Ketika Risa beranjak remaja, ia kembali datang ke rumah itu bersama Riri adiknya. Ia akan merawat neneknya yang sedang sakit untuk sementara waktu karena suster yang baru belum didapat. Tinggallah Risa bersama adik dan neneknya di rumah lamanya. Risa yang tidak terbiasa bermain adiknya, suatu ketika membiarkan adiknya pergi bermain keluar rumah. Riri bermain di sebuah pohon tua dan menemukan sebuah sisir disana. Dan siapa sangka sisir tersebut membawa hantu jahat ke dalam rumahnya yang tak disadari oleh Riri dan Risa, mereka menyangka hantu tersebut adalah suster baru yang dikirim oleh ibunya. 

Film ini begitu menarik karena berdasar kisah nyata. Selain mbak Prilly yang memerankan Risa saat remaja yang cantik, horor yang begitu kental dan fokus cerita yang jelas tanpa embel embel porno menjadi kelebihan film ini. Tidak hanya mbak Prilly saja, yang memerankan Jansen, Peter dan William juga sangat mengagumkan. 

Saya pikir tidak ada salahnya anda menonton film ini. Ini film bagus, dan mungkin saja bagi anda yang menganggap film Indonesia tidak lebib baik daripada film luar negeri pun berubah. 🙂

Salam, 

Student Hidjo 


Hidjo si pintar dari kaum priyayi

Penulis : Mas Marco Kartodikromo

Alkisah ada sebuah buku nyempil di ruang tamu rumah saya. Saya yang lagi gandrung baca buku pun tertarik untuk mengambilnya. Oh, ternyata sebuah novel dengan tampilan muka gambar seorang anak muda dan sebuah dokar yang membawa penumpang beserta kusirnya. Terlihat dari sampulnya menggambarkan buku ini berkisah di zaman kolonial, anak muda tersebut terkesan dari keluarga priyayi. Saya pun mulai membaca novel tersebut. 

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari keluarga saudagar bernama Hidjo. Hidjo anak yang pintar lulus dari sekolah setingkat SMA bikinan Belanda di Solo. Hidjo gemar membaca, buku menjadi teman akrabnya sehari-hari. Selain kehidupannya dengan buku, Hidjo memiliki partner asmara alias tunangan yakni Raden Adjeng Biroe. Perangainya yang cantik membuat masyarakat pribumi dan kompeni juga tertarik padanya. Baik Hidjo dan Biroe mereka saling mencinta. 

Setelah lulus SMA, bapak dari Hidjo berniat mengirimkan anaknya ke Belanda. Si bapak ingin Hidjo menjadi insinyur dan menguliahkannya di delfh, Belanda. Hidjo mau-mau saja di kirim kesana, namun lain halnya dengan ibu dan Biroe. Mereka berat hati melepas Hidjo, karena dirinya anak semata wayang, lagipula di Belanda kehidupannya sangat berbeda dengan di Jawa. Ibunya takut Hidjo kelak menjadi anak yang meninggalkan adat dan budaya Jawanya. Setelah Hidjo pergi ke Belanda, lika liku cinta Hidjo dan Biroe pun terjadi. 

Novel ini mengisahkan kehidupan Jawa dan Belanda yang sangat berbeda. Kehidupan Jawa yang diwakili oleh golongan priayi penuh dengan unggah ungguh dan kehidupan Belanda yang swrba modern, penuh dengan hiburan, dan kehidupan bebas. Kisah cinta yang tidak menye menye dan adab yang baik dikisahkan di Jawa. Perjodohan keluarga tanpa harus memaksakan kehendak sesama.

Novel ini ditulis orang yang sama dengan yang menulis Babat Tanah Djawi. Sebelumnya saya ndak tahu siapa Mas Marco ini, ternyata beliau orang besar. Pernah berkecimpung di perpolitikan era pergerakan, meskipun pada akhirnya mati sebelum Indonesia merdeka karena malaria. Novel ini menggunakan bahasa Indonesia khas jaman dulu yang bercampur dengan Belanda. 

Dalam novel ini juga sedikit diceritakan bagaimana gegap gempita pergerakan pada saat itu. Sarekat Islam sedang mengadakan kongres besar di Solo. Semua kadernya dari penjurj Jawa berkumpul di sana dan mendengarkan sambutan dari para orang pentingnya. Selain itu hiburan khas rakyat juga telah disiapkan. Semua bergembira bersama, baik para anggota sampai rakyat Solo sendiri. 

Jika dibandingkan dengan era sekarang, kisah cinta kini lebih berliku. Saya sepertinya jadi korbannya, menjomblo sampai sekarang. Ah, jaman dulu sepertinya lebih indah meskipun tidak ada teknologi seperti blog ini.