Semasa


Penulis: Maesy Ang. & Teddy W.

Penerbit: Post Press

Pernah berfikiran kalau hidupmu itu biasa-biasa saja? bangun tidur, mandi, mengerjakan tugas yang hampir tenggat waktu berakhir, tendensi dari bos, lalu mendengarkan ceramah dari sekitar tentang orang-orang yang berhasil? Sepertinya kamu tidak sendiri, aku pun juga seperti itu, biasa saja, lumrah.

Pernah berfikiran, saat kamu mengalami peristiwa sepele, lalu tiba- tiba saja, kamu ingat hal-hal yang telah lalu, kemudian mengingat kembali hal-hal lain karena ingatanmu yang tadi itu, terjadi begitu terus. Kadang kala peristiwa tersebut menyenangkan, karena menjadi pengingat pada sebuah hal -bahkan peristiwa- yang sangat menyenangkan, lalu tersenyum sendiri. Kadang kala pula peristiwa tersebut sangat menjengkelkan, karena kemudian menjadi ingat pada beberapa tanggungjawab yang belum kita tuntaskan. Atau bahkan kita dulu memang sengaja lari dari tanggungjawab itu. Ironi memang.

Novel berjudul Semasa ini mengingatkanku dan menjelaskan apa yang aku tulis di atas. Entah, padahal jalan cerita novel ini mungkin tidak ada yang sama dengan jalan cerita yang sedang kualami, namun aku menjadi mengingat apa yang pernah terjadi dulu, pernah bersama siapa, sedang melakukan apa, berada dimana, menyenangkan!

Novel ini ku beli dari toko buku indie yang berada di Pasar Santa Jakarta Selatan. Berawal dari sebuah siniar yang kudengarkan dari kanal Soundcloud, aku mendengarkan suara Mbak Reda yang sedang bercerita tentang Aku, Meps dan Beps serta Nawilla nya. Ada sebuah nama toko buku yang disebut disitu, POSTSANTA, kupikir bukan sebuah ide yang buruk ketika esok ke Jakarta mampir kesana. Lagipula aku sedang pengin membeli karya Mbak Reda.

Dari toko buku itu, aku mengambil 2 novel yaitu salah satu dari karya Mbak Reda dan Semasa yang kini membuatku senyum-senyum sendiri. Aku mengamati Instagram, mengulik toko buku ini, dan juga Semasa, kemudian aku baru menyadari sebuah hal bahwa yang melayani pembayaran buku tadi adalah salah satu penulisnya, Maesy Ang.

Novel ini dikerjakan oleh dua orang, Teddy dan Maesy. Mereka berdua membuat sebuah cerita dengan lakon Coro dan Sachi, sepasang sepupu yang kembali bertemu setelah sekian lama dan pergi menuju rumah peristirahatan bersama keluarga masing-masing untuk yang terakhir kalinya. Dilema yang mengalir kemudian apakah mereka benar-benar siap rumah semasa kecil mereka yang erat dengan kenangan yang ada harus dijual?

Oh tentu saja, konflik pun muncul, meski tidak heboh layaknya novel lain. Pada akhirnya -kemudian menjadi kata-kata yang menarik- sama seperti hidup orang lain, kata “selamanya” bukan pilihan. Ah, aku menjadi ingat peristiwa-peristiwa lalu, yang membuatku sempat bersedih, lalu menyadari akan ada perpisahan setelah pertemuan.

Semasa memiliki garis waktu yang cukup pendek, membuat siapapun yang menaruh minat membacanya akan candu membacanya terus-menerus sampai berakhir. Jalan cerita berdasarkan kehidupan nyata yang biasa-biasa saja membuat novel ini gampang sekali dinikmati pembaca. Lebih-lebih, aku suka dengan Coro, pemuda “nanggung” yang realistis pada keadaan, bahkan sampai menit-menit akhir rumah tersebut ditentukan nasibnya. Pada bagian yang menjelaskan -bisa pula saat bercakap- hubungannya dengan bapak, itu membuatku jengkel, karena kupikir aku beserta sebagian orang yang lain, juga mengalami hal yang sama dengan Coro, ada jarak dengan bapak, dan berusaha menyayanginya dengan caranya sendiri. Ah!

Ada hal menarik lain di novel ini, saat Sachi dihadapkan pada pertanyaan naif tentang apa yang sedang dilakukannya di Belanda. Lagi-lagi momen itu membuatku menyadari sebuah hal, bahwa manusia seringkali melakukan sebuah kebaikan bukan karena demi kebaikan itu sendiri, melainkan karena itu demi dirinya sendiri.

Kalau ada temanku yang berminat membaca, aku bersenang hati meminjamkan, tentunya dengan tanggungjawab ya he he he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s