Kritik atas Kritik Pada Aksi Kartu Kuning


Mungkin tulisan ini terkesan “terlambat” untuk dibaca oleh karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari salahsatu media. Ngapunten

Tempo lalu terdapat aksi viral yang dilakukan oleh presiden BEM Universitas Indonesia, Zaadit Taqwa. Aksi tersebut yakni mengeluarkan kartu kuning dan mengacungkannya kepada presiden Joko Widodo di saat kunjungannya di UI. Aksi tersebut menuai berbagai komentar warga net, tak hanya itu jajaran kabinet kerja dan legislatif juga turut bersuara perihal aksi tersebut. Komentar yang muncul beragam, ada yang menganggap aksi tersebut sangat berani, adapula yang menganggap bahwa tindakan yang dilakukan presma UI tersebut nir-etika atau jauh dari adab mahasiswa dalam menyampaikan pendapat. Jajaran yang ada di senayan dan istana juga senada, sudah pasti yang mendukung tindakan tersebut adalah oposisi dari presiden dan yang menolak adalah yang berada dalam koalisi.

Tulisan ini adalah pendapat pribadi yang berusaha seobyektif mungkin dalam melihat aksi yang berujung viral tersebut. Seperti kata Tan Malaka, “adil sejak dalam pikiran”

Zaadit Mahasiswa Nir-etika?

Seperti yang telah diketahui aksi kartu kuning Jokowi tersebut mengusung isu yang tengah terjadi di provinsi paling ujung Indonesia, Papua. Penyakit gizi buruk tengah melanda Papua dan menewaskan sebagian orang. Pemerintah dianggap belum optimal dalam “memelihara” saudara – saudara kita di timur Indonesia. Kondisi tersebut kemudian direspon oleh BEM UI dengan melakukan aksi simbolik mengacungkan kartu kuning oleh presiden BEMnya.

Lantas apakah aksi tersebut tidak pantas dilakukan? Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi dalam menjalankan pemerintahannya dimana sumber aspirasi berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Secara mendasar, apa yang dilakukan Zaadit adalah bagian dari proses – proses demokrasi yakni dengan menyampaikan kritikannya terhadap aparatur negara. Bukankah negara memberi kesempatan warganya untuk menyampaikan pendapat?

Terlepas apakah yang dilakukan Zaadit kurang pantas dilakukan terhadap presiden, lebih – lebih posisi dirinya sebagai agent of change ditambah lagi berada dalam posisi puncak lembaga eksekutif mahasiswa, hal ini adalah relatif. Terlalu dini jika masyarakat menganggap aksi kawan kita ini “kurang ajar”, seyogianya kita harus melihat apakah konteks Zaadit melakukan aksi tersebut dan seyogianya pula kita harus berpikir empiris dengan membandingkan apa yang telah dilakukan rekan – rekan mahasiswa sebelumnya.

Jika kita menilik apa sumbangsih senior – senior kita terhadap negara ini ternyata banyak sekali yang dilakukan mereka dan berpengaruh terhadap negara ini. Lengsernya founding father kita dari tampuk kepemimpinan seumur hidup adalah karena mahasiswa peka terhadap konflik sosial yang tengah terjadi di kisaran tahun 1965. Pada saat itu masyarakat dilanda kemiskinan, kelangkaan BBM dan sembako terlampau tinggi (sebagai gambaran tahun tersebut, telah dibuat film yang berjudul “GIE”) sedangkan di sisi lain para pejabat istana sibuk keluar negeri dan memperkaya diri membuat berbagai aliansi mahasiswa turun ke jalan, memboikot jalan dan sebagai pengkristalan dari berbagai tuntutan dari masyarakat muncullah apa yang dinamakan TRITURA. Senior – senior kita berhasil menggulingkan rezim orde lama dan Indonesia masuk pada zaman baru, yakni orde baru. Lantas apakah yang dilakukan mahasiswa pada saat itu tidak pantas? Jika dinilai dari kemampuan intelektualnya tentu tidak, mahasiswa seharusnya bisa mencari cara lain yang lebih elegan dalam mengkritisi dan menyampaikan pendapatnya seperti jalur diplomasi, silang dengar atau semacamnya. Namun aksi radikal tersebut adalah aksi yang paling tepat pada saat itu dan terbukti berhasil dalam menciptakan suasana yang lebih baik kedepannya.

Berjalan melintasi zaman kembali, pada tahun 1998 orde baru tumbang juga dilakukan oleh mahasiswa. Smilling General pada akhirnya turun dari singgasananya setelah gelombang mahasiswa melakukan aksi lebih dari 3 tahun untuk menurunkannya. Tercatat banyak korban dari golongan mahasiswa yang turut dalam aksi tersebut, mahasiswa dibunuh dan diculik hingga tak tahu rimbanya hingga kini. Blokade jalan, tuntutan – tuntutan yang disampaikan melalui megafon dan spanduk, coretan – coretan penghinaan terhadap pejabat yang dianggap korup dan otoriter sampai yang paling radikal aksi pasang badan melawan barisan militer adalah cara – cara yang sebenarnya tidak mencerminkan seorang akademisi muda. Namun berbagai cara itulah yang pada akhirnya berhasil menumbangkan rezim orde baru dan merubah wajah negara sampai sekarang.

Mungkin sebagian pembaca tidak sepakat atas perbandingan yang saya utarakan diatas bahwa aksi Zaadit tidak sebanding jika dibandingkan dengan aksi heroik mahasiswa zaman lampau. Namun di sisi lain esensi dari aksi tersebut adalah sama, adalah upaya – upaya menyampaikan ketidakpuasan atas kinerja pemerintah diluar jalur yang seharusnya. Pertimbangan lain yang mungkin muncul mengenai aksi yang dilakukan Presma UI tidak bisa dibandingkan dengan aksi – aksi besar mahasiswa zaman lampau adalah mahasiswa pasca orde baru telah kehilangan common enemy sehingga mahasiswa seperti kehilangan sasaran utama untuk dikritik. Saya sepakat dengan pertimbangan ini, namun satu hal yang penting, selama mahasiswa terkotak – kotak dalam seragam organisasi atau kaos aktivis dan sibuk mengekslusifkan diri, menganggap rendah satu sama lain, saya rasa cita – cita luhur kita hanyalah fana untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Yang perlu ditekankan adalah apa yang dilakukan oleh kawan kita bukanlah pada aksi tersebut beretika atau tidak, namun lebih kepada usaha yang dilakukan, isu yang dibawa, dan sasaran dari kritik tersebut. Sesosok Zaadit, di depan mata presiden memberi simbolisasi kritikan dalam acara formal yang bahkan demo – demo besar di depan istana yang masif pun belum tentu dihampiri oleh Presiden.

Zaadit Ditunggangi Politik?

Sebagai gambaran, ada analogi yang bisa menjelaskan ini. Jika kita menyalonkan diri sebagai kepala desa dengan beberapa lawan tanding yang juga tidak bisa dianggap remeh. Namun dalam prosesnya, preman – preman yang meresahkan warga desa ternyata mendukung kita menjadi kepala desa tanpa tedeng aling – aling. Tentu kita tidak bisa serta merta menolaknya, kita tidak bisa mendatangi mereka dan mengatakan “jangan dukung saya, suara anda hanya akan menghalangi saya menjadi kepala desa” padahal pilihan preman – preman tersebut adalah pilihan dari hati nurani mereka.

Sama halnya dengan Zaadit, dirinya tidak bisa memilih siapa – siapa yang mendukung aksinya dan tahu maksud ataupun tujuan mendukung aksinya. Terlepas apakah aksi tersebut digunakan sebagai senjata politik oleh lawan politik dari Jokowi, tentu hal tersebut perlu klarifikasi dari berbagai pihak. Dari pihak BEM UI pun telah mengeluarkan pernyataan bahwa apa yang telah mereka lakukan telah dipersiapkan dan tanpa kepentingan politik praktis.

Jangan menjadi pribadi yang spekulatif. Yang jelas, spekulasi tanpa dasar hanya akan menumpulkan nalar kritis kita.

Upaya Penumpulan Nalar Kritis Mahasiswa Oleh Pemerintah

Seperti yang telah kita ketahui, mahasiswa telah ikut dalam berbagai proses – proses menuju negara yang sesuai dengan cita – cita Pancasila. Telah banyak tokoh – tokoh yang didepak dari kursinya yang dianggap tidak lagi memiliki kapasitas untuk menjabat. Akibat dari inilah kemungkinan ada upaya pemerintah untuk lebih mewaspadai pergerakan mahasiswa terhadap kinerja pemerintah. Kebijakan – kebijakan perguruan tinggi pun dibuat untuk menghambat nalar kritis mahasiswa, seperti pembatasan masa kuliah sampai 4 tahun, membengkaknya UKT (yang konon katanya untuk efisiensi pemerataan pendidikan tinggi) sampai tugas – tugas kuliah yang datang bertubi – tubi.

Kebijakan tersebut secara tidak langsung menumpuli nalar kritis mahasiswa. Kita “dipaksa” untuk tidak lagi memikirkan negara, tanggungan – tanggungan kuliah menumpuk, merampas waktu untuk selalu dikebut dan dikebut. Beruntung, masih banyak mahasiswa yang berjuang menyampaikan suara rakyat. Rekan – rekan mahasiswa berjuang untuk mengkritik pemerintah melalui beragam cara dari berbagai forum, meskipun mereka menyadari sepenuhnya bahwa kegagalan akademis bisa saja mereka dapatkan.

Diakhir paragraf ini, seyogianya kita dapat menilai sebuah aksi ataupun langkah dari berbagai sisi. Berhentilah untuk selalu menyalahkan apa yang dilakukan rekan – rekan yang pada hakekatnya melawan sebuah hal yang sama dengan kita. Meskipun demikian, menyetujui atupun mendukung bukan berarti dapat diartikan menjadi bagian dari sebuah golongan. Saya buka pro BEM UI, saya bukan pro Jokowi, saya mahasiswa merdeka. Rahayu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s