Mengingat Munir Menyalakan Kemanusiaan


IMG_20171208_154949

talkshow

Jumat 8 Desember 2017 tepatnya dua hari sebelum Hari Hak Asasi Manusia Internasional Omah Munir merayakan ulang tahunnya ke empat. Acara yang bertajuk Mengingat Munir Menyalakan Kemanusiaan ini dimulai dari pukul 14.00 dan diakhiri pukul 17.30 bertempat di museum Omah Munir jalan Bukit berbunga nomor 2 Kota Batu, Jawa Timur. Saya sendiri berangkat dari Malang pukul 14.00 dan sampai satu jam kemudian di TKP, kebetulan acara belum dimulai. Acara tersebut merupakan rangkaian dari sebuah agenda Omah Munir yang sebelumnya terdapat workshop, pengumpulan karya seni bertema Munir dan pada tanggal sepuluhnya diisi dengan aksi bersama memperingati hari HAM Internasional. Ada 5 narasumber yang mengisi talkshow tersebut yakni Ivana Kurniawati, Alit Ambara, Yati Andriani, Haris azhar dan Subi, mereka membicarakan bagaimana semangat Munir layak untuk diteruskan dan disebarluaskan melalui berbagai medium salahsatunya adalah seni.

Setelah dibuka oleh MC, jalannya acara diberikan kepada Marsetio Hariadi selaku moderator talkshow. Acara diawali dengan perkenalan dari masing – masing narasumber. Haris Azhar dan Yati Andriani dari Kontras sedangkan Ivana Kurniawati, Subi dan Alit Ambara dari pegiat seni. Berlanjut setelah itu menceritakan bagaimana sosok cak Munir menginpirasi diri masing – masing. Menurut Yati, Munir sebagai seniornya di Kontras merupakan pribadi yang tegas. Beliau merupakan orang yang selalu biacara apa adanya sesuai fakta. Ditambahkan pula dengan Haris Azhar, bahwa semasa hidup cak Munir adalah orang yang sehari – harinya selalu serius, lebih – lebih terhadap apa yang dirinya kerjakan. Berbeda dengan beliau berdua, Ivana dan Subi tidak sezaman dengan cak Munir, namun nama cak Munir adalah sebuah semangat kemanusiaan yang harus terus dihembuskan dan dirawat sehingga semua orang mengenal dan menghargai hak asasi manusia. Alit Ambara, seniman yang bisa dikatakan lebih senior dari Ivanna dan Subi juga mengatakan demikian.

Muncul pertanyaan dari moderator mengenai perkembangan dari pengusutan pembunuhan cak Munir, yang kita tahu di tahun 2016 dokumen dari tim pencari fakta bentukan SBY hilang. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Yati dan Haris. Menurutnya Indonesia memiliki undang undang yang mengatur tentang keterbukaan informasi dengan komisi informasi yang bertugas menjalankannya. Berpedoman undang undang tersebutlah Kontras melakukan penagihan janji kepada yang berwenang untuk melakukan publikasi terhadap dokumen TPF dan apa saja yang telah ditemukan. Namun pada kenyataannya dokumen tersebut tidak ada atau telah hilang. Menanggapi kondisi tersebut permintaan keterbukaan informasi dinaikkan menjadi gugatan kepada pemerintah karena dianggap bertanggungjawab atas keberadaan dokumen tersebut. Gugatan tersebut dikabulkan namun pemerintah cenderung mengelak.

Menurut Yati, ada upaya pemerintah untuk tidak mempublikasikan dokumen tersebut kepada publik karena ada indikasi nama – nama yang ada pada dokumen TPF masih menempati jabatan strategis di pemerintahan. Jika boleh meminjam perkataan dari cak Munir, “mereka masih berlindung dibalik ketiak kekuasaan”. Secara rasional bagaimana mungkin dokumen sepenting itu bisa hilang. Apakah hanya ada satu copy? Apakah dari presiden sebelumnya tidak diberikan kepada presiden yang resmi kini? Apakah kepolisian tidak tahu alur dari dokumen tersebut? Saya saya raa tidak mungkin.

Saya sendiri menyimpulkan bahwa negara masih setengah hati untuk mengungkap kasus berat ini karena mungkin saja pemerintah juga turut andil dalam skenario kasus pembunuhan ini. Bayangkan jika kasus daripada aktivis pembela hak asasi saja negara tidak berani untuk bertanggungjawab, bagaimana dengan kasus – kasus berat penghilangan nyawa manusia secara massal yang dulu dikawa untuk cak Munir?

 

IMG_20171208_174831

pameran karya

 

Untuk itulah pameran karya yang berlangsung sampai 30 Desember 2017 diadakan. Pameran karya yang bertujuan untuk memanggil kembali ingatan kita tentang cak Munir yang begitu berani melawan siapa siapa yang berlaku tak adil kepada sesama manusia, juga untuk mengenalkan kembali kepada generasi milenial bahwa dulu ada sosok yang begitu berani melawan arus rezim. Pameran karya didominasi oleh karya – karya berbentuk poster, tentunya ada wajah cak Munir disana. Selain poster ada pula karya film dari seorang sineas dari Jakarta. Film dokumenter mengisahkan aksi kamisan yang berlangusng sekian ratus kali di depan istana presiden.

Acara berlanjut dengan pemberian plakat dari omah munir kepada ketiga perwakilan seniman yang  karya ditampilkan dalam pameran karya, kemudian disusul penampilan dari mas Darto sisir tanah membawakan lagu – lagunya yang sarat akan kemanusiaan dan kegelisahan sosial. Penampilan tersebut mampu membawa peserta talkshow yang datang hanyut dan ikut bernyanyi. Acara ditutup dengan pembukaan pameran karya di dalam omah munir. Para pengunjung yang datang masuk kedalamnya kemudian melihat karya – karya yang dipajang dan barang – barang peninggalan cak Munir semasa beliau masih hidup.

 

Panjang umur semangat baik!

Iklan