Sikap Terhadap Masalah Kemanusiaan dan Rakyat Kulon Progo


Karya Ivana Kurniawati

Setiap manusia tentu memiliki pandangan yang berbeda terhadap sebuah permasalahan yang tengah terjadi. Masing – masing individu memiliki alasan yang mungkin saja bisa dirasionalkan dalam memutuskan berada pada sisi mana dirinya berdiri dalam sebuah permasalahan, apakah pro atau kontra tentunya hal tersebut merupakan hak paling pribadi dalam diri masing – masing.

Memasuki awal tahun 2018 beberapa polemik yang tengah terjadi disekitar masih belum usai. Palestina dengan intifadah rakyatnya yang masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya melawan pernyataan Trump yang mengakui bahwa ibukota Israel tak lagi berada pada Tel Aviv namun berpindah ke Jerussalem, rakyat Rohingya yang sampai saat ini masih terkatung – katung mencari suaka pada negara – negara terdekat, perlawanan rakyat Kendeng terhadap dominasi pabrik semen yang konon didukung pemerintah demi pembangunan dan perjuangan rakyat Kulon Progo melawan aparat dan angkasa pura dalam upaya pembangunan New Yogya International Aiport (NYIA). Setiap individu bebas dalam memberikan pendapat dan dukungannya terhadap beberapa masalah kemanusiaan yang saya sebutkan diatas. Termasuk saya sendiri.

Tidak ada kesejahteraan dalam sebuah penjajahan. Hampir semua permasalahan yang tengah dihadapi berasal dari sumber ingin menguasai satu sama lain. Setiap masnusia ingin menjadi lebih tinggi dan menguasai harta dan sumberdaya yang ada. Lalu masalah yang mana yang harus kita perhatikan terlebih dahulu? Beberapa waktu lalu saya berdebat santai dengan salah satu kawan saya.

“palestina tambah membara yo? Koe opo ngikuti beritae?” (palestina semakin panas ya, kamu apa mengikuti kabarnya)

“ngikuti sithik”(mengikuti beberapa)

“loh kok sithik, iku saudara seiman lo, awak dhewe wajib ngewangi, utowo turut berduka” (kok cuman sedikit, mereka saudara seiman, kita wajib membantu atau paking tidak berduka”

Ya, saya tahu mereka sudara seiman dan perjuangan mereka mempertahankan tanah mereka dari penjajahan kaum zionis. Akan tetapi terkadang kita lupa satu hal, yakni tanah air kita sendiri. Tanpa menganggap kasus internasional lainnya sepele, saya justru lebih berempati dengan perjuangan saudara setanah air kita dalam melawan para tuan tanah dan aparat yang secara membabibuta menggusur (mereka lebih memilih menggunakan kata “menata”) demi pemerataan pembangunan. Dalam hal ini adalah perjuangan rakyat kuloprogo dan kendeng. Mengapa begitu? Jika boleh meminjam perkataan dari Gusmus kita ini lahir di Indonesia dan akan dikebumikan di Indonesia, untuk itu jika kita melihat penindasan pada tanah kita, kita harus melawan.

Perjuangan Rakyat Kulon Progo Melawan Angkasapura

Kehidupan di Kulon Progo mulai terusik dengan ditandatanganinya rencana pembangunan NYIA oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, pihak swasta dan PT Angkasa Pura I pada tanggal 25 Januari 2011. Proyek tersebut tergabung dalam masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI). Dibawah kepimpinan Jokowi pasca terpilihnya beliau menjadi presiden, proyek tersebut berubah menjadi program rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) dengan total nilai investasi menurut center of aviation kurang lebih $500 juta. Dengan dibangunnya bandara megah tersebut kemudian pembangunan akan merembet menjadi pembangunan kota bandara (aero city) yang tentunya lahan yang dibutuhkan akan semakin luas. Hal ini dibenarkan pada pernyataan dirut PT Angkasa Pura II pada 2014, kedepannya pembangunan dan pembangunan bandara di Indonesia akan diarahkan untuk menjadi kota bandara dan aerotropolis.

Setidaknya lahan yang dibutuhkan dalam mega proyek tersebut membutuhkan lahan seluas 637 hektar, jika dilakukan perluasan untuk menjadi kota bandara maka akan bertambah menjadi 2000 hektar. Wilayah yang dipatok menjadi bandara terdapat 6 desa dimana total populasi manusia disana mencapai 11.501 jiwa yang hidup dari mata pencaharian sebagai petani, nelayan dan buruh. Didalamnya juga terdapat 300 hektar lahan pertanian baik itu kering (tegalan) maupun basah (sawah). Jika lahan pertanian tersebut direnggut maka negara akan kehilangan produksi gambas sebanyak 60 ton/hektar/tahun, melon 180 ton/hektar/tahun, semangka 90 ton/hektar/tahun, terong 90 ton/hektar/tahun dan cabai 30 ton/hektar/tahun, angka – angka tersebut belum termasuk puluhan ribu pekerja pertanian yang pada akhirnya menganggur oleh akibat berhentinya kegiatan bercocok tanam yang kian kondusif semanjak 35 tahun yang lalu.

Semenjak isu bandara dihembuskan, tatanan sosial dalam masyarakat Kulon Progo rusak. Konflik horizontal praktis terjadi dalam masyarakat. Kondisi dalam masyarakat terbelah menjadi 2 bagian, masyarakat yang bersikeras menolak ganti rugi dari AP I dan masyarakat yang menerima relokasi danganti rugi. Masyarakat yang menolak adalah masyarakat yang berusaha tanah leuhurnya juga sekaligus sebagai mata pencaharian dan sumber penghidpan bagi anak cucu mereka. Bagi mereka ganti rugi adalah sementara lalu pekerjaan yang layak belum tentu mereka dapatkan, sedangkan dengan bertani yang sudah dijalani puluhan tahun telah mencukupi kebutuhan mereka walaupun secara sederhana.

Selain masalah agraria dan sosial diatas ada pelanggaran hukum yang terjadi. Izin penetapan lokasi (IPL) diterbitkan secara sepihak tanpa memetingkan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Padahal dalam mekanismenya, dalam melaksanakan IPL izin amdal harus didapatkan. Selain itu pembangunan NYIA juga menyalahi peraturan tata ruang wilayah yang diterbitkan oleh presiden pada tahun 2012 yang kurang lebih isinya adalah mengintegrasikan 2 bandara yakni Adi Sucipto dan Adi Sumarmo agar lebih optimal. Dalam peraturan tersebut tidak disebutkan adanya pembangunan bandara baru. Politik istimewa Yogykarta juga turut menghalalkan pendirian bandara. Lahirnya kembali undang undang keistimewaan Yogyakarta memicu munculnya kembali sultan ground dan pakualaman ground yang oleh negara sudah dihapuskan.

Kini, rakyat yang masih bertahan diatas tanahnya tetap melawan alat berat dan aparat yang berusaha mengambil tanah mereka. Tanah yang mereka miliki tidak pernah dijual kepada pihak yang ingin menguasai dan menjadikannya sebagai bandara.

Alasan Sederhana Mendukung Rakyat Kulon Progo

Bagi saya, tidak perlu membaca buku – buku tentang kelas sosial untuk melihat bagaimana penjajahan yang tengah terjadi dan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Negara Indonesia adalah negara dengan iklim tropis dan berada di tengah garis khatulistiwa sekaligus memiliki garis pantai yang cukup panjang. Jika dipikir dengan akal sehat seharusnya tonggak perekonomian haruslah bertumpu pada sektor agraria dan kelautan. Petani yang sudah kian lama termajinalkan pada hakekatnya adalah ujung tombak dari mengepulnya asap di dapur. Hasil pertanian mereka tak lagi cukup mengakomodir kebutuhan pangan masyarakat Indonesia sampai pemerintah kemudian mengekspor beras dan bahan yang lain. Lahan yang ada kian terkikis demi pembangunan. Stereotip macam ini yang perlu dilawan bahwa pemerataan pembangunan tidak semata hanya dengan menggusur lahan rakyat (apalagi lahan pertanian).

Dominasi pemerintah atas nama pembangunan juga harus dipatahkan. Apa guna pembangunan yang signifikan tapi berbanding dengan kemakmuran rakyat. Pembangunan yang katanya memperhatikan kesejahteraan rakyat hanya akan menguntungkan para pebisnis dan investor yang telah lama mengintai sumberdaya yang ada. Pembangunan yang berjalan tak jarang juga menyalahi prosedur hukum. Perundangan dan pertauran yang berlaku dengan mudahnya dilanggar atau bahkan diubah demi kelancarannya. Yang harus disadari adalah besarnya nilai investasi tak cukup mampu untuk menyelamatkan sebuah kedaulatan negara.

Apa yang dilakukan rakyat kulonprogo yang hingga kini masih bertahan bersama para relawan tidaklah hanya untuk mengamankan aset pribadi namun untuk kepentingan negara secara umum dan Yogyakarta secara khusus. Sumber daya alam yang ada harus dipertahankan, apalagi lahan seperti di kulonprogo makin sempit di pulau jawa. Penguasa dan para tuan tanah tidak akan berhenti menjarah jika ini terus dibiarkan.

Secara kongkret, pembangunan sah – sah saja selama rakyat benar – benar membutuhkan pembangunan tersebut, bukan untuk pengusaha dan investor. Kami bersamamu, Kulon Progo.

Akhir

Saya tidak memaksa orang untuk mendukung sebuah konflik apapun, karena setiap orang memiliki pertimbangan masing – masing. Tentunya banyak juga yang mendukung terbangunnya mega bandara di Yogyakarta dan saya menghormati itu. Tulisan ini adalah sebagai pertimbangan anda dalam menilai apakah keberpihakan memang perlu dalam melihat sebuah permasalahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s