Dosen adalah dewa dan mahasiswa adalah kerbau


Pertengahan tahun ini saya masih aktif berkuliah. Masih ada sekitar 4 mata kuliah yang ternyata belum diambil, maka di semester ganjil ini saya memilih 2 mata kuliah yang tersedia. Saya pikir kehidupan fakultas akan berubah ketika mahasiswa baru 2017 hadir meramaikan gedung di pojok kampus UM. Ternyata tidak, suasana masih sama seperti yang pernah tertulis di blog ini, masih penuh dengan ketidakpedulian, individualis  dan (sebagian) dosen Рdosen yang seperti enggan untuk mengajar.

Mahasiswa baru tak begitu mencolok di selasar fakultas. Generasi milenial memang terlihat sama satu dengan yang lain, pakaian kekinian, gawai yang tak bisa jauh dari tangan dan tentunya bergerombol bila kemana – mana (khas mahasiswa baru). Jika dibandingkan dengan kakak tingkatnya hampir tak ada bedanya. Perkuliahan kali ini saya masuk pada kelas dari angkatan 2015, angkatan yang sudah tak tersentuh kegiatan pengenalan jurusan yang “relevan”. Kegiatan di kelas yang saling mengisi waktunya sendiri, bermain game dan sibuk dengan gawainya masing – masing, sampai pada akhirnya dosen pun datang. Seorang dosen muda yang diberi tanggungjawab mata kuliah yang bagi saya cukup berpengaruh pada skripsi pada semester akhir.

Saya teringat celetukan kawan saya, “tambah dhuwur gelar dosen iku wonge tambah woles, ra eneh2. bedo karo dosen nom2, kemelinthi” (tambah tinggi gelar dosen biasanya tambah santai beliau, beda sama dosen muda yang sok). Kemungkinan anggapan itu ada benarnya. Sebenarnya sudah banyak omongan miring terhadap dosen ini, beberapa mahasiswa yang sudah pernah diampunya merasa tidak mendapatkan ilmu dengan semestinya. Benar saja, hingga pekan UTS dosen ini hanya beberapa kali muncul di depan kelas, itupun dengan suara yang agak pelan (saya yang duduk di belakang masih bisa menangkapnya) beliau menjelaskan beberapa teori dari beberapa pakar diselingi dengan selentingan miring kalau kami harus bisa memahaminya. Dari sini saya paham, mengapa mayoritas mahasiswa lebih memilih dosen yang jauh lebih¬†killer daripada beliau.

Ada beberapa kemungkinan mengapa beberapa dosen muda berlaku seperti ini. Kemungkinan yang pertama, gaji yang tak cukup untuk mencukupi berbagai kebutuhannya. Saya pernah dengar sebuah omongan (namun saya tak berani mengkalim kebenarannya) bahwa dosen muda statusnya adalah kontrak, tak resmi PNS (kampus saya PTN). Hal ini menyebabkan semangat yang dimiliki kemungkinan berkurang, hmm ya berkurang. Kemungkinan kedua adalah menurunnya kualitas para dosen. Ada perasaan bangga menjadi dosen yang sebelumnya hanya menjadi asisten dosen yang kemudian kekuasaan untuk menindas dan bertindak semuanya. Mereka lupa dulu juga pernah menjadi mahasiswa. Sekali lagi, ini semua hanya mungkin.

Lalu bagaimana dengan nasib mahasiswa? Saya pikir mereka akan protes dengan keadaan mereka sekarang. Mereka tidak mendapat hak mereka selaku mahasiswa untuk mendapat pendidikan dengan layak. Tapi ternyata tidak, mereka justru senang karena perkuliahan berlangsung dengan santai. Mereka tidak menyadari bahwa mata kuliah mereka merupakan mata kuliah yang penting bagi tugas akhir mereka. Saya sendiri berada pada posisi yang “nanggung” bersama mahasiswa basi yang kebetulan mengulang. Niatnya mau serius, namun beginilah yang terjadi. Protes pun kami juga menjadi minoritas. Terlihat pasrah memang, namun memang begini sebagian dosen berpandangan miring terhadap kami. Salah satu cara melakukan perlawanan adalah dengan tulisan ini.

Saya begitu miris melihat fenomena tersebut seperti lumrah terjadi. Mahasiswa tak lagi peduli dengan kondisi yang jelas tidak sehat. Mereka tidak menyadari bahwa mereka bayar mahal untuk ini. Beberapa minggu lalu (setelah enam tahun dikerjakan) gedung rektorat telah diresmikan. Sebagian menganggap gedung tersebut menjadi sebuah kebanggan. UKT mereka berhasil membuat gedung megah, dosen dan staf pun menjadi bersemangat untuk absen. Namun kemegahan tersebut sama sekali tidak berpengaruh di gedung kami, semua tetap dengan rutinitas yang ada. Bagi saya gedung rektorat tersebut tak ada spesialnya, tetap tidak mengubah itikad para dosen “nanggung” tersebut untuk mendidik mahasiswa dengan baik.

Sebagai mahasiswa yang uktnya menembuh diatas tiga juta mereka seharusnya menyadari bahwa mereka menghadapi keadaan yang tidak baik – baik saja. Apa yang mereka dapatkan tidak seseuai dengan semestinya. Agitasi akan tetap berlanjut kepada mereka yang sadar bahwa fakultas sedang bopeng.

 

Iklan