Matur Nuwun 2016


30 Desember 2016, ndak terasa tahun genep tinggal sehari lagi (re : tinggal tanggal 31). Wah wah, kalau mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi jadi senyum-senyum sendiri. Dimulai dari awal tahun kondisi saya kurang lebih sama kayak penghujung tahun ini alias perlu istirahat total karena sakit kambuh. Tahun 2016 kambuhnya di awal sama di akhir. Sungguh disayangkan.

Diawali dengan cuti di separuh tahun pertama, kemudian saya mengambil kuliah kembali di separuh tahun kedua. Ndak banyak, hanya 6 sks 2 diantaranya adalah seminar proposal skripsi salahsatu yang butuh treatment khusus. Alhamdulilah 6 sks bisa saya selesaikan walaupun di menit-menit akhir sudah hampir ambruk. Tahun ini kenalan-kenalan saya dari angkatan bawah juga mulai banyak. Hmm.

Juni 2016 kopintar dipugar diganti dengan yang baru, namanyapun kemudian digubah menjadi psycoffee. Tetap menjadi kedai kopi yang bisa dinikmati dari semua kalangan. Disini adalah tempat baru saya untuk belajar bagaimana cara membangun dan mengatur tempat usaha. Disini pula lidah ini mulai dikenalkan dengan kopi, sebuah minuman pekat yang ternyata memiliki khas dari berbagai daerah. Kopi kui duwe cerito lan howone dewe dewe begitu kata teman saya yang memang sudah cinta mati dengan kopi. Mulai di titik ini saya belajar etika menyeduh kopi dengan benar. 

Menghabiskan waktu di kedai kopi membuat saya berkenalan dengan orang-orang baru. Mereka mempunyai cerita masing-masing dan sangat menginspirasi saya tak terkecuali carut marut perpolitikan di negeri ini. Entah kenapa belakangan tahun ini saya tertarik untuk nyinyir tentang hal tersebut bersama mereka. Beberapa juga saya tulis di blog ini. Oh hampir lupa, tahun ini saya juga punya rumah baru untuk menulis. Di sini opsinya lebih menarik dan saya menjadi lebih menggebu dalam menulis.

Akhir kata, terimakasih 2016, terimakasih teman-teman yang membuat saya bersemangat di tahun tersebut. Selamat menyambut tahun baru 2017. 
Semangat ! 

*Tulisan ini dibuat tanggal 30 dan selesai tanggal 1, tahun berikutnya.*

Toleransi To 


Toleransi sebuah kata sakral yang memiliki fungsi menjaga kedamaian di dunia. Apapun bahasanya toleransi merujuk pada saling menghargai, saling mengalah pada yang lebih penting dan saling interospeksi diri dari segala khilaf yang dilakukan oleh antar golongan. 

Alih-alih menjadi kata pemersatu di negeri ini toleransi kini menjadi kata yang sensitif bagi sebagian telinga masyarakat. Golongan satu menyerang golongan lain dengan dalih tidak menunjukkan toleransi atas keyakinannya. Golongan satu melarang kaumnya untuk bertoleransi pada golongan lain dengan dalih bisa melemahkan golongannya. Omong kosong bung ! Negeri ini dibangun atas keberagaman ! Toleransi adalah bentuk pengejawantahan dari Bhinneka Tunggal Ika. 

Toleransi kini mengalami penyempitan makna. Jika dirimu menghargai diriku lebih dulu maka aku layak mentolerir dirimu. Jika tidak ya tidak. Sungguh ironi. Bagaimana jika semua orang berfikir seperti itu? Seolah bumi hanya milikmu saja. Tuhan menciptakan banyak keyakinan dan budaya untuk belajar tentang keberagaman. 

Semoga toleransi akan terus ada di negeri ini.  

Rakyat Berdaulat/Konglomerat Berdaulat


Di penghujung 2016 negeri ini diterpa banyak sekali cobaan. Persaingan pemilihan calon DKI 1 yang berujung tersulutnya isu SARA menjadi sebuah drama yang entah kapan selesainya. Mayoritas menendang minoritas, klasik sekali. Korbannya adalah masyarakat, bukan yang hanya di DKI saja tapi hampir dari seluruh penjuru negeri ini. Perlahan isu berhembus bergeser jadi saling mengharamkan. Haram ini haram itu, yang semula tujuannya jelas (jelas?) Kini semakin kemana-mana. Sasarannya tidak tanggung-tanggung masyarakat yang berbeda keyakinan. Meskipun sudah diingatkan, disindir secara halus dan “nylekit” seolah tak jadi soal. Bahkan yang seimanpun juga kena. Berbeda pandangan langsung ditatap sinis dan diteriaki bid’ah. Oh negeriku, bukankah semboyan kita masih Bhinneka Tunggal Ika?

Beberapa waktu lalu densus kembali melakukan aksinya. Penyergapan yang dilakukannya di Bekasi membuahkan hasil. Disitanya panci presto yang didalamnya terdapat bom dan sekarung paku dan gotri rencananya akan diledakkan di Istana adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Di negara lain aksi serupa bahkan telah merenggut banyak orang. Namun bagi sebagian masyarakat kita kejadian ini tidak begitu menarik. “Ini cuma pengalihan isu”, katanya. Pengalihan isu dari kasus SARA yang lagi santer. Masyarakat negeri ini selalu saja begitu.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga sedang terjadi kasus yang seru, tapi sepertinya layar kaca masih menganggap kasus DKI yang bisa menarik minat masyarakat. Sebutlah saja kasus semen di daerah kendeng. Semua petani disana menolak, mereka mau kerja apa jika daerah mereka dijadikan lahan mengeruk semen. Tapi sepertinya kepala daerah punya kepala batu. Tuntutan para pejuang pangan garis depan ini belum digubris walaupun pengadilan tertinggi (di negeri ini) telah mencabut. Ada pula di Yogyakarta daerah istimewa. Konon “Yugjo” dahulu merupakan kerajaan yang dipimpin oleh kesultanan. Sampai kinipun juga begitu, sampai-sampai undang-undangnya pun dicap “istimewa”. Namun cap tersebut menjadi prahara bagi masyarakat Kulonprogo dan Parangkusumo sebab tanahnya diusik mau dijadikan bandara dan wisata bagi para jajaran keraton. Sekali lagi apa bandara bisa mengenyangkan perut? 

Negeri ini menganut demokrasi dimana rakyat berperan dalam pelaksanaan pemerintahan dan politik melalui wakil rakyat. Berarti rakyat juga ikut memutuskan nasibnya, nasib daerahnya dan nasib pemimpinnya. Namun hal ini belum sepenuhnya terwujud. Para baron menggunakan kekuasaanya untuk dirinya dan keluarganya. Pada akhirnya sebagian rakyat marah dan mengangap demokrasi ini sudah busuk dan layak untuk diganti. Sebenarnya yang harus berdaulat rakyat atau konglomerat?