Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan


koleksi instagram arbain rambey

(Tulisan opini ini bertujuan untuk mengagitasi mahasiswa bahwa sebenarnya ada kegelisahan dalam kehidupan kampus)

Sebelumnya saya mau mengucapakan selamat hari buruh internasional untuk para buruh, karyawan, pekerja, pekarya atau apapun sebutannya. Dan tak lupa selamat hari pendidikan nasional untuk masyarakat Indonesia, untuk tenaga pendidik baik di kota maupun di pelosok nusantara.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kampus terutama warga fakultas saya yang kondisinya kian ironi menurut pandangan pribadi. Jika menilik dari judul yang saya buat, saya bermaksud mengupas bagaimana mahasiswa yang seharusnya menjadi pelopor pemikiran kritis untuk masyarakat dan pemerintah justru menjadi buruh dalam kampus sendiri. Tanpa maksud merendahkan buruh, bagi saya buruh adalah kaum proletar yang menyumbang banyak aspek untuk negara. Namun, apakah mahasiswa telah tepat jika dirinya mem”buruh”kan diri kepada almamaternya?

Jika kita menyadari sejarah awal mula munculnya mahasiswa telah terjadi pada zaman kolonial. Kita harus berterima kasih kepada penjajah berkat politik balas budinya, sehingga masyarakat pribumi bisa menikmati salah satu “kemewahan” saat itu. Para kaum terpelajar itu kemudian menyadari mereka harus berbuat sesuatu itu negaranya yang pada akhirnya muncullah pergerakan – pergerakan yang dipelopori oleh Boedi Oetomo yang didirikan oleh dr. Soetomo. Pergerakan lainnya pun kemudian bermunculan, ideologi – ideologi dari luar negeri juga ikut mempengaruhi para pergerakan ini sampai pada akhirnya muncul tokoh – tokoh dari pemuda terpelajar yang bepikiran kritis dan berani untuk mempelopori rumusan cikal bakal berdirinya sebuah negara. Pasca kemerdekaan lagi – lagi mahasiswa menciptakan common enemynya yaitu pemerintah. Melalui TRITURA mahasiswa dari berbagai aliansi menuntut terciptanya keadilan bagi masyarakat dan pemerintahan yang sehat terbebas dari “memperkaya diri” dan PKI. Rekan – rekan yang membaca ini seyogianya membaca tulisan Soe Hok Gie yang terangkum dalam buku yang bertajuk Zaman Peralihan. Ketika orde baru berjalan, sebagian mahasiswa yang berjasa menggulingkan orde lama diberikan jatah kursi di legislatif oleh rezim. Polemikpun muncul (dan saya perlu menegaskan ini agar menjadi renungan untuk rekan – rekan sekalian) sebagian mahasiswa berpendapat untuk menciptakan pemerintahan yang sehat, adil dan mensejahterakan sudah tentu perlu turun langsung menjadi pemerintah itu sendiri, sebagian lain berpendapat tugas paling dasar sebagai mahasiswa adalah belajar dan menciptakan sebuah gagasan dan produk untuk negara namun tetap mempertahankan kekritisan sebagai stabilisator antara masyarakat dan pemerintah. Kelompok ini kemudian kembali ke kampusnya masing – masing untuk menempuh ilmu setelah orde lama berhasil ditumbangkan. Kalian lebih pilih mana seandainya kalian berada pada dua pilihan tersebut? Tahun 1998 mahasiswa kembali turun ke jalan untuk kembali menggulingkan rezim “jagal” yang berisi para pasukan doreng dan rekan – rekannya sendiri. Berbagai aliansi dari penjuru negeri berkumpul di Jakarta dan sejarah kembali tercipta, orde baru runtuh! reformasi tercipta meskipun banyak korban berjatuhan dari kalangan mahasiswa. Sudah menjadi kewajiban bagi kita bangsa mahasiswa untuk mengenang 13 kakak kita yang menjadi korban kedzaliman rezim “jagal” tersebut.

Lalu apa yang dirasakan mahasiswa kini. Para generasi milenial yang mengenakan jaket almamater apakah masih melanjutkan tradisi untuk ikut andil menciptakan stabilitas nasional? apakah karena kini sudah tidak ada lagi common enemy yang perlu dihantam? saya rasa tidak, jawaban ini melihat dari kondisi fakultas yang makin hari makin miris. Tentu tidak serta merta mereka bisa disalahkan seluruhnya, banyak faktor yang membuat rekan – rekan menjadi seperti itu. Sebelum saya meneruskan, tradisi yang saya maksud bukan hanya untuk turun ke jalan dan menghantam tirani, jauh lebih luas daripada itu tergantung konteks dan zamannya. Beberapa hal mengapa rekan – rekan menjadi seperti ini adalah banyak kebijakan pemerintah yang sebenarnya menjadi beban untuk masyarakat, seperti komersialisasi pendidikan. Undang – undang kita telah mengalami beberapa amandemen dan hasil gubahan tersebut sedikit banyak telah menyimpang dari UUD asli dan pancasila termasuk yang mengatur tenang pendidikan. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 berbunyi “cabang – cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak (termasuk pendidikan) dikuasai oleh negara” kemudian dilanjutkan “dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”. Pasal tersebut dengan jelas mengatakan sumber ekonomi Indonesia haruslah beradasarkan keadilan, terutama pendidikan. Namun amandemen tahun 2002 pasal 33 ayat 4 mengatakan sumber ekonomi penting tersebut dijalankan berdasarkan “efisiensi” berkeadilan. Kata “efisiensi” itulah yang membuat ketidak adilan muncul dalam pendidikan seolah segala sesuatu berdasarkan pada efisiensi. Alih – alih pasal tersebut digunakan sebagai pemerataan pendidikan di seluruh pelosok nusantra, justru malah membuat biaya pendidikan terlampau tinggi. Berapa biaya kuliah rekan – rekan selama 1 semester? beruntunglah bila kalian mendapatkan beasiswa, namun bagaimana yang tidak? Jika dikaitkan dengan pendapatan rata – rata masyarakat Indonesia, apakah masyarakat mampu untuk membayar biaya kuliah anaknya persemester yang menyentuh angka 7 juta rupiah persemester? (saya tidak berbicara tentang orang – orang yang mempunyai banyak uang)

Paradigma masyarakat dewasa ini masih menganggap taraf derajat keluarga bisa terangkat dari jenjang pendidikan. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi dengan harapan bisa menjadi orang sukses dan bekerja yang layak, namun apakah hal itu benar – benar terjadi? Saya sendiri menaruh banyak harapan ketika pertama kali merasakan atmosfer perkuliahan, namun apa yang terjadi selama 6 tahun kuliah ini? saya menyadari saya belum mendapatkan apa yang saya harapkan. Jika kita melihat fenomena peluang lowongan pekerjaan saat ini, berapa jumlah sarjana yang sedang menganggur? berapa jumlah sarjana yang bekerja namun tidak sesuai dengan fokus studinya? kemudian para sarjana mengatakan “daripada ndak dapat pekerjaan mas, rugi orang tua membayar kuliah kami”.  Para sarjana (yang untungnya) menjalani perkuliahan dengan kegiatan – kegiatan kritis dihadapkan pada dua pilihan, mempertahankan idealis atau berdamai dengan kenyataan.

Kembali pada mahasiswa, selain biaya perkuliahan yang tinggi sehingga rekan – rekan harus belajar dengan sungguh – sungguh untuk mengembalikan modal pendidikan kemudian selanjutnya bersaing pada lowongan pekerjaan sebenarnya ada masalah lain yaitu adalah kebijakan kampus. Sebagian kampus mengeluarkan kebijakan tentang batasan untuk menempuh kuliah, jika rekan – rekan menempuh kuliah melebihi batas waktu yang telah ditetukan oleh pihak kampus maka rekan – rekan harus angkat kaki dari kampus dan mencari kampus lain yang menerima. Kebjikakan ini sangatlah tidak berpihak pada mahasiswa. Selain harus membayar biaya pendidikan yang ekstrim, mahasiswa masih dibebani oleh tuntutan untuk menyelesaikan kontrak kuliahnya dengan waktu tertentu. apakah hal tersebut fair? tentu tidak bung.

Kampus juga memiliki aturan yang mengatur mahasiswa untuk berorganisasi seperti adanya BEM, dewan perwakilan mahasiswa, UKM dan himpunan – himpunan yang ada dalam jurusan. Organisasi yang saya sebutkan menjadi denyut nadi mahasiswa. Ormawa tersebut menjadi ujung tombak mahasiswa menyampaikan aspirasinya kepada pihak yang berwenang, bahkan sejarah mencatat ormawa juga menjadi alat untuk menghantam tirani pemerintahan. Alih – alih berfungsi seperti yang sebutkan, ormawa saat ini justru menjadi alat promosi kampus. BEM dan kroninya sibuk dengan acara hura – hura  yang menaikkan gengsi fakultasnya, sibuk dalam acara forum antar fakultas sejenis dan saling menunjukkan bahwa fakultasnyalah yang terbaik. Mahasiswa yang menjabat dalam ormawa dengan bangganya menganggungkan strata mereka, mereka yang lebih dekat dengan dekanat dan rektorat merasa lebih terhormat dari yang lain. Namun tidakkah rekan – rekan menyadari bahwa status anda membuat anda menjadi buruh dalam institusi pendidikan anda? Anda sibuk dengan hingar bingar untuk memajukan fakultas dengan mengorbankan waktu anda dan jerih payah anda dibayar dengan embel – embel “pernah menjabat sebagai…..” dalam portofolio anda. Rekan – rekan yang tergabung dalam ormawa saya ingat kembali, tugas anda adalah mengawal dan menyampaikan aspirasi rekan – rekan mahasiswa anda.  Yang menjadi korban adalah para mahasiswa yang tidak tergabung dalam ormawa, mereka tidak mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasinya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah korban tersebut menyadari bahwa mereka menjadi korban? jawabannya adalah tidak. “Boro – boro mas ngurusi ini itu, tugas kuliah kami sudah menguras pikiran” ucap adik tingkat saya.

Beberapa hal yang telah saya jelaskan inilah yang menjadi faktor terciptanya mahasiswa apatis di fakultas. Mahasiswa sibuk bersolek dan menunggangi kendaraan keluaran terbaru kemudian mencari pasangan, padahal sebagian dari mereka masih menggunakan uang keluarga. Mahasiswa sibuk dengan tugas kuliah berbatas waktu dan lupa akan label mereka menjadi seorang “mahasiswa”.Jika dibiarkan berlarut – larut tentu hal ini bisa mengancam stabilitas negara. Negara ini akan kehilangan para intelektual kritis dalam menanggapi berbagai polemik yang ada, dan rekan – rekan juga akan menghadapi masalah yang sama dengan kakak – kakak yang terlebih dahulu telah lulus yakni menganggur dan berdamai dengan kenyataan. Dalam tulisan ini saya tidak menyuruh rekan – rekan untuk turun ke jalan dan menggedor politik seperti mahasiswa di Sulawesi. Bukan pula menyuruh anda untuk berafilisasi dengan kepentingan politik seperti gabungan ormawa di Jakarta saat ini. Namun yang saya perlu tekankan, apakah rekan – rekan rela menjadi mesin uang untuk pendidikan tinggi? apakah rekan – rekan rela menjadi buruh dalam institusi pendidikan? atau rekan – rekan kemudian menyadari bahwa masih banyak kegelisahan yang sebenarnya kita rasakan dan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga. Jadilah mahasiswa yang progresif !

Jika tulisan ini bermanfaat menurut anda, sebarkan pada tiga rekan mahasiswa yang anda sayangi.

Hidup Mahasiswa !

The Missing link G30S


Sjam Kamaruzzaman bekerja untuk siapa?

Penulis : Agung Dwi Hartanto

Penerbit : Narasi

Barangkali anda sudah mengetahui peristiwa G30S atau yang biasa disebut dengan gestapu. Peristiwa penculikan tujuh jenderal oleh mereka yang mengklaim dirinya akan menyelamatkan negara dari coup dewan jenderal. Dalam pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, diceritakan gerakan tersebut dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia namun apakah benar seperti itu? Mengingat masih banyak yang abu – abu dari peristiwa tersebut, lebih – lebih si pembuat peristiwa tersebut dari rezim orba.

Buku ini mencoba mengulik salah satu tokoh penting dari PKI, Sjam Kamaruzzaman. Sjam adalah orang di departemen organisasi PKI yang kemudian di era Aidit diganti nama menjadi Biro Chusus (BC). Biro Chusus adalah kelompok khusus yang wewenangnya ada di bawah Aidit langsung dan sifatnya rahasia. BC diciptakan untuk menciptakan kader dan memata – matai lawan politik. Di era orde lama intel memang bukan hal yang asing dalam organisasi. Kelak BC ini pulalah yang mensetting peristiwa G30S. Perlu diketahui Aidit merupakan ketua Central Comite (CC) PKI, bersama Lukman, Sudisman dan Njoto di jajaranya. Bersama BC, Sjam menghimpun kekuatan termasuk merekrut petinggi – petinggi TNI AD dan sebagian AU yang progresif revolusioner.

Sjam dilahirkan di Tuban tahun 1924 dan berdarah arab. Sepak terjang Sjam dimulai saat dia berpindah kota menuju Yogyakarta, disana berlatih militer dan kelak bertemu dengan Soeharto atas prestasinya melawan Jepang disana. Selain Soeharto, Sjam juga kenal dengan Wikana dan Sjahrir di Yogyakarta dan mendatangi Pesindo serta PAI. Kelebihan Sjam adalah dirinya bisa diterima di berbagai organisasi dan perkumpulan politik karena Sjam tahu apa saja. Awal bertemu Aidit ketika Sjam menjadi informan Moedigdio, beliau merupakan mertua Aidit dan masih setrah dengan R.A. Kartini. Setelah peristiwa Madiun 48 PKI dan kelompok kiri lainnya kocar – kacir. Moedigdio ditangkap dan dihukum mati. Sjam membantu pelarian Aidit, konon kisah Aidit berada di Vietnam ketika peristiwa Madiun 48 adalah skenario Sjam.

Atas jasanya menyelamatkan Aidit dan keluarganya, Aidit mengajak Sjam untuk bergabung dalam PKI. Tahun 1951 terjadi revitalisasi besar – besaran, Aidit berhasil mengonsolidasi generasi muda PKI dan merebut partai dari kalangan tua, ini merupakan PKI era baru. Di tangan Aidit, PKI berhasil menjelma menjadi partai elit. Kader – kader partai berhasil menduduki jabatan strategis di pemerintahan, PKI menjadi partai yang diperhitungkan. Sampai pada akhirnya isu dewan jenderal merebak, PKI menjadi salah satu khawatir. Kesehatan Soekarno yang kala itu sedang menurun, ditambah Jenderal Yani yang semakin dekat dengan Amerika semakin menguatkan bakal terjadi coup oleh dewan jenderal. Otak cemerlang Sjam dan segala informasinya membuat G30S pun terjadi. Aidit yang kala itu menjabat sebagai ketua CC PKI pun menyerahkan segala sesuatunya kepada Sjam. Sjam pun menjadi otak gerakan 30 september dibantu perwira – perwira progresif yang tidak pro dengan Jenderal Yani.

Dalam buku ini Sjam dianggap sebagai saksi kunci peristiwa berdarah tersebut. keterangan Sjam seharusnya bisa menyambungkan mata rantai yang terputus sampai sekarang. jalan cerita dalam buku ini begitu menarik dan memaparkan fakta yang ada dari berbagai sumber. Sjam dikenal dekat oleh Soeharto, Sjam kenal dengan Sjahrir, Sjam pernah bekerja dengan orang Amerika, bahkan Sjam pernah berada pada satu tempat dengan Soekarno. Siapa sebenarnya Sjam? sampai informasinya di sidang mahkamah militer luar biasa bisa menyeret siapapun untuk dihukum mati. Sejauh apa keterlibatan Sjam pada G30S? sampai kematiannya harus ditunda sampai sekian puluh tahun. bahkan Kolonel Abdul Latief, salah satu hasil kaderisasi BC yang terlibat dalam G30S melihat Sjam masih hidup di tahun 1990. Ada pula yang bilang bahwa Sjam kebal peluru sehingga diistimewakan saat dalam tahanan.

Dan yang paling penting, Sjam bekerja untuk siapa?

 Danur


By true story

Sudah lama saya tak menonton film bergenre horor di bioskop, sampai pada akhirnya tertarik dengan film horor Indonesia yang berjudul Danur. Tepat tanggal 30 Maret film tersebut tayang perdana di bioskop dan berangkatlah saya untuk menontonnya. Wait? Selamat hari film Indonesia, saya bersyukur merayakannya dengan menonton karya lokal yang cukup bagus (ini penilaian amatir). 

Danur yang artinya bau mayat disadur dari novel karangan Risa Saraswati, sebuah novel berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang dialaminya. Jadi ceritanya Risa bisa melihat hantu sedari kecil, kemudian pengalamannya dikisahkan dalam novelnya. 

Risa kecil hidup sendiri di rumahnya. Tak sendiri juga sebenarnya, ia tinggal bersama ibunya dan pembantunya, ayahnya berada di luar negeri yang hanya beberapa kali pulang. Ibunya bekerja dan hampir setiap hari pulang larut malam sehingga Risa kecil hidup sendiri setiap hari. Sampai pada suatu hari ketika Risa kecil berulang tahun ke 8, Risa kecil merayakannya sendiri dan berdoa agar ia punya teman di umur barunya. 

Sepertinya doanya terdengar, beberapa saat kemudian terdengar sosok lebih dari satu berlari di lantai atas. Merekalah yang bernama Jansen, Peter dan Wiliam. Hantu yang bisa dilihat Risa dan menjadi sahabatnya sampai besar. Namun perjalanannya tidak seindah yang dikira, Risa sempat shock begitu tahu mereka ternyata hantu dan dibukakan matanya  dan melihat wujud mereka yang sebenarnya oleh paranormal yang diajak ibunya untuk mengobati Risa. Hingga akhirnya mereka tidak menghuni rumah itu lagi. 

Ketika Risa beranjak remaja, ia kembali datang ke rumah itu bersama Riri adiknya. Ia akan merawat neneknya yang sedang sakit untuk sementara waktu karena suster yang baru belum didapat. Tinggallah Risa bersama adik dan neneknya di rumah lamanya. Risa yang tidak terbiasa bermain adiknya, suatu ketika membiarkan adiknya pergi bermain keluar rumah. Riri bermain di sebuah pohon tua dan menemukan sebuah sisir disana. Dan siapa sangka sisir tersebut membawa hantu jahat ke dalam rumahnya yang tak disadari oleh Riri dan Risa, mereka menyangka hantu tersebut adalah suster baru yang dikirim oleh ibunya. 

Film ini begitu menarik karena berdasar kisah nyata. Selain mbak Prilly yang memerankan Risa saat remaja yang cantik, horor yang begitu kental dan fokus cerita yang jelas tanpa embel embel porno menjadi kelebihan film ini. Tidak hanya mbak Prilly saja, yang memerankan Jansen, Peter dan William juga sangat mengagumkan. 

Saya pikir tidak ada salahnya anda menonton film ini. Ini film bagus, dan mungkin saja bagi anda yang menganggap film Indonesia tidak lebib baik daripada film luar negeri pun berubah. 🙂

Salam, 

Student Hidjo 


Hidjo si pintar dari kaum priyayi

Penulis : Mas Marco Kartodikromo

Alkisah ada sebuah buku nyempil di ruang tamu rumah saya. Saya yang lagi gandrung baca buku pun tertarik untuk mengambilnya. Oh, ternyata sebuah novel dengan tampilan muka gambar seorang anak muda dan sebuah dokar yang membawa penumpang beserta kusirnya. Terlihat dari sampulnya menggambarkan buku ini berkisah di zaman kolonial, anak muda tersebut terkesan dari keluarga priyayi. Saya pun mulai membaca novel tersebut. 

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari keluarga saudagar bernama Hidjo. Hidjo anak yang pintar lulus dari sekolah setingkat SMA bikinan Belanda di Solo. Hidjo gemar membaca, buku menjadi teman akrabnya sehari-hari. Selain kehidupannya dengan buku, Hidjo memiliki partner asmara alias tunangan yakni Raden Adjeng Biroe. Perangainya yang cantik membuat masyarakat pribumi dan kompeni juga tertarik padanya. Baik Hidjo dan Biroe mereka saling mencinta. 

Setelah lulus SMA, bapak dari Hidjo berniat mengirimkan anaknya ke Belanda. Si bapak ingin Hidjo menjadi insinyur dan menguliahkannya di delfh, Belanda. Hidjo mau-mau saja di kirim kesana, namun lain halnya dengan ibu dan Biroe. Mereka berat hati melepas Hidjo, karena dirinya anak semata wayang, lagipula di Belanda kehidupannya sangat berbeda dengan di Jawa. Ibunya takut Hidjo kelak menjadi anak yang meninggalkan adat dan budaya Jawanya. Setelah Hidjo pergi ke Belanda, lika liku cinta Hidjo dan Biroe pun terjadi. 

Novel ini mengisahkan kehidupan Jawa dan Belanda yang sangat berbeda. Kehidupan Jawa yang diwakili oleh golongan priayi penuh dengan unggah ungguh dan kehidupan Belanda yang swrba modern, penuh dengan hiburan, dan kehidupan bebas. Kisah cinta yang tidak menye menye dan adab yang baik dikisahkan di Jawa. Perjodohan keluarga tanpa harus memaksakan kehendak sesama.

Novel ini ditulis orang yang sama dengan yang menulis Babat Tanah Djawi. Sebelumnya saya ndak tahu siapa Mas Marco ini, ternyata beliau orang besar. Pernah berkecimpung di perpolitikan era pergerakan, meskipun pada akhirnya mati sebelum Indonesia merdeka karena malaria. Novel ini menggunakan bahasa Indonesia khas jaman dulu yang bercampur dengan Belanda. 

Dalam novel ini juga sedikit diceritakan bagaimana gegap gempita pergerakan pada saat itu. Sarekat Islam sedang mengadakan kongres besar di Solo. Semua kadernya dari penjurj Jawa berkumpul di sana dan mendengarkan sambutan dari para orang pentingnya. Selain itu hiburan khas rakyat juga telah disiapkan. Semua bergembira bersama, baik para anggota sampai rakyat Solo sendiri. 

Jika dibandingkan dengan era sekarang, kisah cinta kini lebih berliku. Saya sepertinya jadi korbannya, menjomblo sampai sekarang. Ah, jaman dulu sepertinya lebih indah meskipun tidak ada teknologi seperti blog ini. 

Bangunlah Kata – Kata



Dua hari lalu mungkin bisa disebut harinya Wiji Thukul. Dua hari saya menyaksikan dan mendengarkan orang – orang tentang kisah bagaimana seorang penyair melawan tirani yang pernah menguasai negeri ini. Tanggal dua tempo lalu pada akhirnya Istirahatlah Kata – Kata diputar di Malang. Dua jempol untuk kawan – kawan pegiat film dan lainnya yang berhasil membawa film ini melalui pengumpulan anemo kawan – kawan yang ingin sekali nonton film tersebut. sebenarnya film ini premiere pada tanggal 19 januari, lucunya Malang bukan dari salahsatu dari sekian kota yang menayangkannya. Terlihat aneh memang, padahal di Malang hegemoni aktivisme terbilang cukup tinggi, bukan hanya belakangan ini namun jauh sebelum itu.

Sedikit cerita, kemarin saya menonton film Istrihatlah Kata – kata di salah satu bioskop di Kota Malang. Seperti yang telah saya jelaskan diatas, maka anemo masyarakat yang datang sangat banyak. Saya bertemu dengan wajah – wajah yang tak lagi asing. Rekan – rekan aktivis mulai dari pegiat seni, film, sastra dan lain sebagainya. Mereka datang untuk melihat mengingat kembali dan meneladani sosok mas Widji Thukul. Karena bukan yang pertama kali diputar, sudah banyak spoiler di dunia maya bahkan kritikan. Ada yang bilang film ini terlalu monoton, film ini tidak mengangkat heroiknya tokoh utama, macam – macam.


Benar saja, setelah saya menonton saya mengiyakan komentar yang demikian. Jika anda pernah menonton film yang berjudul senyap, menurut saya film tersebut lebih monoton dari ini. Minimnya dialog, banyaknya monolog (adalah puisi Wiji Thukul yang dibacakan) dan video statis dapat dijumpai di film Istirahatlah kata – kata. Tak juga dapat dipungkiri, saya pun sesekali menguap ketika menontonnya. Namun andaikan seorang sutradara membuat film tentang Muhammad Ali apakah lantas dalam film tersebut mutlak harus ada adegan tinju meninju diatas ring? Menurut saya sang sutradara telah berhasil menceritakan sisi lain dari kehidupan mas Wiji Thukul yang dirasa sangat heroik sampai dirinya kemudian hilang tak tahu rimbanya.

Di film tersebut sama sekali tak ada adegan barisan pendemo berhadapan dengan satu kompi pasukan bersepatu laras di jalan atau aksi dorong mendorong pagar sampai aksi bakar ban di jalan. Film tersebut mengisahkan pelarian dari sosok penyair. Wiji Thukul lari ke Pontianak karena dianggap sebagai dalang dari aksi kudatuli dan pembentukan PRD. Meninggalkan anak dan istrinya Wiji Thukul dibantu oleh rekan – rekannya sampai dirinya memastikan bahwa dirinya aman di sana. Wiji Thukul menghabiskan waktunya dengan menulis dan bekerja sambilan di Pontianak. Selang beberapa waktu dirinya pulang ke Solo untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Mungkin hanya itu garis besar dari film tersebut. sangat sederhana namun mengisahkan sisi lain dari Wiji Thukul, dihiasi puisi – puisinya yang tanpa metafora dan sangat tajam bagi rezim orba.


Di hari berikutnya saya berkesempatan datang di Sarasehan Budaya Wiji Thukul. Mendatangkan mas Gunawan Maryanto (pemeran Wiji thukul), pak Utomo (ayah Bimo Petrus), mas Wahyu Susilo (adik Wiji Thukul) dan masih banyak. Saya pikir ini kesempatan untuk berdiskusi bagaimana sosok dijadikan tersebut hingga layak diingat sampai sekarang. Barangkali pula ini bisa menjadi gambaran bagaimana bobroknya rezim kala itu. Diskusi tersebut bertempat di warung kali metro yang mana merupakan markas dari Malang Corruption Watch. Saya sedikit kesusahan menemukannya, maklum belum pernah berkunjung kesana. Diskusi tersebut dimulai dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00. Sampai disana, acara sudah mulai dan banyak sekali yang sudah datang, diiringi hujan yang turun begitu deras.

Di panggung sudah Nampak moderator, mas Gunawan, mbak Puput dan mbak Melati, beliau – beliau sedang bertukar pendapat terkait dengan film Istirahatlah Kata – Kata. Menurut mereka, film ini merupakan pengingat bagi pemerintah bahwa kasus hilangnya 13 aktivis masih belum selesai sampai sekarang. Selain itu ini juga sebagai pemantik bahwa perjuangan belum usai, penindasan yang sesungguhnya pada dewasa ini ada di sekitar kita. Seperti sengketa tanah antara petani dan perusahaan, dan juga kasus – kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Jogja dan Papua. Sejauh ini, meskipun demokrasi telah berhasil mengantikan orba, namun masih banyak pencekelan, masih banyak pembredelan yang dilakukan oleh aparat walau tidak sesering pada saat orba.

Dalam sesi tanya jawab berbagai tanggapan dan pertanyaan banyak dilontarkan oleh para audience yang hadir. Mas Yani sebagai salah satu yang maju mengatakan, bahwa dengan adanya film ini teman – teman yang memperjuangkan HAM harus melanjutkan perjuangan karena film ini berhasil menarik massa yang begitu banyak dan mengenalkan sosok Wiji Thukul pada generasi sekarang. Yang menarik dari film Istirahatlah Kata – Kata adalah film ini berbeda dengan film yang sedang naik daun saat ini. Anggaplah film warkop yang sedang berada di bioskop sekarang, namun kenapa di film tersebut tidak ada intel sedangkan di film ini didatangi intel padahal keduanya sama – sama lulus sensor. Hal ini menandakan bahwa pemerintah masih takut, bisa juga dikatakan bahkan masih trauma pada aksi – aksi di era 98. Dengan adanya hal ini, menurut mas Yani hendaknya kita yang terpanggil dalam gerakan ini jangan merasa terawasi, karena dirinya merasakan hal tersebut. Pengalamannya dalam membuat dan mengadakan nobar pernah sampai dicari oleh intel karena dianggap berbahaya.

Berikutnya ada mas Leon, menurutnya kita patut berterimakasih pada rekan – rekan aktivis pejuang prodemokrasi di era 98 karena berkat jasanya kita bisa lebih leluasa untuk berpendapat dan berkumpul untuk berdiskusi. Lalu, apakah rezim sekarang sudah tidak lagi takut dengan kata – kata? Atau kata – kata mana yang boleh bersuara dan kata – kata yang mana yang dibungkam. Beruntungnya sekarang kata – kata sedikit lebih leluasa meskipun masih ada saja yang dibungkam walaupun tak sebanyak di zaman pak Harto berkuasa. Sebagai contoh beberapa waktu lalu rekan – rekan berdemo didepan istana menolak mengenai undang – undang pengupahan, namun rekan – rekan direpresi oleh aparat, beberapa ada yang ditangkap, mobil yang dipakaipun dipecah. Kejadian ini terpaksa terjadi dengan alasan bahwa demo tersebut melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Menurut mas Leon kita masih belum mencapai demokrasi sejati yang diimpikan oleh mas Wiji Thukul dan kawan – kawan di eranya. Jika diibaratkan, kita berada dalam penjara yang lebih besar dan dalam belenggu yang lebih panjang seolah – olah kita bebas namun suatu saat kita akan sadar bahwa kita terbatas.

Film Istirahatlah kata – kata masih belum cukup, kita perlu bergerak melawan penindasan yang ada di sekitar kita. Melalui kesempatan berbicaranya mas Leo mengajak rekan – rekan untuk mengajak bergabung dalam komite aksi kamisan yang berada di Malang untuk beriskusi dan saling sharing mengenai persoalan yan ada disekitar dan saling bersolidaritas untuk sesama.

Hal menarik disampaikan oleh mbak Puput menanggapi tanggapan mas leon, menurutnya jika rezim ini masih takut kata – kata maka menurut mbak Puput justru rezim ini jua menjadi penyair dalam mengisi demokrasi. Kata – kata berupa pemberitaan digoreng sedemikan rupa lalu disajikan pada masyarakat. Manipulasi dan pemilihan kata oleh rezim ini menjadikan masyarakat yang tidak tahu menjadi semakin bingung siapa yang benar. Bahkan melalui sosial media pemilik rezim ini juga berperan besar menggaungkan nadanya untuk mengisi lagu yang sedang berjalan. Yang terbaru adalah pemerintah berencana menggunakan barcode untuk memverivikasi tautan yang kredibel atau tidak. Hal ini sangatlah subjektif untuk menentukan tautan tersebut hoax atau tidak.

Dalam dua hari tersebut yang bisa saya simpulkan adalah film Istirahatlah Kata – Kata adalah usaha untuk mengenalkan sosok wiji Thukul kepada generasi sekarang sekaligus sebagai bentuk teguran kepada pemerintah bahwa kasusnya belum selesai. Lalu apa yang harus kita lakukan selepas kita telah menonton film tersebut? Adalah wajib bagi kalian dan saya untuk terus melawan penindasan yang ada disekitar kita. Jika dulu pemerintah takut terhadap kata – kata, maka sekarang kata – kata juga bisa dimainkan oleh pemerintah melalui dunia maya dan pertelevisian. Kita harus tetap melawan dengan cara masing – masing, meskipun dengan bersama akan lebih baik seperti yang telah diatawarkan oleh mas Leon bahwa terdapat komite aksi kamisan di Kota Malang dan juga forum diskusi tentang film dan buku yang harus diramaikan kembali selepas sarasehan ini. Meskipun membentuk seperti Wiji Thukul atau Munir itu sulit, namun bukan berarti kita mengurungkan niat untuk berusaha seperti mereka. Suatu saat nanti pasti mereka semakin berlipat ganda.

Kami Juga Mau Jadi Reforman


Udud dulu sam, selo (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Barangkali itu cuplikan mars mahasiswa yang masih saya ingat di kepala. Enam tahun lalu kala masih bergelar maba kakak-kakak senior dengan semangatnya mengenalkan mars ini kepada kami. Mars tersebut lebih terkesan doktrinasi, saya pun dengan bangganya sering nyanyi mars itu setiap mandi kala itu. Itu enam tahun lalu ya, saat ospek masih agak otoriter di kampus kami, kalau sekarang saya ragu sama angkatan 2013 ke atas, tahu atau tidak sama mars tersebut. Konon katanya mars tersebut lahir bersama aksi massa tahun 98 yang menuntut lengsernya Smilling General yang berkuasa selama 30 tahun lebih. Aksi tersebut tidak berlangsung sekejap, sekejap aksi sekejap dituruti. Aksi tersebut berlangsung lebih dari setahun dengan mengorbankan dari berbagai aspek. Kakak-kakak kami rela mengorbankan segalanya untuk menjalankan aksi tersebut, mereka rela bertaruh nyawa demi aksi tersebut.  Tiga belas dari mereka hilang sampai sekarang, entah mereka tiada atau mereka diculik belum ada yang tahu. Wallahualam.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini perlu saya ingatkan bahwa ini tulisan opini bebas dan cenderung berkelakar. Mengingat sekarang lagi usum tuntut-menuntut, lagi usum mengkafirken. Sumpah demi Tuhan, saya ini ndak kafir meskipun sembahyang masih bolong-bolong. Jadi jangan diambil hati kalau ndak setuju, cukup tulis komen mesra saja dibawah.

Seminggu lalu ada gelaran aksi kembali oleh massa yang mengatasnamakan  BEM seluruh Indonesia. Adik-adik eksekutif (barangkali sudah cukuplah saya 6tahun di kampus untuk memanggil mereka adik)  turun kejalan untuk menuntut pemerintah atas naiknya kebutuhan pokok masyarakat (STNK masuk kebutuhan pokok?). Media menyebutkan bahwa aksi tersebut bakal seperti aksi menuntut reformasi di tahun 98 lalu. Lah? Lakok bisa gitu ya? Saya pikir aksi yang terdahulu memang sangat beralasan. Siapa yang ndak risih dengan rezim yang penuh dengan segala pembatasan, siapa pula yang tidak jengah dengan KKN yang seolah dilegalkan dikalangan istana. Namun sekarang apa yang dituntut sudah segawat itu tarafnya? Saya rasa tidak demikian adik-adik sekalian. Presiden kita sekarang sudah jauh berbeda dengan presiden di era tahun 90an. Berbeda pola pikirnya, berbeda kebijakannya, lebih-lebih berbeda pula latar belakang keluarganya.

“Jiancuk, arek-arek iki lapo to demo barang? Gawe jeneng sing podo pisan karo demo ne ormas unto kui. Anggetmu negoro ngurusi wong demo thok ngono? Bajiguk tenan”, ujar teman saya kapan hari di kedai kopi.

Oke, mari coba dibahasa secara elek-elekan. Demo tersebut terjadi sebagai imbas dari naiknya BBM, harga cabai, biaya STNK dan lain- lain. Tidak semua BBM yang naik, premium dan solar tidak naik, dan yang naikpun memang subsidinya sudah dicabut sebelumnya jadi harganya fluktuatif tergantung harga minyak dunia. Pertamax, pertalite dan saudara kandung lainnya memang disediakan untuk kaum-kaum yang mampu, bukan untuk masyarakat bawah. Lagipula jika keberatan silahkan saja beli premium, pemerintah lo selo.

Saya rasa di Indonesia ada 2 hal yang meskipun sudah tahu naik tapi masih saja dibeli, rokok dan Lombok! ahay! Sebagian besar masyarakat Indonesia akan merasa aneh jika makanannya tak mengandung yang pedas-pedas. Jadi wajar saja jika ibu-ibu yang pergi berbelanja ke pasar sedikit cemberut karena harga cabai naik. Tapi secemberutnya ibu-ibu kita mereka masih mengusahakan cabai hadir disetiap masakannya meskipun porsinya dikurangi. Sebagai contoh ibu saya tempo hari diminta bapak saya untuk membuat sambal pada menu makan siang. Tidak berapa lama ibu saya datang sembari membawa cobek berisi sambal tomat yang bau terasinya aduhai nian. Pas si bapak mengicip sambalnya beliau pun protes kenapa sambalnya tak pedas seperti biasaya. Ibu saya pun marah-marah, masih untung ada cabainya daripada tidak pedas sama sekali. Untungnya ibu saya tak menyuruh saya demo menuntut harga cabai turun. Nah, ibu-ibu pun sepertinya paham kenapa harga cabai naik, lagipula sebelumnya beliau-beliau sudah pernah mendapat cobaan serupa dan mereka tak gentar menghadapinya. Maka lucu lah kiranya jika adik-adik ini menuntut harga salahsatu bahan pokok ini naik, lebih-lebih belakangan Lanina juga masih asik bermain di negeri ini.

Di Negara berkembang kendaraan pribadi memang sedang lagi mewabah. Jika saya bilang Indonesia ini wes nemen macete (sudah kebangetan macetnya), di luar negeri sana ada yang lebih bisa marah-marah, marah-marahnya sambil naik kendaraannya di jalanan yang macet. Memang pertumbuhan transportasi di negara berkembang sulit diatur. Di Indonesia dalam satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibuk dan dua anak bisa mempunyai sedikitnya 3 sepeda motor. Coba diitung-itung sendiri, saya tidak pandai ngitung takutnya nanti fitnah, yang jelas hasilnya buanyak banget masyarakat yang punya kendaraan tersebut. Faktanya seperti itu, lantas apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengendalikan laju kepemilikan transporasi pribadi ini. Kalau saya jadi pemerintah ya saya mahalkan harga produknya, naikkan biaya pajak pertahunnya agar masyarakat mikir dua kali sebelum membeli. Tapi sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut, mungkin saya keburu di “dor” sama separatis.

Maka sebenarnya beruntunglah kita jika yang naik  adalah biaya pembuatan STNK, toh selama lima tahun ini biaya pembuatan STNK juga belum naik (atau memang ndak bayar?). Ketimbang harga pajaknya dan produknya yang naik, terus anak cucu kita jadi tidak bisa menikmati kemacetan karena tidak sanggup beli kendaraan. Pilih mana? Om telolet om~

Bersedia, siaaap.. (koleksi instagram om Arbain Rambey)

Teruntuk adik-adik sekalian yang baik budinya, sayapun memaklumi berprasangka baik itu susah sekali. Sesusah saya rela makan nasi dan sambal lalu meninggalkan kulit ayamnya untuk dimakan di akhir, kemudian sekedipan mata zap! Kulitnya hilang! Bahkan sahabat yang berada di dekatpun rela saya gampar atas perkara ini. Tapi sesusah apapun prasangka baik harus diperjuangkan di negeri yang menjunjung tinggi nilai kemajemukan ini.  Sebagai mahasiswa eksekutif saya percaya seratus persen anda sekalian ini paham dengan struktur, strategi dan etika politik baik di kampus maupun di pemerintahan (atau salahsatunya), maka seyogyanya mbok ya dipikir dulu kalau mau aksi.

Jika adik-adik pikir aksi tersebut bakal seperti aksi kakak-kakak kita saat melengserkan orde baru, jawabannya adalah salah besar. Makin nyatalah yang ditakutkan atas perubahan ospek yang semakin tahun kehilangan militansinya, jadi berbuat aksi yang justru malah merendahkan kelasnya. Adik-adik sekalian, negeri ini sedang diuji kebhinekannya sekaligus di beberapa tempat juga sedang diuji rakyatnya, maka bijaklah dalam menentukan sikap. Jangan menghasut atau malah terhasut oleh baron berkepentingan, atau lebih baik urusi kampus sendiri lah dik, toh kampusmu juga sama bobroknya dengan negara ini kan, sepertinya kampusmu lebih membutuhkan kamu secepatnya.

Saya sendiri juga lagi pusing. Kuliah sudah hampir menuju titik akhir alhamdulilah diberi cobaan oleh Tuhan, pujasera kampus mau digusur. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Rektor sepertinya tidak berpihak pada mahasiswa luhur tingkat akhir yang hampir setiap sore menghabiskan waktunya untuk berdebat tentang jalan keluar supaya cepat lulus dari kampus. Hal-hal seperti ini yang seharusnya diperjuangkan bersama, karena tingkat urgensinya lebih tinggi. Ya benar, kalu bukan mahasiswa  kampus sendiri yang memperjuangkan mau siapa lagi. Ndak mungkin pula yang demo ormas sebelah kan? 🙂

 

Nasionalisme Islamisme dan Marxisme


Penulis : Ir. sukarno

Penerbit : Kreasi Wacana

Pak Sukarno adalah salahsatu dari sang Dwitunggal yang memproklamirkan negara bumi pertiwi, salahsatu dari sekian banyak para cendikiawan kala itu yang tujuannya adalah usaha memerdekakan rakyat dari segala penindasan kolonial. Banyak gagasan dari beliau yang membuat saya kagum, salahsatunya adalah yang tertulis di judul review ini yang kemudian menurut saya menjadi cikalbakal ide nasakom. 

Saya merasa beruntung mendapatkan buku ini mengingat buku macam ini ndak ada di toko buku besar di tiap kota. Menurut Dr. H. Moechlis Noer Rochman tulisan pak Sukarno ini pernah diterbitkan oleh pimpinan Pandu Nasionalis Indonesia pada tahun 1956, namun seiring berjalannya waktu terbitan tersebut hanya beredar dalam bentuk fotokopi. Yang menarik di buku ini adalah tulisan pak Karno benar-benar ditulis seperti adaya, hanya penulisan ejaan orde lama  (seperti “oe” “dj”) disunting ke EYD yang baku. Mungkin agar supaya para pembaca faham betul dengannya. 

Buku ini membahas apa itu Nasionalisme, apa itu Islamisme dan apa itu Marxisme. Bagi beliau, 3 azas tersebut adalah layak sebagai panutan Indonesia. Ketiga azas tersebut memang terlihat saling berkontradiksi satu sama lain, namun pak Karno secara gamblang dapat menjelaskan betapa selarasnya ketiga azas tersebut untuk Indonesia. Wawasan beliau pada pergerakan luarnegeri tertuang pula dalam tulisannya dan ditulis sedemikian rupa agar pembaca mampu memahami arah usaha menuju kemerdekaan yang kuranglebih sama dengan yang lain.