Sikap Terhadap Masalah Kemanusiaan dan Rakyat Kulon Progo


Karya Ivana Kurniawati

Setiap manusia tentu memiliki pandangan yang berbeda terhadap sebuah permasalahan yang tengah terjadi. Masing – masing individu memiliki alasan yang mungkin saja bisa dirasionalkan dalam memutuskan berada pada sisi mana dirinya berdiri dalam sebuah permasalahan, apakah pro atau kontra tentunya hal tersebut merupakan hak paling pribadi dalam diri masing – masing.

Memasuki awal tahun 2018 beberapa polemik yang tengah terjadi disekitar masih belum usai. Palestina dengan intifadah rakyatnya yang masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya melawan pernyataan Trump yang mengakui bahwa ibukota Israel tak lagi berada pada Tel Aviv namun berpindah ke Jerussalem, rakyat Rohingya yang sampai saat ini masih terkatung – katung mencari suaka pada negara – negara terdekat, perlawanan rakyat Kendeng terhadap dominasi pabrik semen yang konon didukung pemerintah demi pembangunan dan perjuangan rakyat Kulon Progo melawan aparat dan angkasa pura dalam upaya pembangunan New Yogya International Aiport (NYIA). Setiap individu bebas dalam memberikan pendapat dan dukungannya terhadap beberapa masalah kemanusiaan yang saya sebutkan diatas. Termasuk saya sendiri.

Tidak ada kesejahteraan dalam sebuah penjajahan. Hampir semua permasalahan yang tengah dihadapi berasal dari sumber ingin menguasai satu sama lain. Setiap masnusia ingin menjadi lebih tinggi dan menguasai harta dan sumberdaya yang ada. Lalu masalah yang mana yang harus kita perhatikan terlebih dahulu? Beberapa waktu lalu saya berdebat santai dengan salah satu kawan saya.

“palestina tambah membara yo? Koe opo ngikuti beritae?” (palestina semakin panas ya, kamu apa mengikuti kabarnya)

“ngikuti sithik”(mengikuti beberapa)

“loh kok sithik, iku saudara seiman lo, awak dhewe wajib ngewangi, utowo turut berduka” (kok cuman sedikit, mereka saudara seiman, kita wajib membantu atau paking tidak berduka”

Ya, saya tahu mereka sudara seiman dan perjuangan mereka mempertahankan tanah mereka dari penjajahan kaum zionis. Akan tetapi terkadang kita lupa satu hal, yakni tanah air kita sendiri. Tanpa menganggap kasus internasional lainnya sepele, saya justru lebih berempati dengan perjuangan saudara setanah air kita dalam melawan para tuan tanah dan aparat yang secara membabibuta menggusur (mereka lebih memilih menggunakan kata “menata”) demi pemerataan pembangunan. Dalam hal ini adalah perjuangan rakyat kuloprogo dan kendeng. Mengapa begitu? Jika boleh meminjam perkataan dari Gusmus kita ini lahir di Indonesia dan akan dikebumikan di Indonesia, untuk itu jika kita melihat penindasan pada tanah kita, kita harus melawan.

Perjuangan Rakyat Kulon Progo Melawan Angkasapura

Kehidupan di Kulon Progo mulai terusik dengan ditandatanganinya rencana pembangunan NYIA oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, pihak swasta dan PT Angkasa Pura I pada tanggal 25 Januari 2011. Proyek tersebut tergabung dalam masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI). Dibawah kepimpinan Jokowi pasca terpilihnya beliau menjadi presiden, proyek tersebut berubah menjadi program rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) dengan total nilai investasi menurut center of aviation kurang lebih $500 juta. Dengan dibangunnya bandara megah tersebut kemudian pembangunan akan merembet menjadi pembangunan kota bandara (aero city) yang tentunya lahan yang dibutuhkan akan semakin luas. Hal ini dibenarkan pada pernyataan dirut PT Angkasa Pura II pada 2014, kedepannya pembangunan dan pembangunan bandara di Indonesia akan diarahkan untuk menjadi kota bandara dan aerotropolis.

Setidaknya lahan yang dibutuhkan dalam mega proyek tersebut membutuhkan lahan seluas 637 hektar, jika dilakukan perluasan untuk menjadi kota bandara maka akan bertambah menjadi 2000 hektar. Wilayah yang dipatok menjadi bandara terdapat 6 desa dimana total populasi manusia disana mencapai 11.501 jiwa yang hidup dari mata pencaharian sebagai petani, nelayan dan buruh. Didalamnya juga terdapat 300 hektar lahan pertanian baik itu kering (tegalan) maupun basah (sawah). Jika lahan pertanian tersebut direnggut maka negara akan kehilangan produksi gambas sebanyak 60 ton/hektar/tahun, melon 180 ton/hektar/tahun, semangka 90 ton/hektar/tahun, terong 90 ton/hektar/tahun dan cabai 30 ton/hektar/tahun, angka – angka tersebut belum termasuk puluhan ribu pekerja pertanian yang pada akhirnya menganggur oleh akibat berhentinya kegiatan bercocok tanam yang kian kondusif semanjak 35 tahun yang lalu.

Semenjak isu bandara dihembuskan, tatanan sosial dalam masyarakat Kulon Progo rusak. Konflik horizontal praktis terjadi dalam masyarakat. Kondisi dalam masyarakat terbelah menjadi 2 bagian, masyarakat yang bersikeras menolak ganti rugi dari AP I dan masyarakat yang menerima relokasi danganti rugi. Masyarakat yang menolak adalah masyarakat yang berusaha tanah leuhurnya juga sekaligus sebagai mata pencaharian dan sumber penghidpan bagi anak cucu mereka. Bagi mereka ganti rugi adalah sementara lalu pekerjaan yang layak belum tentu mereka dapatkan, sedangkan dengan bertani yang sudah dijalani puluhan tahun telah mencukupi kebutuhan mereka walaupun secara sederhana.

Selain masalah agraria dan sosial diatas ada pelanggaran hukum yang terjadi. Izin penetapan lokasi (IPL) diterbitkan secara sepihak tanpa memetingkan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Padahal dalam mekanismenya, dalam melaksanakan IPL izin amdal harus didapatkan. Selain itu pembangunan NYIA juga menyalahi peraturan tata ruang wilayah yang diterbitkan oleh presiden pada tahun 2012 yang kurang lebih isinya adalah mengintegrasikan 2 bandara yakni Adi Sucipto dan Adi Sumarmo agar lebih optimal. Dalam peraturan tersebut tidak disebutkan adanya pembangunan bandara baru. Politik istimewa Yogykarta juga turut menghalalkan pendirian bandara. Lahirnya kembali undang undang keistimewaan Yogyakarta memicu munculnya kembali sultan ground dan pakualaman ground yang oleh negara sudah dihapuskan.

Kini, rakyat yang masih bertahan diatas tanahnya tetap melawan alat berat dan aparat yang berusaha mengambil tanah mereka. Tanah yang mereka miliki tidak pernah dijual kepada pihak yang ingin menguasai dan menjadikannya sebagai bandara.

Alasan Sederhana Mendukung Rakyat Kulon Progo

Bagi saya, tidak perlu membaca buku – buku tentang kelas sosial untuk melihat bagaimana penjajahan yang tengah terjadi dan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Negara Indonesia adalah negara dengan iklim tropis dan berada di tengah garis khatulistiwa sekaligus memiliki garis pantai yang cukup panjang. Jika dipikir dengan akal sehat seharusnya tonggak perekonomian haruslah bertumpu pada sektor agraria dan kelautan. Petani yang sudah kian lama termajinalkan pada hakekatnya adalah ujung tombak dari mengepulnya asap di dapur. Hasil pertanian mereka tak lagi cukup mengakomodir kebutuhan pangan masyarakat Indonesia sampai pemerintah kemudian mengekspor beras dan bahan yang lain. Lahan yang ada kian terkikis demi pembangunan. Stereotip macam ini yang perlu dilawan bahwa pemerataan pembangunan tidak semata hanya dengan menggusur lahan rakyat (apalagi lahan pertanian).

Dominasi pemerintah atas nama pembangunan juga harus dipatahkan. Apa guna pembangunan yang signifikan tapi berbanding dengan kemakmuran rakyat. Pembangunan yang katanya memperhatikan kesejahteraan rakyat hanya akan menguntungkan para pebisnis dan investor yang telah lama mengintai sumberdaya yang ada. Pembangunan yang berjalan tak jarang juga menyalahi prosedur hukum. Perundangan dan pertauran yang berlaku dengan mudahnya dilanggar atau bahkan diubah demi kelancarannya. Yang harus disadari adalah besarnya nilai investasi tak cukup mampu untuk menyelamatkan sebuah kedaulatan negara.

Apa yang dilakukan rakyat kulonprogo yang hingga kini masih bertahan bersama para relawan tidaklah hanya untuk mengamankan aset pribadi namun untuk kepentingan negara secara umum dan Yogyakarta secara khusus. Sumber daya alam yang ada harus dipertahankan, apalagi lahan seperti di kulonprogo makin sempit di pulau jawa. Penguasa dan para tuan tanah tidak akan berhenti menjarah jika ini terus dibiarkan.

Secara kongkret, pembangunan sah – sah saja selama rakyat benar – benar membutuhkan pembangunan tersebut, bukan untuk pengusaha dan investor. Kami bersamamu, Kulon Progo.

Akhir

Saya tidak memaksa orang untuk mendukung sebuah konflik apapun, karena setiap orang memiliki pertimbangan masing – masing. Tentunya banyak juga yang mendukung terbangunnya mega bandara di Yogyakarta dan saya menghormati itu. Tulisan ini adalah sebagai pertimbangan anda dalam menilai apakah keberpihakan memang perlu dalam melihat sebuah permasalahan.

Advertisements

Dosen adalah dewa dan mahasiswa adalah kerbau


Pertengahan tahun ini saya masih aktif berkuliah. Masih ada sekitar 4 mata kuliah yang ternyata belum diambil, maka di semester ganjil ini saya memilih 2 mata kuliah yang tersedia. Saya pikir kehidupan fakultas akan berubah ketika mahasiswa baru 2017 hadir meramaikan gedung di pojok kampus UM. Ternyata tidak, suasana masih sama seperti yang pernah tertulis di blog ini, masih penuh dengan ketidakpedulian, individualis  dan (sebagian) dosen – dosen yang seperti enggan untuk mengajar.

Mahasiswa baru tak begitu mencolok di selasar fakultas. Generasi milenial memang terlihat sama satu dengan yang lain, pakaian kekinian, gawai yang tak bisa jauh dari tangan dan tentunya bergerombol bila kemana – mana (khas mahasiswa baru). Jika dibandingkan dengan kakak tingkatnya hampir tak ada bedanya. Perkuliahan kali ini saya masuk pada kelas dari angkatan 2015, angkatan yang sudah tak tersentuh kegiatan pengenalan jurusan yang “relevan”. Kegiatan di kelas yang saling mengisi waktunya sendiri, bermain game dan sibuk dengan gawainya masing – masing, sampai pada akhirnya dosen pun datang. Seorang dosen muda yang diberi tanggungjawab mata kuliah yang bagi saya cukup berpengaruh pada skripsi pada semester akhir.

Saya teringat celetukan kawan saya, “tambah dhuwur gelar dosen iku wonge tambah woles, ra eneh2. bedo karo dosen nom2, kemelinthi” (tambah tinggi gelar dosen biasanya tambah santai beliau, beda sama dosen muda yang sok). Kemungkinan anggapan itu ada benarnya. Sebenarnya sudah banyak omongan miring terhadap dosen ini, beberapa mahasiswa yang sudah pernah diampunya merasa tidak mendapatkan ilmu dengan semestinya. Benar saja, hingga pekan UTS dosen ini hanya beberapa kali muncul di depan kelas, itupun dengan suara yang agak pelan (saya yang duduk di belakang masih bisa menangkapnya) beliau menjelaskan beberapa teori dari beberapa pakar diselingi dengan selentingan miring kalau kami harus bisa memahaminya. Dari sini saya paham, mengapa mayoritas mahasiswa lebih memilih dosen yang jauh lebih killer daripada beliau.

Ada beberapa kemungkinan mengapa beberapa dosen muda berlaku seperti ini. Kemungkinan yang pertama, gaji yang tak cukup untuk mencukupi berbagai kebutuhannya. Saya pernah dengar sebuah omongan (namun saya tak berani mengkalim kebenarannya) bahwa dosen muda statusnya adalah kontrak, tak resmi PNS (kampus saya PTN). Hal ini menyebabkan semangat yang dimiliki kemungkinan berkurang, hmm ya berkurang. Kemungkinan kedua adalah menurunnya kualitas para dosen. Ada perasaan bangga menjadi dosen yang sebelumnya hanya menjadi asisten dosen yang kemudian kekuasaan untuk menindas dan bertindak semuanya. Mereka lupa dulu juga pernah menjadi mahasiswa. Sekali lagi, ini semua hanya mungkin.

Lalu bagaimana dengan nasib mahasiswa? Saya pikir mereka akan protes dengan keadaan mereka sekarang. Mereka tidak mendapat hak mereka selaku mahasiswa untuk mendapat pendidikan dengan layak. Tapi ternyata tidak, mereka justru senang karena perkuliahan berlangsung dengan santai. Mereka tidak menyadari bahwa mata kuliah mereka merupakan mata kuliah yang penting bagi tugas akhir mereka. Saya sendiri berada pada posisi yang “nanggung” bersama mahasiswa basi yang kebetulan mengulang. Niatnya mau serius, namun beginilah yang terjadi. Protes pun kami juga menjadi minoritas. Terlihat pasrah memang, namun memang begini sebagian dosen berpandangan miring terhadap kami. Salah satu cara melakukan perlawanan adalah dengan tulisan ini.

Saya begitu miris melihat fenomena tersebut seperti lumrah terjadi. Mahasiswa tak lagi peduli dengan kondisi yang jelas tidak sehat. Mereka tidak menyadari bahwa mereka bayar mahal untuk ini. Beberapa minggu lalu (setelah enam tahun dikerjakan) gedung rektorat telah diresmikan. Sebagian menganggap gedung tersebut menjadi sebuah kebanggan. UKT mereka berhasil membuat gedung megah, dosen dan staf pun menjadi bersemangat untuk absen. Namun kemegahan tersebut sama sekali tidak berpengaruh di gedung kami, semua tetap dengan rutinitas yang ada. Bagi saya gedung rektorat tersebut tak ada spesialnya, tetap tidak mengubah itikad para dosen “nanggung” tersebut untuk mendidik mahasiswa dengan baik.

Sebagai mahasiswa yang uktnya menembuh diatas tiga juta mereka seharusnya menyadari bahwa mereka menghadapi keadaan yang tidak baik – baik saja. Apa yang mereka dapatkan tidak seseuai dengan semestinya. Agitasi akan tetap berlanjut kepada mereka yang sadar bahwa fakultas sedang bopeng.

 

Animal Farm


penulis : George Orwell

penerjemah : Prof. Bakdi Soemanto

Penerbit : Bentang

Belakangan saya baru saja membaca sebuah novel ringan karangan George Orwell. Akibat dari lelah membaca buku “serius” yang cukup menjemukan. Lelah bukan berarti bosan atau apapun, melainkan kondisi dan tuntutan yang lain membuat pikiran menjadi terkuras habis.

Animal farm atau peternakan binatang adalah judulnya. Saya pikir, novel ini bisa saja juga disebut fabel. Buku ini menceritakan kehidupan binatang di sebuah peternakan di negara Inggris, dimana semua binatang telah jenuh terhadap kehidupannya dan mengidamkan kehidupan yang bebas dan merdeka. Mimpi mereka pun benar – benar terjadi ketika sekelompok babi yang juga bagian dari hewan – hewan yang ada di peternakan tersebut berhasil menghimpun kekuatan dan menjalankan taktik yang begitu cerdas hingga akhirnya pemilik peternakan berhasil diusir dari tempatnya. kemudian mereka mulai menyusun kehidupan yang layak bagi sesama mereka dan menjalankan peternakan untuk kesejahteraan mereka.

Dari semua binatang tak semuanya mereka pintar. Hampir dari seluruh binatang memiliki intelejensi rendah. Para babi menjadi yang paling pintar diantara mereka, sehingga mereka memimpin peternakan tersebut, mereka -para babi- bertugas berfikir dan berfikir demi kesejahteraan peternakan binatang dan sisanya mengandalkan otot. Bulan demi bulan dilewati, pemberontakan yang mereka lakukan sudah lama berlalu dan sebagian menyadari bahwa kemerdekaan yang diidamkan hanyalah khayalan. Para babi menjadi pengganti manusia yang serakah.

Di bab bab awal saya merasa cerita ini mengisahkan perjuangan dari sekelompok kaum untuk merdeka dan diakhiri dengan kehidupan yang sejahtera. Tapi nyatanya tidak, saya tersenyum miris ketika mengakhiri cerita ini. Saya menjadi teringat banyak peristiwa di dunia tentang pemberontakan demi kehidupan yang lebih baik tapi justru berganti pada penindasan yang lain. Jika dilihat kembali pada novel tersebut kebodohan adalah menjadi biang dari datangnya penindasan yang lain. Pendidikan yang tidak merata membuat masyarakat mudah disetir oleh pemimpin yang menawarkan kehidupan yang tenang.

Animal farm merupakan novel alegori yang ditulis saat perang dunia kedua. Sesaat di zamannya novel ini dianggap angin lalu, namun akhirnya banyak yang menyadari bahwa novel ini begitu satir terhadap kondisi politik pada saat itu. Novel ini boleh jadi sarana pada generasi milenial untuk mengetahui politik yang tengah dirasakan.

Zaman Peralihan


Penulis : Soe Hok gie
Penerbit : mata bangsa

Soe hidup di zaman dimana negeri ini masih seumur jagung. Bung Karno dan kawan – kawannya sedang memperjuangkan kedaulatan Indonesia, namun Soe banyak melihat hal yang berbeda. Lahir dari seorang penulis, Soe kecil gemar sekali membaca buku. Kegandrungannya menikmati buku membuatnya menjadi seorang yang kritis, bahkan dirinya kritis di saat anak sebayanya masih bermain – main. Berlanjut menempuh pendidikan tinggi, Soe makin menunjukkan kekritisannya kepada pemerintah. Mulut dan penanya yang tajam membuat dirinya menjadi bahan omongan di sekitaran almamaternya. Pun juga tulisan – tulisan yang ditulis di media untuk pemerintah dan kampusnya menjadi buah omongan. Tak jarang Soe kerap mendapatkan ancaman karena tulisannya mengancam sebagian golongan, namun adapula yang mengajak Soe untuk bergabung dalam pergerakan – pergerakan untuk menghantam pemerintahan. Sejarah mencatat Soe tidak pernah secara resmi bergabung dalam pergerakan atau aktivisme di eranya, namun Soe dikenal dekat berbagai kalangan, gagasan dan inisiasinya dipakai oleh pergerakan mahasiswa yang sepemahaman dengan dirinya.

Zaman peralihan merupakan kumpulan tulisan yang dibuat Soe dan dicetak di berbagai media zaman itu. kumpulan tulisannya seputar buruknya idelaisme mahasiswa, bobroknya Universitas Indonesia, dan rezim baik orla maupun orba yang diisi oleh orang – orang tanpa integritas dimuat dan dibaca oleh semua orang dan menginspirasi bagi sebagian orang. Agaknya beberapa dari kumpulan tulisan dalam Zaman Peralihan ini masih relevan untuk mengkritik rezim dan kaum milenial saat ini. Saya sendiri merasa terpecut di beberapa bab dalam buku ini, tulisannya begitu tajam, seolah berusaha menyingkirkan kenistaan yang telah lama ada.

Buku ini terbagi menjadi 4 bagian besar yakni : masalah kebangsaan, masalah kemahasiswaan, masalah kemanusiaan, dan catatan turis terpelajar. Dengan membacanya, saya mencoba menebak apa yang ada di pikiran Soe selama dirinya hidup. Soe merupakan sosok yang keras terhadap rezim Soekarno di tahun 65 an. Saat itu banyak terjadi pergolakan disamping tragedi yang tentu kita kenal sampai sekarang, gestapu. Soe melihat banyak ketimpangan sosial yang terjadi antara golongan masyarakat dan para abdi negara. Dari kacamatanya, Soekarno merupakan sosok berjouis yang sibuk dengan kemewahan, pun pula diikuti oleh orang – orang dibawahnya. RI 1 tersebut sibuk membangun istana, beristri banyak dan para orang – orangnya sibuk memperkaya diri dan bepergian ke luar negeri. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat saat itu. Harga sembako dan bahan bakar yang terlampau tinggi, lebih – lebih pasca gestapu memicu terjadinya aksi massa. Demonstrasi besar – besaran bisa dikatakan dipicu oleh mahasiswa UI saat itu, dan Soe adalah salah satunya. Seputar demontrasi tersebut menuntut adanya penurunan sembako dan bahan bakar, perombakan besar – besaran kabinet dwikora dan bubarkan PKI. Memang pada saat itu massa rakyat sudah terlanjur marah dengan partai yang berkiblat pada Tiongkok. Demontrasi besar – besaran tersebut menjadi salah satu yang turut andil dalam pelengseran Soekarno yang dianggap tidak lagi memiliki kredibilitas dan pada akhirnya beliau pun lengser. Setelah orde baru berkuasa para alumni dari demontrasi besar – besaran rupa – rupanya mendapat jatah kursi di Senayan. Sebagian kawan Soe menyambut tawaran manis tersebut, dan hal tersebut memicu Soe untuk mengkritiknya.

Di dalam kampus sendiri Soe melihat banyak “kebopengan” yang terjadi dalam UI. seputar polemik mahasiswa yang tak lagi memiliki idealisme, dosen – dosen yang tak memiliki integritas sampai harapan palsu yang diberikan perguruan tinggi kepada remaja – remaja yang memiliki cita – cita tinggi. Tulisan – tulisan Soe seputar hal – hal tersebut menuai kecaman di tempat kerjanya, yakni fakultas sastra UI. Menurut Soe, banyak korupsi yang terjadi dalam kampus saat itu dan musahil untuk tidak tercium, mulai dari anggaran acara dan alat ospek sampai hal yang lain. Soe juga mengkritik bagaimana dewan mahasiswa saat itu yang diisi oleh ormas – ormas mahasiswa seperti PMKRI GMNI HMI dan lain sebagainya. Senat – senat yang menyatakan dirinya murni malah dianggap sebagai pengacau kampus. Tentunya hal ini tak menjadi soal saat dewan mahasiswa “sehat”, namun pada kenyataannya tidak. Banyak kontrak politik yang timpang menurutnya.

Huru hara pasca gestapu membuat rezim melakukan pembersihan besar – besaran atas siapapun yang terlibat dalam PKI. Salah satu operasi yang disoroti Soe pada saat itu adalah seputar pembantaian yang ada di Bali. Di dalam operasi tersebut Soe menulis bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak bermoral. Pembantaian merupakan kata – kata yang paling pantas disematkan dalam peristiwa tersebut. Mereka yang dicap PKI atau dipaksa mengakui kalau dirinya PKI dihabisi. Menurut Soe banyak diantara para tahanan politik yang meminta untuk dibunuh secepatnya karena mereka tahu bahwa akhir hidup mereka adalah kematian.

Sebulan setelah gestapu keadaan di Bali berubah. Berbeda di Jakarta yang mana kaum nasionalis dan komunis makin terdesak, di Bali para petinggi dari dua poros tersebut sibuk saling tunjuk menunjuk untuk dijadikan sasaran pembinasahan PKI. Dalam buku ini, Soe mengatakan tokoh PNI bernama Wedagama mrnghasut rakyat bahwa membunuh PKI adalah dubenarkan Tuhan dan tidak akan disalahkan oleh hukum.

Akhir kata, buku ini menarik untuk dibaca para mahasiswa yang menginginkan perubahan. Dalam buku ini terdapat banyak sekali sejarah dan gagasan yang masih relevan jika dikaitkan dengan keadaan saat ini.

Mahasiswa Dalam Pusaran Idealisme


2017 Indonesia dilanda badai integritas yang cukup dahsyat. Isu yang dilempar pada berbagai media membuat sebagian rakyat terpolarisasi pada dua kubu yang saling memusuhi. Hal ini merupakan sebuah ancaman yang mana lambat laun akan mengikis persatuan yang telah lama dibangun oleh pejuang – pejuang yang telah gugur. Selain itu banyak kebijakan dari pemerintah yang dinilai “pincang” dan memberatkan bagi rakyat, dalam bidang pendidikan salah satunya. Tulisan sebelumnya menyoroti bagaimana kebijakan pada pendidikan tinggi yang membuat mahasiswa tidak berkembang. Tentunya kebijakan tersebut sangat berdampak pada output mahasiswa yang notabene menjadi salah satu pelaku untuk mengkritik sistem dalam negara ini.

Sebagai seorang mahasiswa, peran dari anda sangat diperlukan untuk mengatasi polemik yang ada saat ini. Mahasiswa sebagai katalisator antara rakyat dan pemerintah harus mewujudkan kestabilan sosial dan pembentuk sudut pandang baru dalam kehidupan bermasyarakat untuk negara yang lebih baik. Namun muncul pertanyaan, apakah kehidupan dalam internal kemahasiswaan sudah sepenuhnya kondusif untuk menciptakan kehidupan bermsasyarakat yang diidamkan? Apakah hubungan mahasiswa dengan kampusnya sudah dalam keadaan “baik – baik saja” sehingga dapat membahas tentang politik Negara? Apakah mahasiswanya sendiri telah cukup mampu untuk memikirkan itu? Disini kita harus mengerti terlebih dahulu bagaimana kondisi mahasiswa sekarang, paling tidak mahasiswa dalam fakultas anda sendiri.

Sebenarnya tulisan ini untuk menjawab kritikan dari tulisan sebelumnya dengan tajuk “Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan”. Seperti yang telah diutarakan pada tulisan sebelumnya, mahasiswa kini (kebetulan dalam fakultas saya) telah terjebak dalam rutinitas yang diciptakan oleh para birokrat kampus. Mereka sibuk dengan tugas yang tiada henti, sibuk dengan segala presentasi tanpa (sebagian) kehadiran dosen dan di sisi lain mereka dibebankan pada biaya perkuliahan yang terlampau tinggi sekaligus batasan waktu untuk kuliah sehingga mereka tidak sempat untuk “menikmati kehidupan mahasiswa sebenarnya”. Selain itu ormawa yang ada di tubuh mahasiswa telah mengalami “pergeseran” fungsi dari yang seharusnya menjadi ujung tombak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi pada birokrat kampus menjadi alat promosi fakultas masing – masing. Bukan maksud untuk menyalahkan salah satu pihak, akan tetapi tolong sadarlah untuk mengevaluasi diri masing – masing. Jangan sampai kita terjebak dalam konflik horisontal.

Adalah salah besar ketika anda menganggap tulisan sebelumnya sebagai bentuk untuk sekedar mengkritik tanpa turun langsung. Justru dalam tulisanlah bentuk manifestasi dalam “turun langsung” versi saya. Dengan tulisan, anda dan kawan – kawan yang lain akan membaca kegelisahan yang sedang terjadi. Dengan tulisan, agitasi yang diciptakan untuk menyuarakan kegelisahan akan tersebar luas. Pun juga pada akhirnya memicu munculnya pertanyaan – pertanyaan dan kritikan sebagai justifikasi atau bahkan pembelaan dari mereka yang tidak setuju pada tulisan sebelumnya. Kurangnya wadah yang diciptakan oleh organisasi yang bertanggungjawab untuk hal ini bisa jadi faktor yang memicu mengapa tulisan ini dan sebelumnya terbit dalam blog. Selain itu, apakah komunikasi sehari – hari terkait dengan masalah keseharian mahasiswa apakah dijalankan?

Disini peran ormawa seperti BEM maupun senat mahasiswa sangat perlu ditingkatkan.  Kajian strategis yang ditawarkan pada salah satu penanggap tulisan sebelumnya dirasa sangat masuk akal untuk diaplikasikan. Nantinya kajian itu berguna untuk menyerap apa saja yang menjadi kegelisahan yang selama ini dirasakan dalam mahasiswa itu sendiri. Tentunya sebelum itu perlu adanya penyadaran bahwa sebenarnya mahasiswa sekalian tidak dalam keadaaan baik – baik saja.

Dalam momentum mahasiswa baru yang akan hadir dalam waktu dekat seyogianya menjadi patokan agar warga yang baru yang akan hadir menjadi mahasiswa yang kritis dan peka pada keresahan yang terjadi pada fakultasnya (kemudian disusul kepekaan pada polemik yang terjadi pada negara ini). Sebuah harapan sederhana untuk kehidupan mahasiswa yang lebih baik.

Mahasiswa, Buruh Institusi Pendidikan


koleksi instagram arbain rambey

(Tulisan opini ini bertujuan untuk mengagitasi mahasiswa bahwa sebenarnya ada kegelisahan dalam kehidupan kampus)

Sebelumnya saya mau mengucapakan selamat hari buruh internasional untuk para buruh, karyawan, pekerja, pekarya atau apapun sebutannya. Dan tak lupa selamat hari pendidikan nasional untuk masyarakat Indonesia, untuk tenaga pendidik baik di kota maupun di pelosok nusantara.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kampus terutama warga fakultas saya yang kondisinya kian ironi menurut pandangan pribadi. Jika menilik dari judul yang saya buat, saya bermaksud mengupas bagaimana mahasiswa yang seharusnya menjadi pelopor pemikiran kritis untuk masyarakat dan pemerintah justru menjadi buruh dalam kampus sendiri. Tanpa maksud merendahkan buruh, bagi saya buruh adalah kaum proletar yang menyumbang banyak aspek untuk negara. Namun, apakah mahasiswa telah tepat jika dirinya mem”buruh”kan diri kepada almamaternya?

Jika kita menyadari sejarah awal mula munculnya mahasiswa telah terjadi pada zaman kolonial. Kita harus berterima kasih kepada penjajah berkat politik balas budinya, sehingga masyarakat pribumi bisa menikmati salah satu “kemewahan” saat itu. Para kaum terpelajar itu kemudian menyadari mereka harus berbuat sesuatu itu negaranya yang pada akhirnya muncullah pergerakan – pergerakan yang dipelopori oleh Boedi Oetomo yang didirikan oleh dr. Soetomo. Pergerakan lainnya pun kemudian bermunculan, ideologi – ideologi dari luar negeri juga ikut mempengaruhi para pergerakan ini sampai pada akhirnya muncul tokoh – tokoh dari pemuda terpelajar yang bepikiran kritis dan berani untuk mempelopori rumusan cikal bakal berdirinya sebuah negara. Pasca kemerdekaan lagi – lagi mahasiswa menciptakan common enemynya yaitu pemerintah. Melalui TRITURA mahasiswa dari berbagai aliansi menuntut terciptanya keadilan bagi masyarakat dan pemerintahan yang sehat terbebas dari “memperkaya diri” dan PKI. Rekan – rekan yang membaca ini seyogianya membaca tulisan Soe Hok Gie yang terangkum dalam buku yang bertajuk Zaman Peralihan. Ketika orde baru berjalan, sebagian mahasiswa yang berjasa menggulingkan orde lama diberikan jatah kursi di legislatif oleh rezim. Polemikpun muncul (dan saya perlu menegaskan ini agar menjadi renungan untuk rekan – rekan sekalian) sebagian mahasiswa berpendapat untuk menciptakan pemerintahan yang sehat, adil dan mensejahterakan sudah tentu perlu turun langsung menjadi pemerintah itu sendiri, sebagian lain berpendapat tugas paling dasar sebagai mahasiswa adalah belajar dan menciptakan sebuah gagasan dan produk untuk negara namun tetap mempertahankan kekritisan sebagai stabilisator antara masyarakat dan pemerintah. Kelompok ini kemudian kembali ke kampusnya masing – masing untuk menempuh ilmu setelah orde lama berhasil ditumbangkan. Kalian lebih pilih mana seandainya kalian berada pada dua pilihan tersebut? Tahun 1998 mahasiswa kembali turun ke jalan untuk kembali menggulingkan rezim “jagal” yang berisi para pasukan doreng dan rekan – rekannya sendiri. Berbagai aliansi dari penjuru negeri berkumpul di Jakarta dan sejarah kembali tercipta, orde baru runtuh! reformasi tercipta meskipun banyak korban berjatuhan dari kalangan mahasiswa. Sudah menjadi kewajiban bagi kita bangsa mahasiswa untuk mengenang 13 kakak kita yang menjadi korban kedzaliman rezim “jagal” tersebut.

Lalu apa yang dirasakan mahasiswa kini. Para generasi milenial yang mengenakan jaket almamater apakah masih melanjutkan tradisi untuk ikut andil menciptakan stabilitas nasional? apakah karena kini sudah tidak ada lagi common enemy yang perlu dihantam? saya rasa tidak, jawaban ini melihat dari kondisi fakultas yang makin hari makin miris. Tentu tidak serta merta mereka bisa disalahkan seluruhnya, banyak faktor yang membuat rekan – rekan menjadi seperti itu. Sebelum saya meneruskan, tradisi yang saya maksud bukan hanya untuk turun ke jalan dan menghantam tirani, jauh lebih luas daripada itu tergantung konteks dan zamannya. Beberapa hal mengapa rekan – rekan menjadi seperti ini adalah banyak kebijakan pemerintah yang sebenarnya menjadi beban untuk masyarakat, seperti komersialisasi pendidikan. Undang – undang kita telah mengalami beberapa amandemen dan hasil gubahan tersebut sedikit banyak telah menyimpang dari UUD asli dan pancasila termasuk yang mengatur tenang pendidikan. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 berbunyi “cabang – cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak (termasuk pendidikan) dikuasai oleh negara” kemudian dilanjutkan “dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”. Pasal tersebut dengan jelas mengatakan sumber ekonomi Indonesia haruslah beradasarkan keadilan, terutama pendidikan. Namun amandemen tahun 2002 pasal 33 ayat 4 mengatakan sumber ekonomi penting tersebut dijalankan berdasarkan “efisiensi” berkeadilan. Kata “efisiensi” itulah yang membuat ketidak adilan muncul dalam pendidikan seolah segala sesuatu berdasarkan pada efisiensi. Alih – alih pasal tersebut digunakan sebagai pemerataan pendidikan di seluruh pelosok nusantra, justru malah membuat biaya pendidikan terlampau tinggi. Berapa biaya kuliah rekan – rekan selama 1 semester? beruntunglah bila kalian mendapatkan beasiswa, namun bagaimana yang tidak? Jika dikaitkan dengan pendapatan rata – rata masyarakat Indonesia, apakah masyarakat mampu untuk membayar biaya kuliah anaknya persemester yang menyentuh angka 7 juta rupiah persemester? (saya tidak berbicara tentang orang – orang yang mempunyai banyak uang)

Paradigma masyarakat dewasa ini masih menganggap taraf derajat keluarga bisa terangkat dari jenjang pendidikan. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi dengan harapan bisa menjadi orang sukses dan bekerja yang layak, namun apakah hal itu benar – benar terjadi? Saya sendiri menaruh banyak harapan ketika pertama kali merasakan atmosfer perkuliahan, namun apa yang terjadi selama 6 tahun kuliah ini? saya menyadari saya belum mendapatkan apa yang saya harapkan. Jika kita melihat fenomena peluang lowongan pekerjaan saat ini, berapa jumlah sarjana yang sedang menganggur? berapa jumlah sarjana yang bekerja namun tidak sesuai dengan fokus studinya? kemudian para sarjana mengatakan “daripada ndak dapat pekerjaan mas, rugi orang tua membayar kuliah kami”.  Para sarjana (yang untungnya) menjalani perkuliahan dengan kegiatan – kegiatan kritis dihadapkan pada dua pilihan, mempertahankan idealis atau berdamai dengan kenyataan.

Kembali pada mahasiswa, selain biaya perkuliahan yang tinggi sehingga rekan – rekan harus belajar dengan sungguh – sungguh untuk mengembalikan modal pendidikan kemudian selanjutnya bersaing pada lowongan pekerjaan sebenarnya ada masalah lain yaitu adalah kebijakan kampus. Sebagian kampus mengeluarkan kebijakan tentang batasan untuk menempuh kuliah, jika rekan – rekan menempuh kuliah melebihi batas waktu yang telah ditetukan oleh pihak kampus maka rekan – rekan harus angkat kaki dari kampus dan mencari kampus lain yang menerima. Kebjikakan ini sangatlah tidak berpihak pada mahasiswa. Selain harus membayar biaya pendidikan yang ekstrim, mahasiswa masih dibebani oleh tuntutan untuk menyelesaikan kontrak kuliahnya dengan waktu tertentu. apakah hal tersebut fair? tentu tidak bung.

Kampus juga memiliki aturan yang mengatur mahasiswa untuk berorganisasi seperti adanya BEM, dewan perwakilan mahasiswa, UKM dan himpunan – himpunan yang ada dalam jurusan. Organisasi yang saya sebutkan menjadi denyut nadi mahasiswa. Ormawa tersebut menjadi ujung tombak mahasiswa menyampaikan aspirasinya kepada pihak yang berwenang, bahkan sejarah mencatat ormawa juga menjadi alat untuk menghantam tirani pemerintahan. Alih – alih berfungsi seperti yang sebutkan, ormawa saat ini justru menjadi alat promosi kampus. BEM dan kroninya sibuk dengan acara hura – hura  yang menaikkan gengsi fakultasnya, sibuk dalam acara forum antar fakultas sejenis dan saling menunjukkan bahwa fakultasnyalah yang terbaik. Mahasiswa yang menjabat dalam ormawa dengan bangganya menganggungkan strata mereka, mereka yang lebih dekat dengan dekanat dan rektorat merasa lebih terhormat dari yang lain. Namun tidakkah rekan – rekan menyadari bahwa status anda membuat anda menjadi buruh dalam institusi pendidikan anda? Anda sibuk dengan hingar bingar untuk memajukan fakultas dengan mengorbankan waktu anda dan jerih payah anda dibayar dengan embel – embel “pernah menjabat sebagai…..” dalam portofolio anda. Rekan – rekan yang tergabung dalam ormawa saya ingat kembali, tugas anda adalah mengawal dan menyampaikan aspirasi rekan – rekan mahasiswa anda.  Yang menjadi korban adalah para mahasiswa yang tidak tergabung dalam ormawa, mereka tidak mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasinya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah korban tersebut menyadari bahwa mereka menjadi korban? jawabannya adalah tidak. “Boro – boro mas ngurusi ini itu, tugas kuliah kami sudah menguras pikiran” ucap adik tingkat saya.

Beberapa hal yang telah saya jelaskan inilah yang menjadi faktor terciptanya mahasiswa apatis di fakultas. Mahasiswa sibuk bersolek dan menunggangi kendaraan keluaran terbaru kemudian mencari pasangan, padahal sebagian dari mereka masih menggunakan uang keluarga. Mahasiswa sibuk dengan tugas kuliah berbatas waktu dan lupa akan label mereka menjadi seorang “mahasiswa”.Jika dibiarkan berlarut – larut tentu hal ini bisa mengancam stabilitas negara. Negara ini akan kehilangan para intelektual kritis dalam menanggapi berbagai polemik yang ada, dan rekan – rekan juga akan menghadapi masalah yang sama dengan kakak – kakak yang terlebih dahulu telah lulus yakni menganggur dan berdamai dengan kenyataan. Dalam tulisan ini saya tidak menyuruh rekan – rekan untuk turun ke jalan dan menggedor politik seperti mahasiswa di Sulawesi. Bukan pula menyuruh anda untuk berafilisasi dengan kepentingan politik seperti gabungan ormawa di Jakarta saat ini. Namun yang saya perlu tekankan, apakah rekan – rekan rela menjadi mesin uang untuk pendidikan tinggi? apakah rekan – rekan rela menjadi buruh dalam institusi pendidikan? atau rekan – rekan kemudian menyadari bahwa masih banyak kegelisahan yang sebenarnya kita rasakan dan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga. Jadilah mahasiswa yang progresif !

Jika tulisan ini bermanfaat menurut anda, sebarkan pada tiga rekan mahasiswa yang anda sayangi.

Hidup Mahasiswa !

The Missing link G30S


Sjam Kamaruzzaman bekerja untuk siapa?

Penulis : Agung Dwi Hartanto

Penerbit : Narasi

Barangkali anda sudah mengetahui peristiwa G30S atau yang biasa disebut dengan gestapu. Peristiwa penculikan tujuh jenderal oleh mereka yang mengklaim dirinya akan menyelamatkan negara dari coup dewan jenderal. Dalam pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, diceritakan gerakan tersebut dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia namun apakah benar seperti itu? Mengingat masih banyak yang abu – abu dari peristiwa tersebut, lebih – lebih si pembuat peristiwa tersebut dari rezim orba.

Buku ini mencoba mengulik salah satu tokoh penting dari PKI, Sjam Kamaruzzaman. Sjam adalah orang di departemen organisasi PKI yang kemudian di era Aidit diganti nama menjadi Biro Chusus (BC). Biro Chusus adalah kelompok khusus yang wewenangnya ada di bawah Aidit langsung dan sifatnya rahasia. BC diciptakan untuk menciptakan kader dan memata – matai lawan politik. Di era orde lama intel memang bukan hal yang asing dalam organisasi. Kelak BC ini pulalah yang mensetting peristiwa G30S. Perlu diketahui Aidit merupakan ketua Central Comite (CC) PKI, bersama Lukman, Sudisman dan Njoto di jajaranya. Bersama BC, Sjam menghimpun kekuatan termasuk merekrut petinggi – petinggi TNI AD dan sebagian AU yang progresif revolusioner.

Sjam dilahirkan di Tuban tahun 1924 dan berdarah arab. Sepak terjang Sjam dimulai saat dia berpindah kota menuju Yogyakarta, disana berlatih militer dan kelak bertemu dengan Soeharto atas prestasinya melawan Jepang disana. Selain Soeharto, Sjam juga kenal dengan Wikana dan Sjahrir di Yogyakarta dan mendatangi Pesindo serta PAI. Kelebihan Sjam adalah dirinya bisa diterima di berbagai organisasi dan perkumpulan politik karena Sjam tahu apa saja. Awal bertemu Aidit ketika Sjam menjadi informan Moedigdio, beliau merupakan mertua Aidit dan masih setrah dengan R.A. Kartini. Setelah peristiwa Madiun 48 PKI dan kelompok kiri lainnya kocar – kacir. Moedigdio ditangkap dan dihukum mati. Sjam membantu pelarian Aidit, konon kisah Aidit berada di Vietnam ketika peristiwa Madiun 48 adalah skenario Sjam.

Atas jasanya menyelamatkan Aidit dan keluarganya, Aidit mengajak Sjam untuk bergabung dalam PKI. Tahun 1951 terjadi revitalisasi besar – besaran, Aidit berhasil mengonsolidasi generasi muda PKI dan merebut partai dari kalangan tua, ini merupakan PKI era baru. Di tangan Aidit, PKI berhasil menjelma menjadi partai elit. Kader – kader partai berhasil menduduki jabatan strategis di pemerintahan, PKI menjadi partai yang diperhitungkan. Sampai pada akhirnya isu dewan jenderal merebak, PKI menjadi salah satu khawatir. Kesehatan Soekarno yang kala itu sedang menurun, ditambah Jenderal Yani yang semakin dekat dengan Amerika semakin menguatkan bakal terjadi coup oleh dewan jenderal. Otak cemerlang Sjam dan segala informasinya membuat G30S pun terjadi. Aidit yang kala itu menjabat sebagai ketua CC PKI pun menyerahkan segala sesuatunya kepada Sjam. Sjam pun menjadi otak gerakan 30 september dibantu perwira – perwira progresif yang tidak pro dengan Jenderal Yani.

Dalam buku ini Sjam dianggap sebagai saksi kunci peristiwa berdarah tersebut. keterangan Sjam seharusnya bisa menyambungkan mata rantai yang terputus sampai sekarang. jalan cerita dalam buku ini begitu menarik dan memaparkan fakta yang ada dari berbagai sumber. Sjam dikenal dekat oleh Soeharto, Sjam kenal dengan Sjahrir, Sjam pernah bekerja dengan orang Amerika, bahkan Sjam pernah berada pada satu tempat dengan Soekarno. Siapa sebenarnya Sjam? sampai informasinya di sidang mahkamah militer luar biasa bisa menyeret siapapun untuk dihukum mati. Sejauh apa keterlibatan Sjam pada G30S? sampai kematiannya harus ditunda sampai sekian puluh tahun. bahkan Kolonel Abdul Latief, salah satu hasil kaderisasi BC yang terlibat dalam G30S melihat Sjam masih hidup di tahun 1990. Ada pula yang bilang bahwa Sjam kebal peluru sehingga diistimewakan saat dalam tahanan.

Dan yang paling penting, Sjam bekerja untuk siapa?